Banyak pilihan, angka golput diprediksi turun
Sabtu, 07 Juli 2012 - 14:24 WIB
Banyak pilihan, angka golput diprediksi turun
A
A
A
Sindonews.com - Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyaknya pasangan calon yang bertarung. Masyarakat jadi punya banyak pilihan calon yang akan dipercaya memimpin Jakarta dalam tempo lima tahun ke depan.
Koordinator Divisi Politik dan Korupsi ICW Abdullah Dahlan mengatakan, banyaknya pilihan dalam Pilgub DKI dapat menekan angka golongan putih (Golput). Untuk itu dia pesimis jika angka golput dalam pemungutan suara yang akan digelar 11 Juli 2012 mendatang akan meningkat dari tahun sebelumnya.
"Kami pesimis nilai golput akan meningkat," ujar Dahlan ditemui dalam diskusi polemik Sindo Radio, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7/2012).
Kendati begitu, dia mengaku tidak menutup kemungkinan ada masyarakat yang berniat untuk tidak memilih. Hal itu dirasa wajar mengingat kekecewaan masyarakat yang masih cukup besar terhadap janji kampanye gubernur sebelumnya tak pernah ditepati. "Dari kelas menengah ke atas, ini bisa di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan," terangnya.
Dia menambahkan, sikap apatisme masyarakat muncul karena beberapa sebab. Diantaranya adalah kemacetan lalu lintas yang tidak kunjung selesai, bahkan semakin meningkat. Selain itu, gagasan yang dibawa oleh calon gubernur dan wakilnya dinilai kurang masuk akan untuk menyelesaikan setumpuk masalah di Ibu Kota ini.
"Mereka memang apatis pada proses sekarang yang terjadi dan mungkin juga ide-ide yang disampaikan kandidat tidak ada yang baru juga," pungkasnya.
Koordinator Divisi Politik dan Korupsi ICW Abdullah Dahlan mengatakan, banyaknya pilihan dalam Pilgub DKI dapat menekan angka golongan putih (Golput). Untuk itu dia pesimis jika angka golput dalam pemungutan suara yang akan digelar 11 Juli 2012 mendatang akan meningkat dari tahun sebelumnya.
"Kami pesimis nilai golput akan meningkat," ujar Dahlan ditemui dalam diskusi polemik Sindo Radio, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7/2012).
Kendati begitu, dia mengaku tidak menutup kemungkinan ada masyarakat yang berniat untuk tidak memilih. Hal itu dirasa wajar mengingat kekecewaan masyarakat yang masih cukup besar terhadap janji kampanye gubernur sebelumnya tak pernah ditepati. "Dari kelas menengah ke atas, ini bisa di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan," terangnya.
Dia menambahkan, sikap apatisme masyarakat muncul karena beberapa sebab. Diantaranya adalah kemacetan lalu lintas yang tidak kunjung selesai, bahkan semakin meningkat. Selain itu, gagasan yang dibawa oleh calon gubernur dan wakilnya dinilai kurang masuk akan untuk menyelesaikan setumpuk masalah di Ibu Kota ini.
"Mereka memang apatis pada proses sekarang yang terjadi dan mungkin juga ide-ide yang disampaikan kandidat tidak ada yang baru juga," pungkasnya.
(san)