Psikolog UP Dukung Kebijakan Disdik Depok Larang Siswa Bawa HP

Rabu, 03 Oktober 2018 - 23:16 WIB
Psikolog UP Dukung Kebijakan...
Psikolog UP Dukung Kebijakan Disdik Depok Larang Siswa Bawa HP
A A A
DEPOK - Langkah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok melarang siswa SD hingga SMA membawa handphone ke sekolah harus didukung. Tujuan pelarangan membawa handphone anak sekolah agar siswa lebih fokus dan konsentrasi dengan materi pelajaran maupun interaksi dengan teman atau guru secara langsung tanpa melalui gadget.

Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta mengatakan, memang banyak manfaat dari HP, tetapi mendorong anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara langsung masih perlu dikembangkan pada usia ini. Anak juga masih sangat mudah terpecah perhatiannya, penggunaan HP adalah hal yang membuat konsentrasi anak menjadi pecah.

"Kecepatan informasi yang ada membuat anak menjadi tidak sabaran, impulsif dan cenderung menyendiri. Dampak lain seperti hilangnya HP (karena tidak hati-hati) atau dicuri teman di kelas yang membutuhkan, dirampas di jalan, juga menjadi ekses-ekses membawa HP ke sekolah. Selayaknya sekolah menyediakan fasilitas komunikasi (telepon) untuk anak menghubungi ortunya jika minta dijemput atau menyampaikan berita," kata Ully kepad SINDOnews pada Rabu (3/10/2018)

Dia menuturkan, saat ini aplikasi roleplay memang sedang marak, sebenarnya sudah cukup lama ada. Jika dulu roleplay-nya hanya sebatas mengimitasi artis Korea, sekarang penggunaan roleplay menjadi lebih luas. Remaja perempuan yang roleplaying sebagai laki-laki, kemudian menjalin hubungan dengan remaja perempuan lainnya, akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan rekan roleplay-nya tersebut.( Baca: Disdik Depok Larang Siswa Membawa Ponsel ke Sekolah, Kenapa? )

Hal ini terjadi karena mereka masih pada masa remaja, menjadi identitas diri. Dalam pencariannya ini, mereka mengidentifikasi diri sesuai apa yang dia inginkan. "Di aplikasi ini, remaja bisa berpura-pura menjadi sosok tertentu. Sayangnya secara emosional, remaja belum matang. Sehingga kesulitan membedakan mana yang bermain peran dan mana yang sesungguhnya. Emosinya menjadi terlibat dengan perannya, dan akhirnya malah kesulitan mengidentifikasi pribadinya sendiri. Ini malah menjadi potensi masalah di masa mendatang terutama untuk pengembangan pribadinya," ujarnya.

Pertumbuhan anak sekarang yang lebih cepat dibandingkan usianya dipicu banyak faktor. Pertama jelas faktor gizi dan makanan. Anak-anak sekarang mendapat gizi dan asupan yang berbeda dari masa sebelumnya. Gizi dan asupan tersebut tentunya mendorong tubuh untuk berkembang lebih cepat. Hormon-hormon perkembangan terdorong muncul pada usia yang lebih muda. Makanan dengan zat-zat GMF (genetic modified food) membuat reaksi dalam tubuh kita juga berbeda yang juga mendorong percepatan pertumbuhan.

Yang kedua tentunya paparan terhadap teknologi yang juga semakin cepat. Informasi tidak hanya hadir dalam hitungan menit, tetapi detik. Anak bisa mengakses informasi dari manapun tanpa perlu menunggu orangtua atau guru menyampaikan pada mereka. Paparan dari lingkungan yang lebih sulit difilter saat ini membuat anak-anak dan remaja menjadi semakin cepat bereaksi.
"Mereka juga berkembang menjadi semakin tidak sabaran dan impulsif. Mereka belajar ke’kini’an sehingga akhirnya orientasinya hanya saat ini saya. Instastory tidak boleh basi, update status dll semua menunjukkan dorongan untuk ‘cepat’ dalam semua hal. Sayangnya hal ini membuat mereka menjadi kurang menghargai proses, kurang tekun, dan kurang konsentrasi," paparnya.

Shinta mengingatkan agar ada peran serta orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak. Orang tua wajib menata penggunaan gadget serta aplikasi yang ada di gagdet anak. Tentunya hal ini tidak bisa tiba-tiba. Dari awal pemberian gadget orang tua bisa menyampaikan kesepatan bersama penggunaannya. Dan orangtua juga turut menata penggunaan gagdetnya sendiri.

"Orangtua juga bisa memantau penggunaan medsos anak. Belajar menggunakan medsos dan mengawasi medsos anak bisa dilakukan tanpa perlu mengganggu privasi anak, terutama remaja-yang biasanya ingin punya dunianya sendiri," ucapnya.
(whb)
Berita Terkait
Pemkot Depok Banjir...
Pemkot Depok Banjir Kritik, Bongkar Pasang Trotoar Jalan Margonda
Kolaborasi Olahraga...
Kolaborasi Olahraga dengan Industri Kreatif,Gekrafs Depok Gelar Turnamen Sepak Bola untuk Anak
Pemkot Depok Izinkan...
Pemkot Depok Izinkan Warga Ziarah Kubur dengan Penerapan Prokes
Sambangi Kantor PCNU...
Sambangi Kantor PCNU Depok, PDIP Ingin Dapatkan Saran Soal Penangangan Covid-19
Pemkot Depok Pertimbangkan...
Pemkot Depok Pertimbangkan Lakukan Swab Test di Lokasi Keramaian
THR ASN Kota Depok Sudah...
THR ASN Kota Depok Sudah Dicairkan 100%
Berita Terkini
Pemberdayaan UMKM Sawit,...
Pemberdayaan UMKM Sawit, BPDP Raih Penghargaan Medbun Awards
2 jam yang lalu
Hardiyanto Kenneth PDIP...
Hardiyanto Kenneth PDIP Apresiasi Pemprov DKI Jakarta Luncurkan Mobil Klinik Hewan Keliling
11 jam yang lalu
Massa Antikorupsi Dukung...
Massa Antikorupsi Dukung Kortas Tipikor Polri dan KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi
13 jam yang lalu
Penampakan Emas Batangan...
Penampakan Emas Batangan hingga Uang Hasil Penggeledahan 13 Lokasi yang Ditampilkan di Polda Metro Jaya
14 jam yang lalu
Suasana Terkini Rumah...
Suasana Terkini Rumah Jampidsus di Kebayoran Baru: Sepi, Tidak Ada Penjagaan TNI
14 jam yang lalu
3 Pekerja Proyek Tewas...
3 Pekerja Proyek Tewas di Gorong-gorong, Pramono Ungkap 1 Korban Merupakan WNA
15 jam yang lalu
Infografis
Mampukah John Herdman...
Mampukah John Herdman Bawa Timnas Indonesia ke Panggung Dunia?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved