Gara-gara bebek, warga blokir jembatan
Senin, 06 Agustus 2012 - 10:29 WIB
Gara-gara bebek, warga blokir jembatan
A
A
A
Sindonews.com - Warga sekitar jembatan alternatif darurat di Kampung Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Waingapu, Sumba Timur, malam kemarin hingga Senin (6/8/2012) pagi tadi memblokir jembatan dari segala aktivitas. Penyebabnya adalah 3 ekor bebek yang mati ditabrak pengendara motor.
Sejumlah warga yang ditemui tadi mengakui adanya pemblokiran jembatan tersebut. Sejak semalam hingga pagi tadi jembatan darurat itu ditutup. Pemilik bebek kesal dengan oknum pengendara motor yang tidak menghormati warga yang halamannya dipakai melintas.
"Bagaimana tidak marah, ada pengendara motor tabrak tiga ekor bebek warga, tapi lari terus tidak pedulikan kerugian warga,” jelas Ama Nai Eti dan Ama Esti, warga sekitar jembatan Ampera Kalu, kepada wartawan, Senin (6/12/2012).
Namun setelah dilakukan pendekatan secara kekeluargaan oleh para tokoh masyarakat setempat, akhirnya jembatan ini kembali dibuka dan digunakan warga sebagaimana biasanya.
Peristiwa serupa juga terjadi di jembatan darurat di Payeti. Warga menutup akses dari dan ke jembatan ini sejak Minggu 5 Agustus 2012 hingga sekarang.
Warga kesal sejak jembatan utama dibongkar banyak hewan ternak yang hilang. Akibat ditutupnya akses dari dan ke jembatan ini, sejumlah warga mengaku harus memutar agak jauh.
"Biasanya kalau saya dan anak sekolah ke kantor lewat sini, paling hanya 10 menit jalan kaki. Sekarang, kalau sudah tutup, kami harus putar lewat jalan Wangga lagi, tambah biaya ojek dan makan waktu banyak,” jelas Lili.
Sejumlah warga yang ditemui tadi mengakui adanya pemblokiran jembatan tersebut. Sejak semalam hingga pagi tadi jembatan darurat itu ditutup. Pemilik bebek kesal dengan oknum pengendara motor yang tidak menghormati warga yang halamannya dipakai melintas.
"Bagaimana tidak marah, ada pengendara motor tabrak tiga ekor bebek warga, tapi lari terus tidak pedulikan kerugian warga,” jelas Ama Nai Eti dan Ama Esti, warga sekitar jembatan Ampera Kalu, kepada wartawan, Senin (6/12/2012).
Namun setelah dilakukan pendekatan secara kekeluargaan oleh para tokoh masyarakat setempat, akhirnya jembatan ini kembali dibuka dan digunakan warga sebagaimana biasanya.
Peristiwa serupa juga terjadi di jembatan darurat di Payeti. Warga menutup akses dari dan ke jembatan ini sejak Minggu 5 Agustus 2012 hingga sekarang.
Warga kesal sejak jembatan utama dibongkar banyak hewan ternak yang hilang. Akibat ditutupnya akses dari dan ke jembatan ini, sejumlah warga mengaku harus memutar agak jauh.
"Biasanya kalau saya dan anak sekolah ke kantor lewat sini, paling hanya 10 menit jalan kaki. Sekarang, kalau sudah tutup, kami harus putar lewat jalan Wangga lagi, tambah biaya ojek dan makan waktu banyak,” jelas Lili.
(ysw)