Soal Kekerasan Remaja, Psikolog: Mereka Kurang Bisa Kendalikan Emosi
Selasa, 25 September 2018 - 22:07 WIB
Soal Kekerasan Remaja, Psikolog: Mereka Kurang Bisa Kendalikan Emosi
A
A
A
JAKARTA - Belakangan ini, kerap terjadi kekerasan fisik yang dilakukan sekelompok remaja. Kondisi ini karena remaja sekarang kurang bisa mengendalikan emosi mereka.
Menurut Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Maharani Ardhi Putri, remaja saat ini cenderung melakukan kekerasan ketika berkonflik. Pasalnya mereka kurang memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya.
Hal itu juga merupakan dampak dari sistem pendidikan yang kurang memperhatikan soft skill. "Hal ini mulai perlu diperhatikan seharusnya dalam sistem pendidikan kita sekarang," katanya ketika dihubungi, Selasa (25/9/2018).
Dia melihat banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh remaja tampaknya dalam sistem pendidikan kita, mulai perlu menitikberatkan dalam pengembangan soft skill.
Bahkan dari tingkat yang paling dasar, misalnya TK atau SD. “Sehingga mereka memiliki kemampuan mengelola emosinya dan tidak sedikit-sedikit menyelesaikan konflik dengan kekerasan,” tandasnya.
Kesulitan remaja sekarang dalam meregulasi emosi bisa jadi karena mereka tidak terlatih keterampilannya untuk menyelesaikan masalah secara win-win solution.
Hal ini sebetulnya bisa dilatih sejak kecil sehingga mereka terbiasa untuk tidak hanya berpikir mengenai kepentingan sendiri tetapi juga kepentingan bersama.
“Sehingga diharapkan setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik daripada kekerasan,” jelas Putri.
Sebelumnya, seorang remaja bernama Ramadhan menjadi korban penganiayaan yang dilakukan remaja lain. Korban disabet menggunakan celurit ketika sedang duduk di depan minimarket pada Minggu (23/9/2018) sore. Pelaku yang datang menggunakan motor langsung datang dan membacok dua kali ke korban.
Korban pun mengalami luka cukup parah. Setelah itu pelaku melarikan diri menggunakan motor. Sedangkan korban dilarikan ke RS Citama.
Pemicu penganiayaan ini disebut karena hubungan asmara. Antara korban dan pelaku terjadi selisih paham yang diduga pemicunya karena wanita. "Keterangan yang didapat dari teman korban demikian," kata Kapolsek Pancoran Mas Kompol Roni Agus Wowor.
Menurut Psikolog dari Universitas Pancasila (UP) Maharani Ardhi Putri, remaja saat ini cenderung melakukan kekerasan ketika berkonflik. Pasalnya mereka kurang memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya.
Hal itu juga merupakan dampak dari sistem pendidikan yang kurang memperhatikan soft skill. "Hal ini mulai perlu diperhatikan seharusnya dalam sistem pendidikan kita sekarang," katanya ketika dihubungi, Selasa (25/9/2018).
Dia melihat banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh remaja tampaknya dalam sistem pendidikan kita, mulai perlu menitikberatkan dalam pengembangan soft skill.
Bahkan dari tingkat yang paling dasar, misalnya TK atau SD. “Sehingga mereka memiliki kemampuan mengelola emosinya dan tidak sedikit-sedikit menyelesaikan konflik dengan kekerasan,” tandasnya.
Kesulitan remaja sekarang dalam meregulasi emosi bisa jadi karena mereka tidak terlatih keterampilannya untuk menyelesaikan masalah secara win-win solution.
Hal ini sebetulnya bisa dilatih sejak kecil sehingga mereka terbiasa untuk tidak hanya berpikir mengenai kepentingan sendiri tetapi juga kepentingan bersama.
“Sehingga diharapkan setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik daripada kekerasan,” jelas Putri.
Sebelumnya, seorang remaja bernama Ramadhan menjadi korban penganiayaan yang dilakukan remaja lain. Korban disabet menggunakan celurit ketika sedang duduk di depan minimarket pada Minggu (23/9/2018) sore. Pelaku yang datang menggunakan motor langsung datang dan membacok dua kali ke korban.
Korban pun mengalami luka cukup parah. Setelah itu pelaku melarikan diri menggunakan motor. Sedangkan korban dilarikan ke RS Citama.
Pemicu penganiayaan ini disebut karena hubungan asmara. Antara korban dan pelaku terjadi selisih paham yang diduga pemicunya karena wanita. "Keterangan yang didapat dari teman korban demikian," kata Kapolsek Pancoran Mas Kompol Roni Agus Wowor.
(ysw)