Dikucilkan, Korban Perkosaan Ayah Kandung Tawarkan Adopsi Bayi

Rabu, 25 Juli 2018 - 16:06 WIB
Dikucilkan, Korban Perkosaan...
Dikucilkan, Korban Perkosaan Ayah Kandung Tawarkan Adopsi Bayi
A A A
MOJOKERTO - ER (22) korban perkosaan ayah kandungnya, menawarkan bayinya untuk diadopsi. Hal ini terpaksa dilakukannya, karena kesulitan biaya persalinan.Selain permasalahan biaya, korban yang sudah mengandung sekitar enam bulan, selama ini juga dikucilkan warga. Sehingga, dia harus keluar dari kampungnya, Desa Kemasan Tani, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.Kasus pemerkosaan yang menimpa ER tersebut, sudah ditangani polisi setelah ibu korban melaporkan kasus pencabulan terhadap anak kandungnya itu. (Baca: Begini Kisah Tragis ER, Korban Perkosaan Ayah Kandung hingga Hamil 7 Bulan)

Diketahui, korban telah dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri, AY (47), hingga hamil. Hingga kini, AY masih menjadi buronan polisi lantaran melarikan diri.
Salah satu Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Gondang, Gunadi mengatakan, saat ini korban tidak berada di rumahnya. Menyusul keberatan warga, atas kondisi korban yang hamil di luar nikah.
Kondisi korban sendiri, ujar Gunadi, mengalami depresi berat karena ingin pulang. "Dia (ER) ingin kembali ke rumahnya. Tapi situasi di kampungnya begitu (ditolak)," ujar Gunadi, Rabu (25/7/2018).

Kasus yang menimpa korban, menurutnya memang komplek. Selain menjadi korban pemerkosaan, dan ditolak warga di kampungnya. Korban, juga harus memenuhi biaya perawatan janin yang dikandungnya hingga persalinan nanti.

Terlebih, dari hasil pemeriksaan medis, dimungkinkan korban melakukan persalinan dengan jalan operasi. "Biayanya tidak sedikit. Saya ikut mengawal masalah ini, terutama bagaimana janin yang dikandung korban hingga bisa dilahirkan selamat," tandas Gunadi.

Hal yang dimungkinkan, korban butuh orang tua asuh untuk membantu memenuhi biaya perawatan, hingga persalinan nanti. Karena, orang tua korban juga terbilang tidak mampu.

"Kita saat ini, lebih berpikir bagaimana korban bisa keluar dari situasi depresi yang dialaminya. Dia ingin pulang. Kita juga berpikir bagaimana nanti korban bisa melakukan persalinan dengan layak sehingga baik korban maupun janinnya bisa diselamatkan," pungkasnya.
(vhs)
Berita Terkait
KPPB Ajak Masyarakat...
KPPB Ajak Masyarakat Tolak Aksi Kekerasan Terhadap Perempuan
Survei Kemen PPPA: Jumlah...
Survei Kemen PPPA: Jumlah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Menurun
Ketua RPA Perindo: Jangan...
Ketua RPA Perindo: Jangan Sungkan Lapor, Pendampingan Kami Gratis!
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Serius Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
Kampanye 16 Hari Anti...
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Pemkot Depok Minta Warga...
Pemkot Depok Minta Warga Tak Takut Laporkan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak via Hotline
Berita Terkini
BNPB Pulihkan Akses...
BNPB Pulihkan Akses Air Bersih di Merapi dengan Pipanisasi Sepanjang 30 Km
18 menit yang lalu
ITS Dorong Mahasiswa...
ITS Dorong Mahasiswa Kembangkan Inovasi untuk Mendukung Kinerja PLN
20 menit yang lalu
UI Tegaskan Kajian BEM...
UI Tegaskan Kajian BEM Psikologi soal LGBT Bukan Sikap Resmi Kampus
44 menit yang lalu
Warga Pertanyakan Perubahan...
Warga Pertanyakan Perubahan Aliran Kali Cikokol dan Luas Taman Potret
2 jam yang lalu
BMKG Operasikan Radar...
BMKG Operasikan Radar Laut Canggih di Sumatera, Percepat Peringatan Dini Tsunami
2 jam yang lalu
Soroti Kasus Penyiksaan...
Soroti Kasus Penyiksaan di Bandung, Wakil Ketua DPRD Jabar Gagas Siskamling Digital
2 jam yang lalu
Infografis
Kronologi Kasus Perdagangan...
Kronologi Kasus Perdagangan 25 Bayi Asal Jabar ke Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved