Kampanye SARA jadi bumerang Foke-Nara
Selasa, 14 Agustus 2012 - 18:09 WIB
Kampanye SARA jadi bumerang Foke-Nara
A
A
A
Sindonews.com - Budayawan Betawi Ridwan Saidi menilai kampanye Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) yang diusung oleh pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) terhadap Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan kontraproduktif dan justru menjadi bumerang bagi pasangan itu. Menurutnya, mengusung isu SARA hanya akan memperburuk risiko politik yang akan didapat kubu Foke-Nara.
"Nanti warga ujungnya takut Foke jadi gubernur syariah. Itu otomatis dari sejak awal saya melihat demikian. Kita tak bisa salahkan warga, karena hal demikian akan otomatis muncul di pikiran warga," kata Ridwan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/8/2012).
Ridwan memperkirakan hanya 16 persen dari warga Indonesia yang merupakan pemilih Islam ideologis, dan bahkan diprediksi turun hingga 10 persen di Pemilu 2014 mendatang.
"Saya yakin di putaran dua, 63,5 persen pemilih akan ke Jokowi-Basuki, sekitar 36,5 persen ke Foke. Kenapa? Karena dia gunakan isu SARA yang mempersempit hitungan untuk dirinya sendiri. Islam ideologis itu cuma 16 persen di Indonesia dan cenderung merosot. Orang takut ada gubernur syariah," tandasnya.
Ridwan menambahkan empat persen tambahan suara ke Foke-Nara adalah bonus dari penggemar gubernur syariah. Ridwan menilai ada beberapa faktor lainnya, di luar SARA, yang mendukung prediksinya tersebut.
Sementara itu, terkait aksi Foke-Nara yang mengakuisisi elit partai-partai besar, menurutnya, juga takkan berpengaruh bagi perolehan suara pasangan itu. Hal itu karena mesin PPP dan Golkar yang mengusung Alex-Nono di putaran pertama tidak berjalan dengan baik sehingga perolehan suara pasangan itu sangat rendah. Bahkan pasangan itu hanya sanggup menempatkan saksi di 6.000 TPS saja.
Sementara Partai Demokrat, seperti diakui tokoh-tokohnya, memiliki elektabilitas yang merosot tajam, karena kasus korupsi yang melibatkan kadernya.
Menyinggung soal merapatnya PKS ke pasangan Foke-Nara di putaran kedua, Ridwan meyakini hanya sekitar 100 ribu yang akan mampu dibawa mendukung Foke-Nara
Pasalnya, dari 500 ribu suara ke Hidayat-Didik pada putaran pertama, kebanyakan adalah warga Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyukai sosok Didik Rachbini, yang merupakan kader partai itu.
"Jadi PKS itu tak besar memberi sumbangan suara di putaran I. Paling dari 500 ribu pemilih mereka di putaran I, mereka cuma bisa menggiring 100 ribu pemilihnya ke Foke," tandasnya.
Dia menilai harus diperhatikan parpol-parpol yang ada di kubu Foke sangat jelas mengeroyok pasangan Jokowi-Ahok. "Ini malah akan menimbulkan simpati pada yang dikeroyok yakni Jokowi-Ahok," pungkasnya.
"Nanti warga ujungnya takut Foke jadi gubernur syariah. Itu otomatis dari sejak awal saya melihat demikian. Kita tak bisa salahkan warga, karena hal demikian akan otomatis muncul di pikiran warga," kata Ridwan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/8/2012).
Ridwan memperkirakan hanya 16 persen dari warga Indonesia yang merupakan pemilih Islam ideologis, dan bahkan diprediksi turun hingga 10 persen di Pemilu 2014 mendatang.
"Saya yakin di putaran dua, 63,5 persen pemilih akan ke Jokowi-Basuki, sekitar 36,5 persen ke Foke. Kenapa? Karena dia gunakan isu SARA yang mempersempit hitungan untuk dirinya sendiri. Islam ideologis itu cuma 16 persen di Indonesia dan cenderung merosot. Orang takut ada gubernur syariah," tandasnya.
Ridwan menambahkan empat persen tambahan suara ke Foke-Nara adalah bonus dari penggemar gubernur syariah. Ridwan menilai ada beberapa faktor lainnya, di luar SARA, yang mendukung prediksinya tersebut.
Sementara itu, terkait aksi Foke-Nara yang mengakuisisi elit partai-partai besar, menurutnya, juga takkan berpengaruh bagi perolehan suara pasangan itu. Hal itu karena mesin PPP dan Golkar yang mengusung Alex-Nono di putaran pertama tidak berjalan dengan baik sehingga perolehan suara pasangan itu sangat rendah. Bahkan pasangan itu hanya sanggup menempatkan saksi di 6.000 TPS saja.
Sementara Partai Demokrat, seperti diakui tokoh-tokohnya, memiliki elektabilitas yang merosot tajam, karena kasus korupsi yang melibatkan kadernya.
Menyinggung soal merapatnya PKS ke pasangan Foke-Nara di putaran kedua, Ridwan meyakini hanya sekitar 100 ribu yang akan mampu dibawa mendukung Foke-Nara
Pasalnya, dari 500 ribu suara ke Hidayat-Didik pada putaran pertama, kebanyakan adalah warga Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyukai sosok Didik Rachbini, yang merupakan kader partai itu.
"Jadi PKS itu tak besar memberi sumbangan suara di putaran I. Paling dari 500 ribu pemilih mereka di putaran I, mereka cuma bisa menggiring 100 ribu pemilihnya ke Foke," tandasnya.
Dia menilai harus diperhatikan parpol-parpol yang ada di kubu Foke sangat jelas mengeroyok pasangan Jokowi-Ahok. "Ini malah akan menimbulkan simpati pada yang dikeroyok yakni Jokowi-Ahok," pungkasnya.
(mhd)