Dirjen PAS Beri Waktu Seminggu Napi di Palu Kembali ke Lapas
Senin, 01 Oktober 2018 - 19:30 WIB
Dirjen PAS Beri Waktu Seminggu Napi di Palu Kembali ke Lapas
A
A
A
JAKARTA - Dirjen Pemasyarakatan (PAS) Sri Puguh Budi Utami menyebut pihaknya memberikan waktu satu minggu kepada warga binaan atau narapidana yang lepas di Lapas dan rutan di Sulawesi Tengah untuk kembali.
Diketahui 1.425 warga binaan dari 12 Lapas dan Rutan belum diketahui keberadaannya. Hal itu berasal dari pendataan warga binaan yang keluar Lapas dan Rutan di wilayah terdampak gempa dan tsunami, yaitu di wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
"Setelah 1 minggu akan ada pencarian oleh satgas yang dibentuk, atas arahan bapak menteri, satgas dari pusat, kanwil Sulsel dan Sulteng. Tentunya kakanwil terus lakukan monitoring terhadap warga binaan yang tidak ada di tempat," kata Utami di Kantor Dirjen P, Jakarta, Senin (1/10/2018).
Sri menyebut pihaknya akan bekerja sama dengan aparat kepolisian dalam melakukan pencarian para tahanan. Kekinian, Tim dari sekretariat jenderal saat ini sedang melakukan pemetaan terhadap data dan jumlah narapidana yang saat ini lepas dari rutan maupun lapas.
"Kami juga mencoba membuka posko di Rutan maupun Lapas Palu untuk sekaligus mendata, karena sampai dengan kemarin hari Minggu ada keluarganya yang melaporkan kepada kami bahwa warga binaan ada di rumah," jelas Utami.
Dirjen PAS perempuan pertama ini juga mengungkapkan sebenarnya sudah ada negosiasi dengan para narapidana untuk diberikan izin untuk keluar.
"Sebenarnya, di Donggala sudah ada negosiasi dan SOP. Napi, siapapun mereka berhak untuk hidup. Sebenarnya Kalapas sudah memberikan izin mereka untuk keluar, kurang kecepatan. Sebagian sudah dikeluarkan dan tentu dipilih yang terdampak sebenarnya," tuturnya.
Selain itu Utami juga memastikan tak ada narapidana maupun tahanan di sejumlah Lapas dan Rutan itu yang menjadi korban dari gempa dan tsunami di Donggala dan Palu itu.
"Di Donggala enggak ada korban jiwa, di Lapas Palu dan Rutan Poso enggak ada korban jiwa, itu informasi yang kami peroleh," pungkasnya.
Diketahui 1.425 warga binaan dari 12 Lapas dan Rutan belum diketahui keberadaannya. Hal itu berasal dari pendataan warga binaan yang keluar Lapas dan Rutan di wilayah terdampak gempa dan tsunami, yaitu di wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
"Setelah 1 minggu akan ada pencarian oleh satgas yang dibentuk, atas arahan bapak menteri, satgas dari pusat, kanwil Sulsel dan Sulteng. Tentunya kakanwil terus lakukan monitoring terhadap warga binaan yang tidak ada di tempat," kata Utami di Kantor Dirjen P, Jakarta, Senin (1/10/2018).
Sri menyebut pihaknya akan bekerja sama dengan aparat kepolisian dalam melakukan pencarian para tahanan. Kekinian, Tim dari sekretariat jenderal saat ini sedang melakukan pemetaan terhadap data dan jumlah narapidana yang saat ini lepas dari rutan maupun lapas.
"Kami juga mencoba membuka posko di Rutan maupun Lapas Palu untuk sekaligus mendata, karena sampai dengan kemarin hari Minggu ada keluarganya yang melaporkan kepada kami bahwa warga binaan ada di rumah," jelas Utami.
Dirjen PAS perempuan pertama ini juga mengungkapkan sebenarnya sudah ada negosiasi dengan para narapidana untuk diberikan izin untuk keluar.
"Sebenarnya, di Donggala sudah ada negosiasi dan SOP. Napi, siapapun mereka berhak untuk hidup. Sebenarnya Kalapas sudah memberikan izin mereka untuk keluar, kurang kecepatan. Sebagian sudah dikeluarkan dan tentu dipilih yang terdampak sebenarnya," tuturnya.
Selain itu Utami juga memastikan tak ada narapidana maupun tahanan di sejumlah Lapas dan Rutan itu yang menjadi korban dari gempa dan tsunami di Donggala dan Palu itu.
"Di Donggala enggak ada korban jiwa, di Lapas Palu dan Rutan Poso enggak ada korban jiwa, itu informasi yang kami peroleh," pungkasnya.
(sms)