PKS dinilai buktikan komitmen koalisi
Kamis, 16 Agustus 2012 - 10:01 WIB
PKS dinilai buktikan komitmen koalisi
A
A
A
Sindonews.com - Dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada pasangan Fauzi Bowo- Nachrowi Ramli (Foke-Nara) di Pilkada DKI Jakarta dinilai sebagai pembuktian bahwa parpol ini masih comitted pada Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Saan Mustopa mengatakan, pihaknya sangat menghargai sikap PKS. Menurut dia, sikap PKS ini semakin menguatkan jalannya pemerintahan yang ditopang koalisi enam parpol hingga dua tahun ke depan.
“Pilkada DKI Jakarta menjadi ujian nyata bagi soliditas koalisi pendukung pemerintahan saat ini.Hal ini juga menjadi simbol dan modal politik yang berarti bagi koalisi menghadapi Pemilu 2014 dan pemilihan presiden,” tegas Saan di Jakarta kemarin.
Diberitakan sebelumnya, PKS akhirnya memastikan dukungan mereka kepada pasangan Foke-Nara setelah kandidatnya, Hidayat Nurwahid, kalah pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.
Koalisi pendukung Foke-Nara kini terdiri atas enam parpol pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Partai Demokrat,Partai Golkar, PAN, PKB, PKS, PPP, plus Partai Hanura.
Adapun pasangan lainnya, Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi- Ahok), hanya didukung PDIP dan Partai Gerindra yang di tingkat nasional pun mengambil posisi oposisi.
Sementara itu, Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo mengemukakan, pilkada dan pilpres memiliki corak politik yang berbeda. Dinamika politik di setiap daerah tidak bisa disamakan dengan dinamika di tingkat nasional.
“Di samping itu,faktor figur juga sangat menentukan. Hanya saja, karakter DKI Jakarta sebagai ibu kota negara dan daerah yang sangat majemuk membuat kepentingan politik dan aspek lain menjadi lebih kuat dinamikanya,” ujar Tjahjo.
Di tempat terpisah, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten DPP PKS Yudi Widiana Adia memastikan seluruh jajaran pengurus dan kader solid mendukung Foke-Nara. Meski begitu, dia tidak menampik bahwa jumlah pemilih mengambang di PKS cukup banyak.
“Kalau sikap ini dikaitkan dengan pandangan konstituen PKS dengan posisi kami di koalisi tingkat nasional, ya semoga membawa dampak positif bagi akar rumput,” katanya.
Di tempat terpisah, Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampouw berpandangan, karakter PKS justru semakin pragmatis dengan sikapnya yang mendukung Foke-Nara. Jeirry mengingatkan, PKS dan kandidat gubernurnya pada putaran pertama Pilkada DKI, Hidayat Nurwahid, beberapa kali mengkritik sejumlah kebijakan Foke.
Menurut dia, sikap PKS ini sebenarnya sudah bisa ditebak sejak awal. Jokowi-Ahok pasti menampik tawaran PKS karena pasangan dari PDIP-Partai Gerindra ini tidak akan bersedia mengeluarkan biaya apapun sebagai mahar dukungan.
Berbeda dengan Foke-Nara yang memang mencari dukungan partai sebanyak-banyaknya. Karena itu, kata Jeirry, bisa jadi pasangan ini bersedia membayar ongkos mahar untuk dukungan tersebut yang akhirnya menjelma menjadi “koalisi gajah”.
“Jadi jelas ada pragmatisme dari elite politik PKS sehingga mereka mendukung Foke-Nara dan melupakan luka masa lalu mereka terhadap Foke. Ini jelas karena dari apa yang terjadi selama ini, pasangan Jokowi-Ahok hanya bersedia memberi mahar kepada massa dengan ungkapan ‘koalisi rakyat’,” terang Jeirry.
