Deportasi WN Iran, alasan kesehatan bukan kendala

Deportasi WN Iran, alasan kesehatan bukan kendala
A
A
A
Sindonews.com - Imigrasi Bali akan mendeportasi Foroughin Monteza Baratali (25) Warga Negara (WN) Iran yang sempat meloncat dari pesawat di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, tanpa harus menunggu dirinya pulih dari sakit.
Pasca aksi nekatnya, hingga kini Baratali masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bali International Medical Center (RS BIMC) Kuta, akibat luka patah tulang yang dialami saat meloncat dari pesawat Sabtu 4 Agustus 2012 malam.
"Yang bersangkutan tetap akan kami deportasi secepatnya, tanpa harus menunggu sampai kondisinya benar-benar sehat," kata Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kadivmin Kemenkum HAM) Provinsi Bali, MJ Maroloan Baringbing saat dihubungi, Senin (6/8/2012).
Langkah itu harus dilakukan, karena pihaknya tidak mungkin menunggu terlalu lama atas tindak pelanggaran keimigrasian yang dilakukan Baratali.
Jika sampai menunggu kondisinya benar-benar sehat, bisa memakan waktu lama. Maka itu pihaknya akan meminta hasil rekam medis dokter sebagai dasar kebijakan deportasi.
"Kita akan meminta hasil rekam medis dokter untuk dasar deportasi," kata mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Dirjen Imigrasi ini.
Baringbing menegaskan, alasan deportasi karena berbagai pelanggaran keimigrasian saat tiba di Bali. Dari pemeriksaan dokumen paspor diketahui, ada beberapa syarat yang tidak dipenuhinya untuk bisa tinggal di Indonesia, sehingga harus dideportasi.
"Baratali memiliki izin tinggal cukup lama padahal yang bersangkutan statusnya memegang visa kunjungan atau sebagai wisatawan yang berlibur ke Bali," terangnya.
Lantas bagaimana bisa lolos ke Bali, Baringbing mengatakan, bukan wilayahnya untuk memberi klarifikasi. Yang pasti, setiap negara memiliki prosedur dan ketentuan sendiri sehingga pelanggaran tersebut menjadi wewenang negara asal untuk memprosesnya.
"Kewenangan kami segera mendeportasi, karena ada pelanggaran keimigrasiannya saat datang ke Bali," tandasnya.
Seperti diketahui, pada Sabtu 4 Agustus 2012 sekira pukul 22.00 WITA, Baratoli yang tiba di Bali dengan pesawat Qatar Air, nekat melompat dari pesawat saat hendak dideportasi ke negaranya.
Akibatnya tulang belakang bagian bawah, tulang belikat kiri, tulang pinggul dekat kemaluan patah. Setelah kejadian itu, yang bersangkutan dirawat intensif di rumah sakit BIMC.
Pasca aksi nekatnya, hingga kini Baratali masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bali International Medical Center (RS BIMC) Kuta, akibat luka patah tulang yang dialami saat meloncat dari pesawat Sabtu 4 Agustus 2012 malam.
"Yang bersangkutan tetap akan kami deportasi secepatnya, tanpa harus menunggu sampai kondisinya benar-benar sehat," kata Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kadivmin Kemenkum HAM) Provinsi Bali, MJ Maroloan Baringbing saat dihubungi, Senin (6/8/2012).
Langkah itu harus dilakukan, karena pihaknya tidak mungkin menunggu terlalu lama atas tindak pelanggaran keimigrasian yang dilakukan Baratali.
Jika sampai menunggu kondisinya benar-benar sehat, bisa memakan waktu lama. Maka itu pihaknya akan meminta hasil rekam medis dokter sebagai dasar kebijakan deportasi.
"Kita akan meminta hasil rekam medis dokter untuk dasar deportasi," kata mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Dirjen Imigrasi ini.
Baringbing menegaskan, alasan deportasi karena berbagai pelanggaran keimigrasian saat tiba di Bali. Dari pemeriksaan dokumen paspor diketahui, ada beberapa syarat yang tidak dipenuhinya untuk bisa tinggal di Indonesia, sehingga harus dideportasi.
"Baratali memiliki izin tinggal cukup lama padahal yang bersangkutan statusnya memegang visa kunjungan atau sebagai wisatawan yang berlibur ke Bali," terangnya.
Lantas bagaimana bisa lolos ke Bali, Baringbing mengatakan, bukan wilayahnya untuk memberi klarifikasi. Yang pasti, setiap negara memiliki prosedur dan ketentuan sendiri sehingga pelanggaran tersebut menjadi wewenang negara asal untuk memprosesnya.
"Kewenangan kami segera mendeportasi, karena ada pelanggaran keimigrasiannya saat datang ke Bali," tandasnya.
Seperti diketahui, pada Sabtu 4 Agustus 2012 sekira pukul 22.00 WITA, Baratoli yang tiba di Bali dengan pesawat Qatar Air, nekat melompat dari pesawat saat hendak dideportasi ke negaranya.
Akibatnya tulang belakang bagian bawah, tulang belikat kiri, tulang pinggul dekat kemaluan patah. Setelah kejadian itu, yang bersangkutan dirawat intensif di rumah sakit BIMC.
(mhd)