Piper Navajo PA-31 terekam satelit Singapura
Minggu, 26 Agustus 2012 - 08:36 WIB
Piper Navajo PA-31 terekam satelit Singapura
A
A
A
Sindonews.com - Pesawat Piper Navajo PA-31 yang hilang di Kalimantan Timur, Jumat 24 Agustus 2012 lalu, belum ditemukan. Kemarin, tim SAR gabungan memfokuskan pencarian di poros Bontang–Sangatta.
Hal itu berdasarkan data satelit dari Singapura yang sempat merekam posisi pesawat bergerak dengan kecepatan sekitar 235 km. "Dari data satelit dari Singapura pukul 14.00 waktu setempat, pesawat dalam posisi moving atau bergerak, belum berhenti. Sisa bahan bakar kira-kira menurut analisis tim tidak jauh dari sana,” jelas Kapolres Samarinda Kombes Pol Arief Prapto di Samarinda, Sabtu 25 Agustus 2012.
Menurutnya, pesawat dinyatakan hilang setelah lebih dari 6 jam karena kemampuan terbang pesawat hanya 6 jam. "Data citra satelit yang kita analisis dan lihat floating map seperti itu ditambah lagi informasi masyarakat seperti itu. Jadi kita fokus pencarian di wilayah jalan poros Bontang-Sangatta," ujarnya.
Pencarian kemarin dimulai di atas jam 09.00 Wita mengingat cuaca di lokasi pencarian masih gerimis. "Kita siapkan dua heli untuk SAR udara. Tim darat juga melakukan penyisiran ke lokasi itu. Tapi untuk SAR udara tunggu cuaca membaik,” imbuhnya.
Pencarian sempat menyulitkan tim SAR di lapangan, karena sinyal pesawat jenis PA31 viper Navajo Chieftain yang diterbangkan Capt Marshal Basir ini dalam keadaan tidak berfungsi.
"Memang keterangan Basarnas pusat bahwa ELT (emergency locator transmitter) tidak berfungsi. Diduga baterai tidak menyala karena ELT bekerja kalau dalam crash (benturan) atau kena air,” ungkapnya.
Namun pencarian tidak mengandalkan ELT di badan pesawat, tetapi berdasarkan data citra satelit dari Singapura dan informasi masyarakat. "Sudah cukup dapat data dari satelit dan didukung informasi masyarakat. Kita mulai lagi pencarian,” jelasnya.
Sebelumnya, ada laporan warga yang melihat pesawat di atas kawasan Gunung Sekerat, Kutai Timur, pada Jumat 24 Agustus 2012 pukul 11.00 Wita. Diketahui, pesawat Piper Navajo PA-31dengan empat penumpang hilang kontak tak lama setelah take off dari Bandara Temindung, Samarinda, Kalimantan Timur, sekira pukul 07.51 Wita.
Empat penumpang pesawat tersebut adalah pilot Capt Marshal Basir, GM Elliott Geophysics International (EGI) Peter John Elliott (berkebangsaan Australia), Officer Manager EGI Jandri Hendrizal, dan security officer dari Kementerian Pertahanan Kapten Suyoto.
Pesawat milik maskapai penerbangan PT Intan Angkasa ini disewa EGI untuk survei pemetaan di wilayah areal pertambangan PT Tambang Damai Bontang, Kota Bontang, selama empat jam. Cessna CNPKIWH dijadwalkan kembali ke Bandara Temindung sekitar pukul 12.00 Wita. Pihak Bandara Bontang terakhir kontak pukul 08.11 Wita.
Sementara itu Kodam VI Mulawarman menyiagakan helikopter MI-17. "Sekarang ini helikopter standby di Tarakan. Tapi sebentar lagi akan distandby-kan di Temindung (Samarinda) untuk membantu evakuasi,” ujar Dandim Samarinda, Letkol Inf Junaidi, di Bandara Temindung.
Helikopter MI-17 ini mampu mengangkut penumpang hingga 35 orang. Sehari-hari helikopter ini rutin melakukan pengawasan dan penjagaan daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Hal itu berdasarkan data satelit dari Singapura yang sempat merekam posisi pesawat bergerak dengan kecepatan sekitar 235 km. "Dari data satelit dari Singapura pukul 14.00 waktu setempat, pesawat dalam posisi moving atau bergerak, belum berhenti. Sisa bahan bakar kira-kira menurut analisis tim tidak jauh dari sana,” jelas Kapolres Samarinda Kombes Pol Arief Prapto di Samarinda, Sabtu 25 Agustus 2012.
Menurutnya, pesawat dinyatakan hilang setelah lebih dari 6 jam karena kemampuan terbang pesawat hanya 6 jam. "Data citra satelit yang kita analisis dan lihat floating map seperti itu ditambah lagi informasi masyarakat seperti itu. Jadi kita fokus pencarian di wilayah jalan poros Bontang-Sangatta," ujarnya.
Pencarian kemarin dimulai di atas jam 09.00 Wita mengingat cuaca di lokasi pencarian masih gerimis. "Kita siapkan dua heli untuk SAR udara. Tim darat juga melakukan penyisiran ke lokasi itu. Tapi untuk SAR udara tunggu cuaca membaik,” imbuhnya.
Pencarian sempat menyulitkan tim SAR di lapangan, karena sinyal pesawat jenis PA31 viper Navajo Chieftain yang diterbangkan Capt Marshal Basir ini dalam keadaan tidak berfungsi.
"Memang keterangan Basarnas pusat bahwa ELT (emergency locator transmitter) tidak berfungsi. Diduga baterai tidak menyala karena ELT bekerja kalau dalam crash (benturan) atau kena air,” ungkapnya.
Namun pencarian tidak mengandalkan ELT di badan pesawat, tetapi berdasarkan data citra satelit dari Singapura dan informasi masyarakat. "Sudah cukup dapat data dari satelit dan didukung informasi masyarakat. Kita mulai lagi pencarian,” jelasnya.
Sebelumnya, ada laporan warga yang melihat pesawat di atas kawasan Gunung Sekerat, Kutai Timur, pada Jumat 24 Agustus 2012 pukul 11.00 Wita. Diketahui, pesawat Piper Navajo PA-31dengan empat penumpang hilang kontak tak lama setelah take off dari Bandara Temindung, Samarinda, Kalimantan Timur, sekira pukul 07.51 Wita.
Empat penumpang pesawat tersebut adalah pilot Capt Marshal Basir, GM Elliott Geophysics International (EGI) Peter John Elliott (berkebangsaan Australia), Officer Manager EGI Jandri Hendrizal, dan security officer dari Kementerian Pertahanan Kapten Suyoto.
Pesawat milik maskapai penerbangan PT Intan Angkasa ini disewa EGI untuk survei pemetaan di wilayah areal pertambangan PT Tambang Damai Bontang, Kota Bontang, selama empat jam. Cessna CNPKIWH dijadwalkan kembali ke Bandara Temindung sekitar pukul 12.00 Wita. Pihak Bandara Bontang terakhir kontak pukul 08.11 Wita.
Sementara itu Kodam VI Mulawarman menyiagakan helikopter MI-17. "Sekarang ini helikopter standby di Tarakan. Tapi sebentar lagi akan distandby-kan di Temindung (Samarinda) untuk membantu evakuasi,” ujar Dandim Samarinda, Letkol Inf Junaidi, di Bandara Temindung.
Helikopter MI-17 ini mampu mengangkut penumpang hingga 35 orang. Sehari-hari helikopter ini rutin melakukan pengawasan dan penjagaan daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.
(lil)