Dia mengatakan, koalisi pendukung pemerintah saat ini memang sudah memiliki kepentingan dengan Pilkada DKI. Partai-partai koalisi menunjukkan kekhawatiran apabila kepemimpinan di Ibu Kota jatuh ke tangan partai oposisi yang dimotori PDIP dan Gerindra
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Saan Mustopa mengatakan, pihaknya sangat menghargai sikap PKS. Menurut dia, sikap PKS ini semakin menguatkan jalannya pemerintahan yang ditopang koalisi enam parpol hingga dua tahun ke depan.
“Pilkada DKI Jakarta menjadi ujian nyata bagi soliditas koalisi pendukung pemerintahan saat ini.Hal ini juga menjadi simbol dan modal politik yang berarti bagi koalisi menghadapi Pemilu 2014 dan pemilihan presiden,” tegas Saan di Jakarta kemarin.
Diberitakan sebelumnya, PKS akhirnya memastikan dukungan mereka kepada pasangan Foke-Nara setelah kandidatnya, Hidayat Nurwahid, kalah pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.
Koalisi pendukung Foke-Nara kini terdiri atas enam parpol pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Partai Demokrat,Partai Golkar, PAN, PKB, PKS, PPP, plus Partai Hanura.
Adapun pasangan lainnya, Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi- Ahok), hanya didukung PDIP dan Partai Gerindra yang di tingkat nasional pun mengambil posisi oposisi.
Sementara itu, Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo mengemukakan, pilkada dan pilpres memiliki corak politik yang berbeda. Dinamika politik di setiap daerah tidak bisa disamakan dengan dinamika di tingkat nasional.
“Di samping itu,faktor figur juga sangat menentukan. Hanya saja, karakter DKI Jakarta sebagai ibu kota negara dan daerah yang sangat majemuk membuat kepentingan politik dan aspek lain menjadi lebih kuat dinamikanya,” ujar Tjahjo.
Di tempat terpisah, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten DPP PKS Yudi Widiana Adia memastikan seluruh jajaran pengurus dan kader solid mendukung Foke-Nara. Meski begitu, dia tidak menampik bahwa jumlah pemilih mengambang di PKS cukup banyak.
“Kalau sikap ini dikaitkan dengan pandangan konstituen PKS dengan posisi kami di koalisi tingkat nasional, ya semoga membawa dampak positif bagi akar rumput,” katanya.
Di tempat terpisah, Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampouw berpandangan, karakter PKS justru semakin pragmatis dengan sikapnya yang mendukung Foke-Nara. Jeirry mengingatkan, PKS dan kandidat gubernurnya pada putaran pertama Pilkada DKI, Hidayat Nurwahid, beberapa kali mengkritik sejumlah kebijakan Foke.
Menurut dia, sikap PKS ini sebenarnya sudah bisa ditebak sejak awal. Jokowi-Ahok pasti menampik tawaran PKS karena pasangan dari PDIP-Partai Gerindra ini tidak akan bersedia mengeluarkan biaya apapun sebagai mahar dukungan.
Berbeda dengan Foke-Nara yang memang mencari dukungan partai sebanyak-banyaknya. Karena itu, kata Jeirry, bisa jadi pasangan ini bersedia membayar ongkos mahar untuk dukungan tersebut yang akhirnya menjelma menjadi “koalisi gajah”.
“Jadi jelas ada pragmatisme dari elite politik PKS sehingga mereka mendukung Foke-Nara dan melupakan luka masa lalu mereka terhadap Foke. Ini jelas karena dari apa yang terjadi selama ini, pasangan Jokowi-Ahok hanya bersedia memberi mahar kepada massa dengan ungkapan ‘koalisi rakyat’,” terang Jeirry.
Dia mengatakan, koalisi pendukung pemerintah saat ini memang sudah memiliki kepentingan dengan Pilkada DKI. Partai-partai koalisi menunjukkan kekhawatiran apabila kepemimpinan di Ibu Kota jatuh ke tangan partai oposisi yang dimotori PDIP dan Gerindra
(lns)