Peneliti UI: Literasi Digital Diperlukan untuk Mencegah Hoaks

Kamis, 26 September 2019 - 22:02 WIB
Peneliti UI: Literasi...
Peneliti UI: Literasi Digital Diperlukan untuk Mencegah Hoaks
A A A
DEPOK - Sebanyak 24 orang penerima penghargaan Australian Awards, mengikuti sekolah Democratic Resilience–Digital & Media Literacy di Queensland University of Technology (QUT). Salah satunya adalah peneliti Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati. Mereka dilatih oleh para ahli di bidang komunikasi digital dan media, di jurusan dengan peringkat 15 terbaik di dunia.

Kelas pertama dibuka dengan presentasi oleh Fiona Suwana tentang Building Digital Media and Information Literacy; Axel Bruns: ‘The Challenge of Fake News; Angela Romano: 5RS : Rights, Respect, Responsibility, Reasoning and Resilience.

Literasi digital dibutuhkan untuk membantu individu dan keluarga agar dapat melindungi dirinya sendiri dari konten dan komunikasi yang tidak diinginkan di dunia digital. "Upaya mendidik masyarakat agar memiliki kompetensi digital dan media bukanlah hal yang mudah, khususnya pada aspek pendidikan, digital, komunitas dan politik," kata Devie, salah satu penerima penghargaan, Kamis (26/9/2019).

Data di Indonesia menunjukkan bahwa populasi penggunaan perangkat elektronik terbesar ialah televisi 95% dan telepon genggam mencapai 91%. Kondisi ini tercipta diantaranya karena aspek geografis yang luas di Indonesia, sehingga dukungan infrastruktur digital belum sepenuhnya menjadi konsumsi utama masyarakat di berbagai wilayah. Selain itu, generasi yang lebih senior, akan lebih mudah untuk mengkonsumsi televisi.

"Meskipun demikian, mengingat kehadiran teknologi digital yang bersifat personal dan dapat diakses dalam 24 jam sehari, membuat dampak dari informasi yang dikonsumsi melalui perangkat digital akan lebih mudah, cepat dan murah untuk dikonsumsi dan diproduksi oleh siapapun," kata Ketua Program Studi Vokasi Humas UI itu.

Dia menuturkan, dalam konteks Indonesia, tantangannya ada tiga yaitu masyarakat yang plural, latar belakang kultural, dan kondisi struktural. Pluralitas wilayah, ekonomi, suku, agama, ras, mendorong kesenjangan penetrasi digital. Sedangkan secara kultural, salah satunya masyarakat Indonesia adalah masyarakat pendongeng (oral culture society), yang membuat kurangnya upaya menggali dan mengkonfirmasi informasi secara mendalam.

Struktur kebijakan pendidikan yang masih mengedepankan target-target kuantitatif seperti jumlah hapalan, bukan pada aspek kualitas seperti kemampuan reflektif dan adaptif terhadap perubahan teknologi dan iklim. Di Indonesia, sudah banyak inisiatif komunitas untuk membantu pemerintah dalam mendorong terciptanya literasi digital.

"Dampak negatif dari rendahnya literasi digital di antaranya ialah konsumsi tayangan kekerasan, pornografi, kecanduan game, media sosial dan penyebaran hoax yang mampu memecah belah bangsa, sebagaimana residu dari kontestasi politik di Indonesia semenjak 2017 lalu," ucapnya.

Polarisasi di dalam masyarakat akibat penyebaran berita bohong memang akan membutuhkan waktu yang panjang untuk menyatukan kembali masyarakat. Berita bohong terciptanya secara organik dan non-organik. Kecemasan masyarakat misalnya melihat situasi demo, akan mendorong masyarakat dengan mudah meneruskan infromasi apapun tentang demo, karena ketulusan masyarakat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Namun, kondisi non-organik karena insentif ekonomi berupa uang oleh platform yang memberikan dana Rp350 ribu per 1000 likes, tentu saja mendorong orang memproduksi informasi yang belum tentu benar, asalkan viral.

"Tidak hanya itu, kepentingan politik, sebagaimana yang didemonstrasikan oleh Donald Trump yang justru mengatakan berita bohong ialah ketika berita tersebut adalah berita yang tidak sesuai dengan keinginannya, mendorong klaim kebenaran yang memecah masyarakat," tutupnya.
(thm)
Berita Terkait
Jelang Penjoblosan,...
Jelang Penjoblosan, Berita Hoaks Bertebaran di Medsos
Ciptakan Komunikasi...
Ciptakan Komunikasi Publik Efektif, Kominfo Ajak Masyarakat Tangkis Hoaks Bersama
Pengguna Internet Makin...
Pengguna Internet Makin Banyak, Bisnis Hoaks Kian Subur  
Jadi Sasaran Berita...
Jadi Sasaran Berita Hoaks, Pelajar Diminta untuk Waspada dan Kroscek
Konten Hoaks Selama...
Konten Hoaks Selama 2021 Tembus 5.311, 87 Persen Berasal dari Facebook
Gempar Hoaks Kasdim...
Gempar Hoaks Kasdim Gresik Meninggal Usai Divaksin, Pelakunya Napi di Lapas Porong
Berita Terkini
18 DPC Beri Dukungan,...
18 DPC Beri Dukungan, Nurdiansyah Alasta Siap Pimpin Demokrat Aceh
2 jam yang lalu
Tingginya Antusiasme...
Tingginya Antusiasme Peserta saat Ikuti Perlombaan Antar Madrasah Diniyah yang Digelar MNC Lido dan MNC Peduli
3 jam yang lalu
Pengadilan Agama Jaksel...
Pengadilan Agama Jaksel Gandeng Pemkot, Siapkan Isbat Nikah Terpadu bagi Warga
3 jam yang lalu
Menyemarakkan Tahun...
Menyemarakkan Tahun Baru Islam, MNC Lido dan MNC Peduli Gelar Lomba Kaligrafi hingga Cerdas Cermat
4 jam yang lalu
Dilaporkan ke Kemenhaj...
Dilaporkan ke Kemenhaj Sulsel, JFT Siap Memberikan Keterangan dan Langkah Hukum
4 jam yang lalu
Produk Olahan Singkong...
Produk Olahan Singkong Sleman Terus Dikembangkan
6 jam yang lalu
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved