Cerita Pagi

Cerita Kerajaan Bagelen yang Pernah Berdiri di Purworejo

loading...
Cerita Kerajaan Bagelen yang Pernah Berdiri di Purworejo
Cerita Kerajaan Bagelen yang Pernah Berdiri di Purworejo
PADA pertengahan Januari 2020 lalu, masyarakat dihebohkan dengan kemunculan kerajaan baru bernama Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayang, Kabupaten Purworejo. Kerajaan yang dipimpin Raja Totok Santoso Hadiningrat (Toto Santoso) dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja (Fanni Aminadia) itu mengklaim memiliki wilayah kekuasaan di seluruh dunia. Keduanya kini harus berurusan dengan hukum lantaran pendirian Keraton Agung Sejagat ternyata bertujuan untuk mengumpulkan uang dari para pengikutnya.

Dahulu kala, di Bagelen, Purworejo memang pernah berdiri sebuah kerajaan yang didirikan oleh Sri Sanjaya sekitar abad VI. Sanjaya adalah keponakan Raja Sanna, pemimpin negeri Yawadwipa yang gemah ripah lohjinawi. Negeri ini konon kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. Sanjaya juga keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna Raja Gunung, Tuan yang Datang dari Gunung atau Tuan yang Datang dari Kahyangan.

Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Irian, Tiongkok, hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (Cerita Parahiyangan).

Area Kerajaan Mataram Kuno (Bagelen) berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno 618-906). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitabCerita ParahiyangandanBabad Tanah Jawi.



Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen. Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka Medang i bhumi Mataram bermakna "Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu" (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya.

Pada jaman Mataram Hindhu, tersebutlah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Sowelocolo. Ia memiliki enam orang putra, masing-masing bernama Sri Moho Punggung, Sendang Garbo, Sarungkolo, Tunggul Ametung, Sri Getayu, dan Sri Panuhun.

Sri Panuhun memiliki seorang cucu, anak dari Joko Panuhun atau Joko Pramono yang bernama Roro Dilah atau Roro Wetan yang kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Bagelen. Roro Dilah juga dapat disebut dengan Roro Wetan karena kedudukannya di daerah timur. Sri Getayu memiliki cucu dari putra Kayu Mutu bernama Awu-Awu Langit. Ia berkedudukan di Awu-Awu (Ngombol). Setelah dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit dan menetap di Hargopuro atau Hargorojo.



Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan Pangeran Awu-Awu Langit dianugerahi tiga orang putra, Bagus Gentha, Roro Pitrang dan Roro Taker.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top