Cagub independen bentuk perlawanan terhadap parpol

Selasa, 19 Juni 2012 - 18:44 WIB
Cagub independen bentuk...
Cagub independen bentuk perlawanan terhadap parpol
A A A
Sindonews.com - Partai politik (parpol) tengah dilanda persoalan serius, mulai dari kecenderungan bergaya oligarki, elitis, serta terjebak pada korupsi akut.

Maka itu, kehadiran calon gubernur (cagub) dari jalur independen dalam meramaikan bursa Pemilihan Gubernur (Pilgub) bisa jadi sebagai bentuk radikalisasi politik terhadap karakter parpol yang cenderung korup.

Cagub bisa sebagai alternatif mengatasi stagnasi politik, menjebol kebuntuan oligarki, dan manipulasi politik representasi.

“Cagub independen adalah bagian dari radikalisasi politik ketika struktur politik konvensional yang diselenggarakan oleh demokrasi prosedural yang diperankan oleh representasi politik seperti partai itu tidak mendorong upaya-upaya inovasi dan pembaruan pada demokrasi,” ujar Pengamat Politik dari Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Djito dalam diskusi bertema “Mencari Calon Pilihan Rakyat, Antara Independen dan Partai Politik” di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (19/6/2012).

Jadi, jika Jakarta tidak melihat peluang Pilgub sebagai arus baru untuk perubahan, maka lima tahun lagi Jakarta akan terjebak pada situasi sama, bahkan akan mengalami decline.

Dan apabila eksperimen radikalisasi politik itu bisa dilakukan di Jakarta, maka akan bisa dijadikan barometer bagi daerah-daerah lain untuk bisa membenahi dua hal.

“Pertama, ini teguran bagi partai yang selama ini terjadi distrust pada pemilih partai politik. Yang kedua, partai-partai itu harus segera membenahi diri, melakukan reformasi. Parpol saat ini kian konservatif, enggan memperbaiki situasi tata kelola organisasinya,”ungkapnya.

Dia juga menilai cagub Faisal Basri dari independen sebagai sosok yang berani mengambil sikap mengolah kejenuhan politik menjadi terobosan baru.

Faisal Basri, menurut Arie, memiliki integritas, kejujuran, keberanian, dan reputasi politik leadership yang cukup kuat.

“Tapi Faisal Basri akan menghadapi situasi di mana banyak bandar politik yang mengitari partai dan ini tidak mudah dihilangkan. Tapi, optimisme untuk melakukan pembelajaran sejarah itu jauh lebih penting dibandingkan dengan takluk terhadap sejarah yang pragmatis,”imbuhnya.(lin)
()
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
38 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
1 jam yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
2 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
2 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
2 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
Kekerasan Seksual terhadap...
Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Korut Memprihatinkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved