Sentuhan Hati Pemerintah untuk Damaikan Papua

Jum'at, 20 September 2019 - 17:32 WIB
Sentuhan Hati Pemerintah...
Sentuhan Hati Pemerintah untuk Damaikan Papua
A A A
JAKARTA - Puluhan Tokoh dan pemuda yang tergabung dalam Forum Komunikasi Anak Papua (Forkap) mendeklarasikan Persatuan Untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik (NKRI), yang diadakan di Jakarta, Kamis 19 September 2019. Dalam Deklarasi tersebut Forkap dengan Ketua Umumnya Semmy Jenggu beserta anggota, menyatakan dengan penuh kesadaran masyarakat Papua terpanggil dalam deklarasi persatuan demi keutuhan bangsa.

“Kami menyatakan, pertama, kami akan setia dan taat kepada pancasila dan UUD 1945, Kedua, Kami pemuda papua siap menjaga keutuhan NKRI di tanah papua, Ketiga, Kami bersama-sama Komitmen menjaga stabilitas keaman, dan kedamain dalam berkehidupan bermasyarakat serta tetap menjaga kebinekaan di tanah Papua dan seluruh wilayah NKRI, keempat Kami mengajak semua masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, baik oknum dan kelompok yang ingin memecah belah persaudaran sebangsa dan setanah air dan kelima, Kami mendukung upaya pemerintah untuk menyelesaikan persoalan yang ada dan terjadi di papua,” ucap Semmy Jenggu diikuti anggota Forkap dalam pernyataan tertulis yang diterima SINDOnews, Jumat (20/9/2019).

Disela – sela deklarasi, Ketum Forkap Semmy Jenggu mengatakan, untuk perdamaian di bumi Papua, diperlukan sentuhan hati oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda), terutama di daerah terpencil di Papua.

Apalagi Pasca-kerusuhan di Papua menurut Semmy, Presiden Joko Widodo dengan menteri – menterinya untuk mau datang ke Papua mendengarkan secara langsung murni aspirasi masyarakat Papua.

“Apalagi Pak Presiden Jokowi mempunyai kepedulian yang besar kepada Papua, seperti pada 2014 lalu pernah berkunjung ke Papua, padahal ada bendera - bendera Kejora yang berkibar dan di sana banyak pemberontak, tapi aman waktu itu, karena memang ada sentuhan hati dari Pak Jokowi kepada masyarakat Papua,” ungkap Semmy.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada aparat keamanan, yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri yang menciptakan stabilitas kondisi yang di Papua tetap kondusif dan membantu masyarakat Papua yang membutuhkan bantuan, seperti ada prajurit TNI yang menjadi guru bagi siswa sekolah di daerah terpencil demi masa depan anak Papua dan juga melakukan pembangunan fisik, seperti antara lain TNI bersama masyarakat Papua membangun jembatan.

Terkait Otonomi Khusus (Otsus), menurut Semmy, perlu ada pengawasan dan NGO atau LSM yang ikut mengawasi anggaran Otsus yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Papua, agar anggaran Otsus berjalan sesuai dengan peraturan yang ada.

Sehari sebelumnya, juga berlangsung kegiatan serupa di Universitas Indonesia (UI), diskusi publik dengan tema, "Damai Papua Untuk Keutuhan NKRI" di Gedung IASTH, UI, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/19).

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 orang dari elemen mahasiswa, pemuda, aktivis, ormas dan tokoh masyarakat. Bertindak selaku narasumber, yaitu Lenis Kogoya (Staf Khusus Presiden untuk Papua), dan Methodius Kossay (Tokoh Pemuda Papua).

Lenis Kogoya mengatakan, pemerintah benar-benar ingin membangun wilayah Papua untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua. “Dalam hal ini, pemerintah telah memberikan Otsus Papua,” ujarnya.

Ditambahkannya, dalam UU Otsus Papua, masyarakat Papua telah diberi kewenangan yang besar, seperti Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati harus orang Papua. Selain itu, Otsus Papua juga memberikan kewenangan terkait hak politik, dan fungsi adat. “Seharusnya dengan kewenangan yang besar, terutama dalam fungsi adat Papua bisa menjadi maju dan damai,” imbuhnya.

Untuk memaksimalkan implementasi UU Otsus Papua tersebut, menurut Lenis perlu adanya kontrol dari pemerintah pusat. “Jika Otsus Papua pelaksanaanya baik, maka kesejahteraan masyarakat Papua akan meningkat dan bisa menyelesaikan masalah Papua dalam kerangka NKRI,” tandasnya

Sementara tokoh Pemuda Papua, Methodius Kossay dalam diskusi itu mengatakan bahwa langkah yang harus dilalukan untuk menyelesaikan permasalahan Papua adalah dengan dialog. “Dialog dilakukan secara menyeluruh, bermartabat, saling menghormati, tanpa kekerasan dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dialog menurutnya, dimaksudkan untuk menyelesaikan akar permasalahan di Papua. “Untuk selanjutnya dicarikan solusi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan di Papua,” harapnya.
(sms)
Berita Terkait
Penyelesaian Papua Harus...
Penyelesaian Papua Harus dengan Pendekatan Persuasif Bukan Kekuasaan
Pendekatan Jokowi ke...
Pendekatan Jokowi ke Papua Harus Ditopang dengan Iklim Demokrasi
KontraS Sorot Dugaan...
KontraS Sorot Dugaan Penembakan terhadap Tiga Warga Sipil di Papua
Bentrok di Sentani Masih...
Bentrok di Sentani Masih Berlanjut, Dua Kubu Lengkapi Sajam
OPM Tembak Warga Sipil...
OPM Tembak Warga Sipil di Tembagapura, 1 Korban Kritis
Kelompok KNPB Aniaya...
Kelompok KNPB Aniaya Warga hingga Tewas di Maybrat Papua Barat
Berita Terkini
Melejit Bersama Holding...
Melejit Bersama Holding Ultra Mikro, Warung Sembako di Semarang Ini Sukses Dongkrak Ekonomi Keluarga
1 jam yang lalu
Tertibkan Parkir Liar...
Tertibkan Parkir Liar di Jakarta, Dishub-Satpol PP Kerahkan 600 Personel Gabungan
1 jam yang lalu
Bantu Orang Tua Siswa,...
Bantu Orang Tua Siswa, Pemkot Tangsel Gratiskan Seragam Batik dan Olahraga
1 jam yang lalu
Viral Paspor Ditemukan...
Viral Paspor Ditemukan Berserakan di Jalan, Imigrasi Gelar Investigasi
1 jam yang lalu
BMKG: Peringatan Dini...
BMKG: Peringatan Dini Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Filipina Berakhir
2 jam yang lalu
Tsunami Tercatat di...
Tsunami Tercatat di 9 Wilayah Indonesia Pascagempa M7,7 di Filipina
3 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved