Rusa Bertanduk dan Asal Usul Masyarakat Enggano

Jum'at, 05 April 2019 - 05:00 WIB
Rusa Bertanduk dan Asal...
Rusa Bertanduk dan Asal Usul Masyarakat Enggano
A A A
Ada beberapa versi perihal asal usul masyarakat Pulau Enggano, salah satunya menyebutkan jika masyarakat Enggano berasal dari China Daratan.

"Asal usul nenek moyang masyarakat Enggano dari China Daratan. Hal ini terbukti penemuan mata uang logam China kuno bertuliskan Chien Ma (Numismatic) berangka Tahun 421 Masehi di Pulau Enggano," ungkap budayawan Bengkulu, YY Eko Rusyono sekaligus penulis buku "Mengenal Budaya Enggano".

Kepada MNC Media, pria kelahiran Desa Aur Gading Kecamatan Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara, 18 Juli 1960 ini mengatakan, rombongan yang terdampar di Pulau Enggano ini merupakan bagian dari eksodus pangeran-pangeran dari China yang melarikan diri dari situasi gejolak dalam negeri China pasca runtuhnya Dinasti Han 220 Masehi.

Istilah Enggano berasal dari bahasa China yang memiliki arti Rusa Bertanduk. Sebagai gambaran bahwa wanita-wanitanya berdandan dengan gaya rambut berkepang dua yang menonjol ke atas.

Artinya dandanan seperti ini pada masa itu hanya dikenal di China daratan. Seperti yang tertuang dalam buku "Mengenal Budaya Enggano" cetakan pertama halaman 33.

Dari fakta-fakta sejarah, nenek moyang masyarakat Enggano yang berasal dari China Daratan ini datang melalui jalur pelayaran Yunan. Menyusuri anak Sungai Mekhong dan anak Sungai Yang Tse Kiang, tiba di Rangoon Birma menuju Indonesia melalui Pulau Andaman dan Pulau Nicobar di Teluk Benggala. Kemudian memasuki Pulau Nias- Mentawai dan terdampar di Pulau Enggano.

"Saya mendapat kabar dari orang Belanda yang meneliti buku saya mengatakan, 95 persen data yang tertulis dibuku saya benar adanya. Karena didukung oleh bukti-bukti peninggalan sejarah di Pulau Enggano. Ini adalah cetakan ke tiga," ucap Eko.

Untuk diketahui, Pulau Enggano tidak dikenal khalayak luas sebelum gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter pada Minggu 3 Juni 2000 silam.

Pulau yang terletak di Samudera Indonesia sebelah barat Pulau Sumatera pada 102'05-102'25 derajat Bujur Timur dan 5'17-5'31 derajat Lintang Selatan, dengan panjang 40 km lebar 17 km ini memiliki keunikan suku, budaya, adat dan keanekaragaman biota laut.

Pulau Enggano dihuni oleh lima suku asli dan satu suku pendatang. Suku asli Enggano meliputi Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba dan Kaahoao. Sedangkan suku pendatang di luar penduduk asli dimasukan dalam suku tersendiri yang disebut Suku Kamay, masing-masing suku dipimpin oleh kepala suku.

"Sebagian besar masyarakat Enggano menggunakan Bahasa Enggano sebagai alat komunikasi. Sisanya menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari," jelas Eko.

Secara administratif, Enggano masuk dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Utara. Pulau terluar di Provinsi Bengkulu ini merupakan suatu Kecamatan yang terdiri dari enam desa meliputi, Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok dan Desa Banjarsari. Wilayah dihuni lebih dari 5.000 jiwa ini, dapat ditempuh perjalanan kapal selama 12 jam dari dermaga Pulau Bai Kota Bengkulu, dan 45 menit melalui perjalanan udara.

Dengan Kondisi alam dikelilingi laut, membuat Enggano memiliki ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Selain terumbu karang dan ikan tuna sirip biru, penyu hijau (Chelomia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys) melengkapi biota laut di Pulau terluar Provinsi Bengkulu ini.

Sehingga salah satu makanan khas masyarakat di pulau ini yaitu penyu. Masyarakat Enggano menjadikan penyu sebagai hidangan khas acara-acara sakral seperti pernikahan dan acara adat.

Dalam satu acara ritual adat, Suku Enggano mengkonsumsi Penyu dalam jumlah yang berbeda. Jumlah ini ditentukan dengan bobot dan besaran penyu yang berhasil ditangkap.

Kepala Suku Kaitora, M Raflizen mengungkapkan, tradisi mengkonsumsi penyu dalam acara ritual adat dan pesta pernikahan di Pulau Enggano telah diwariskan secara turun temurun dari para pendahulu.

Setiap rumah yang akan mengelar acara adat dianjurkan untuk menangkap penyu yang berada di seputaran Pulau."Kalo tidak ada penyu kami takut akan terjadi musibah yang menimpa pemilik hajat. Sudah turun-temurun. Iya buat menjauhkan bala," ucap Raflizen.
(sms)
Berita Terkait
Wong Kalang, Suku yang...
Wong Kalang, Suku yang Dianggap Hina tapi Jadi Andalan Perang Kerajaan Majapahit
Kisah Buaya Kuning Penjaga...
Kisah Buaya Kuning Penjaga dan Suku Dayak Tunjung
Galuh Dilanda Perang...
Galuh Dilanda Perang Pemberontakan, Kerajaan Pecah Jadi Dua
Kesaktian Nyai Balau,...
Kesaktian Nyai Balau, Panglima Wanita Dayak yang Memiliki Selendang Maut
Roro Anteng dan Joko...
Roro Anteng dan Joko Seger, Legenda Suku Tengger dan Kisah Cinta Abadi yang Terukir di Gunung Bromo
Kisah Raja Sri Jayabupati,...
Kisah Raja Sri Jayabupati, Penguasa Sunda Terlupakan Kalah Pamor dari Prabu Siliwangi
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
45 menit yang lalu
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
1 jam yang lalu
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
2 jam yang lalu
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
2 jam yang lalu
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
3 jam yang lalu
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
3 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved