Isu SARA akibat kegusaran salah satu cagub
Minggu, 05 Agustus 2012 - 10:10 WIB
Isu SARA akibat kegusaran salah satu cagub
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Politik Siti Zuhro menilai, adanya isu Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) karena adanya kegusaran dari salah satu calon gubernur (cagub) dalam menghadapi Pemilihan Gubernur (Pilgub) putaran II.
Isu SARA yang dimainkan menjelang Pilgub DKI putaran kedua kian terasa. Bahkan, isu tersebut dilontarkan oleh pemuka agama yang seharusnya menjadi penjaga kerukunan umat beragama.
Menurut Siti Zuhro, berhembusnya isu SARA yang dialamatkan kepada kubu Jokowi-Ahok karena ada faktor pendorong pasangan cagub Foke-Nara untuk dapat menumbangkan rivalnya.
“Bagi pasangan Foke-Nara, kekalahannya di putaran pertama menimbulkan kegusaran tersendiri, baik elitnya maupun pendukungnya. Kegusaran inilah yang membuat da'i seperti Rhoma Irama menyampaikan pernyataan yang bersifat SARA,“ kata Siti kepada Sindonews, Minggu 5/8/2012.
Peneliti dari LIPI tersebut juga beranggapan, isu yang berkembang di pilkada putaran kedua berbeda dengan putaran pertama. Hal tersebut karena calon yang cukup banyak.
“Banyaknya calon di putaran pertama berpengaruh terhadap isu yang diangkat. Putaran pertama merupakan babak penyisihan. Sedangkan putaran kedua menyisakan dua pasangan calon, yang akan saling berhadapan,“ jelasnya.
Namun, Siti sangat menyayangkan tindakan SARA yang telah dilakukan oleh pedangdut senior Rhoma Irama.
Pasalnya, isu tersebut sangatlah tidak etis untuk dibawa ke dalam ranah manapun karena riskan akan terjadinya perpecahan umat beragama.
“Apa pun alasannya, isu SARA tidak perlu ditonjolkan menjadi komoditi politik karena ini bisa menyulut pertentangan. Karena itu, tidak etis, tidak elok dan tidak bisa dipertanggungjawabkan mengangkat isu SARA yang cenderung mengundang resistensi, kontroversi dan sensitivitas warga,“ tandasnya.
Isu SARA yang dimainkan menjelang Pilgub DKI putaran kedua kian terasa. Bahkan, isu tersebut dilontarkan oleh pemuka agama yang seharusnya menjadi penjaga kerukunan umat beragama.
Menurut Siti Zuhro, berhembusnya isu SARA yang dialamatkan kepada kubu Jokowi-Ahok karena ada faktor pendorong pasangan cagub Foke-Nara untuk dapat menumbangkan rivalnya.
“Bagi pasangan Foke-Nara, kekalahannya di putaran pertama menimbulkan kegusaran tersendiri, baik elitnya maupun pendukungnya. Kegusaran inilah yang membuat da'i seperti Rhoma Irama menyampaikan pernyataan yang bersifat SARA,“ kata Siti kepada Sindonews, Minggu 5/8/2012.
Peneliti dari LIPI tersebut juga beranggapan, isu yang berkembang di pilkada putaran kedua berbeda dengan putaran pertama. Hal tersebut karena calon yang cukup banyak.
“Banyaknya calon di putaran pertama berpengaruh terhadap isu yang diangkat. Putaran pertama merupakan babak penyisihan. Sedangkan putaran kedua menyisakan dua pasangan calon, yang akan saling berhadapan,“ jelasnya.
Namun, Siti sangat menyayangkan tindakan SARA yang telah dilakukan oleh pedangdut senior Rhoma Irama.
Pasalnya, isu tersebut sangatlah tidak etis untuk dibawa ke dalam ranah manapun karena riskan akan terjadinya perpecahan umat beragama.
“Apa pun alasannya, isu SARA tidak perlu ditonjolkan menjadi komoditi politik karena ini bisa menyulut pertentangan. Karena itu, tidak etis, tidak elok dan tidak bisa dipertanggungjawabkan mengangkat isu SARA yang cenderung mengundang resistensi, kontroversi dan sensitivitas warga,“ tandasnya.
(ysw)