Trem di Kota Bogor Terkendala Lahan 10 Hektare dan Infrastruktur Jembatan
Kamis, 27 Februari 2020 - 05:05 WIB
Trem di Kota Bogor Terkendala Lahan 10 Hektare dan Infrastruktur Jembatan
A
A
A
BOGOR - Rencana penyelenggaraan moda transportasi massal berbasis rel di Kota Bogor tampaknya tak berjalan mulus. Hingga saat ini Pemkot Bogor masih mengkaji sejumlah infrastruktur atau sarana prasarana penunjang yang membutuhkan biaya cukup besar.
"PT Colas Rail, konsultan pengkaji penyelenggara trem di Kota Bogor menyampaikan sejumlah catatan di antaranya terkait kebutuhan anggaran Rp1,5 triliun," kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Rabu (26/2/2020).
Menurutnya, anggaran sebesar itu di antaranya untuk pembangunan depo trem dan jalan serta jembatan yang memadai agar layak digunakan trem. "Nah, masalah utamanya di Kota Bogor tak punya aset atau lahan cukup untuk memiliki depo yang luasnya 5-10 hektare," ujarnya. (Baca juga: Bogor Dapat Tawaran Pemanfataan 24 Unit Trem dari Pemerintah Belanda)
Terkait jembatan, Pemkot Bogor harus melakukan pelebaran untuk dilalui trem. Belum lagi konstruksi jembatan harus diperkuat agar mampu menahan beban trem. "Kalau tidak diperlebar harus menyesuaikan dengan spesifikasi trem sehingga bisa dilalui trem dari segi bobot dan lebarnya," ungkapnya.
Kendala lain mengenai unit trem yang harus ditentukan. Pemkot belum dapat memutuskan unit trem yang akan diambil, dari hibah Utrecht, Belanda atau trem baru buatan PT Industri Kereta Api (INKA). "Menerima hibah trem dari Belanda harus mendapat persetujuan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebab, Kemenhub selaku pihak yang berwenang sebagai lembaga penanggung jawab atau executing agency," kata Dedie.
Meski demikian, Colas lebih menyarankan mendatangkan unit trem baru sehingga pemakaian moda transportasi berbasis rel lebih efisien dan bertahan lama.
"Karena hibah ini ada masa pakainya kan barang bekas dan masa pakainya 10-15 tahun. Kalau trem baru bisa 30-40 tahun itu saran Colas. Kalau dari Utrecht nanti kita perlu pengadaan lagi dan ditambah maintenance yang lebih mahal," ujarnya.
Pemkot Bogor telah menunjuk PT Colas Rail untuk melakukan kajian dan studi kelayakan trem di Kota Bogor. Kajian tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2020.
Country Director Colas Group Indonesia Christophe Chassagnette mengaku telah menyampaikan kajian mengenai pembiayaan moda transportasi trem ke Pemkot Bogor. "Setidaknya alternatif terbaik yaitu mendatangkan trem baru dengan taksiran biaya mencapai Rp1,5 triliun. Ini estimasi berdasarkan hasil kajian kita sementara," katanya.
"PT Colas Rail, konsultan pengkaji penyelenggara trem di Kota Bogor menyampaikan sejumlah catatan di antaranya terkait kebutuhan anggaran Rp1,5 triliun," kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Rabu (26/2/2020).
Menurutnya, anggaran sebesar itu di antaranya untuk pembangunan depo trem dan jalan serta jembatan yang memadai agar layak digunakan trem. "Nah, masalah utamanya di Kota Bogor tak punya aset atau lahan cukup untuk memiliki depo yang luasnya 5-10 hektare," ujarnya. (Baca juga: Bogor Dapat Tawaran Pemanfataan 24 Unit Trem dari Pemerintah Belanda)
Terkait jembatan, Pemkot Bogor harus melakukan pelebaran untuk dilalui trem. Belum lagi konstruksi jembatan harus diperkuat agar mampu menahan beban trem. "Kalau tidak diperlebar harus menyesuaikan dengan spesifikasi trem sehingga bisa dilalui trem dari segi bobot dan lebarnya," ungkapnya.
Kendala lain mengenai unit trem yang harus ditentukan. Pemkot belum dapat memutuskan unit trem yang akan diambil, dari hibah Utrecht, Belanda atau trem baru buatan PT Industri Kereta Api (INKA). "Menerima hibah trem dari Belanda harus mendapat persetujuan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebab, Kemenhub selaku pihak yang berwenang sebagai lembaga penanggung jawab atau executing agency," kata Dedie.
Meski demikian, Colas lebih menyarankan mendatangkan unit trem baru sehingga pemakaian moda transportasi berbasis rel lebih efisien dan bertahan lama.
"Karena hibah ini ada masa pakainya kan barang bekas dan masa pakainya 10-15 tahun. Kalau trem baru bisa 30-40 tahun itu saran Colas. Kalau dari Utrecht nanti kita perlu pengadaan lagi dan ditambah maintenance yang lebih mahal," ujarnya.
Pemkot Bogor telah menunjuk PT Colas Rail untuk melakukan kajian dan studi kelayakan trem di Kota Bogor. Kajian tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2020.
Country Director Colas Group Indonesia Christophe Chassagnette mengaku telah menyampaikan kajian mengenai pembiayaan moda transportasi trem ke Pemkot Bogor. "Setidaknya alternatif terbaik yaitu mendatangkan trem baru dengan taksiran biaya mencapai Rp1,5 triliun. Ini estimasi berdasarkan hasil kajian kita sementara," katanya.
(jon)