Penemuan 11 Artefak Bukti Kejayaan Budaya Melayu Pesisir

Senin, 03 Juni 2019 - 05:01 WIB
Penemuan 11 Artefak...
Penemuan 11 Artefak Bukti Kejayaan Budaya Melayu Pesisir
A A A
Tanjung Pura berada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) letaknya sekitar 60 kilometer (km) dari Kota Medan.

Tanjung Pura merupakan salah satu titik yang dilewati oleh Jalan Raya Lintas Sumatera menuju Provinsi Aceh.

Di kota inilah tersimpan kenangan bagi sebagian orang yang pernah tinggal di sana, selain terkenal sebagai kota pendidikan. Sejak zaman dahulu Tanjung Pura juga dikenal sebagai kota budaya.

Kesemuanya itu terbukti dengan adanya pahlawan nasional, seorang pujangga besar dari tanah Melayu, yakni Tengku Amir Hamzah.

Isi tulisan sastranya yang memaknai arti cinta dan ketuhanan. Bermula dari tanah bertuah ini lah ia mulai mengukir bait-bait goresan pena emasnya. Tengku Amir Hamzah merupakan penyair handal nan sederhana dimakamkan Di Kompleks Pemakaman Umum Masjid Azizi Tanjung Pura.

Namun karya sastra Tengku Amir Hamzah lebih dikenal dan dihargai puisi-puisinya di Malaysia dibanding di tanah kelahirannya sendiri.

Juga banyak terdapat peninggalan bersejarah di tempat ini, seperti makam raja-raja penguasa Langkat (Sultan Langkat) terdahulu yang masih terawat baik di kompleks perkuburan Masjid Azizi Tanjung Pura, yang juga merupakan kompleks pemakaman masyarakat umum.

Tanjung Pura merupakan pusat kerajaan lama Kesultanan Langkat, yang kini hanya meninggalkan bangunan sejarah yang tersisa, dilingkupi budaya Melayu pesisir, di tanah yang juga memiliki kekayaan alamnya yang melimpah, dapat terlihat dari banyaknya tetumbuhan kelapa sawit menghiasi di sepanjang perjalanan dari Kota Medan menuju kota ini.

Melihat hal itulah aktivis kebudayaan Tengku Zainuddin berusaha mengumpulkan sisa-sisa sejarah itu.

Tengku Zainuddin berhasil menginventarisir artefak budaya, berupa 11 tempayan berumur 50 hingga 100 tahun.

Langkah ini ditempuh untuk menyelamatkan jejak budaya masyarakat Melayu di Pesisir Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

“Kami patut bersyukur, ternyata masih ada orang-orang desa yang peduli dan selama ini mau merawat peninggalan sejarah ini. Artefak budaya ini harus diselamatkan, agar generasi mendatang paham bahwa nenek moyangnya punya kearifan tersendiri dalam menjalani hidup dan kehidupan ini,” ujar aktivis yang juga peneliti dari Lingkar Nalar Indonesia (LNI), belum lama ini.

Dia menceritakan bagaimana ke-11 tempayan atau di belahan bumi lain disebut guci itu bisa dia inventarisir. Menurut dia, semua bermula dari langkah LNI menelusuri jejak budaya orang laut.

“Kita di LNI sebelumnya telah bersepakat menjalankan proyek ‘Telusur Jejak Budaya Orang Laut’, sebagai langkah awal kita menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Proyek yang nantinya akan didedikasikan sebagai bahan masukan bagi pemerintah ini kami awali dengan melakukan penelitian di Desa Perlis, Kelantan, Berandan Barat dan Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat,” ungkapnya.

Nah, dalam proses penelitian itulah kemudian Tengku Zainuddin bertemu dengan orang-orang yang menyimpan dan merawat tempayan-tempayan berusia tua dimaksud. Butuh waktu tak sebentar baginya untuk bisa meyakinkan bahwa artefak yang dimiliki orang-orang desa itu amat besar artinya bagi pengembangan kebudayaan bangsa.

“Sebelumnya, sudah cukup banyak kolektor yang berburu untuk memiliki benda tersebut. Mereka menawarkan uang dengan jumlah cukup menggiurkan. Akhirnya, lewat dialog berkali-kali, kita berhasil meyakinkan pemilik artefak untuk tidak melepas barang berharga itu kepada kolektor. Akhirnya, mereka pun memercayakan barang-barang itu untuk diinventarisir di Anjungan Penelitian LNI di Desa Perlis,” tukasnya.

Dia menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada perangkat Desa Perlis maupun Kelantan, juga kepada tokoh-tokoh masyarakat setempat, yang memberi izin dan bantuan moril atas upaya penyelamatan artefak budaya dimaksud. Dia juga berharap kepada perangkat pemerintahan di level yang lebih tinggi untuk menaruh perhatian khusus akan hal ini.
(vhs)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
UI Tegaskan Kajian BEM...
UI Tegaskan Kajian BEM Psikologi soal LGBT Bukan Sikap Resmi Kampus
25 menit yang lalu
Warga Pertanyakan Perubahan...
Warga Pertanyakan Perubahan Aliran Kali Cikokol dan Luas Taman Potret
1 jam yang lalu
BMKG Operasikan Radar...
BMKG Operasikan Radar Laut Canggih di Sumatera, Percepat Peringatan Dini Tsunami
2 jam yang lalu
Soroti Kasus Penyiksaan...
Soroti Kasus Penyiksaan di Bandung, Wakil Ketua DPRD Jabar Gagas Siskamling Digital
2 jam yang lalu
Gunung Semeru Erupsi...
Gunung Semeru Erupsi Setinggi 1,4 Km, PVMBG: Waspada Awan Panas dan Guguran Lava
3 jam yang lalu
BNN dan Bea Cukai Gagalkan...
BNN dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 3,37 Ton Kuncup Bunga Kanabis Asal Thailand
12 jam yang lalu
Infografis
11 Perang Terlama dalam...
11 Perang Terlama dalam Sejarah Manusia, Ada yang hingga 781 Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved