Anak Krakatau Meletus, PVMBG Jamin Tak Ganggu Pelayaran-Penerbangan

Selasa, 26 Juni 2018 - 00:03 WIB
Anak Krakatau Meletus,...
Anak Krakatau Meletus, PVMBG Jamin Tak Ganggu Pelayaran-Penerbangan
A A A
BANDUNG - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang masuk wilayah Provinsi Lampung, dua kali menyemburkan asal tebal setinggi 1.300 meter dan 600 meter di atas permukaan laut, Senin (25/6/2018) sekitar pukul 07.14 WIB.

Aktivitas gunung api ini patut diwaspadai sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati gunung dalam radius lebih dari 1 kilometer.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunungapi Wilayah Timur PVMBG Badan Geologi Dr Devy Kamil Syahbana mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang memiliki ketinggian 300 meter itu, terpantau sejak Senin 18 Juni 2018.

Saat itu, gunung api tersebut mengeluarkan embusan-embusan disertai abu vulkanik, namun tipis.

Aktivitas tersebut terus dipantau oleh PVMBG dari pos pengamatan Kalianda, Lampung dan Pasauran, Banten. Kemudian pada Kamis 21 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau menyemburkan abu vulkanik dengan ketinggian 100-200 meter dari puncaknya atau 400-600 meter di atas permukaan laut.

“Puncaknya, dua kali erupsi terjadi pada Senin 25 Juni 2018. Tinggi kolom abu letusan Gunung Anak Krakatau teramati lebih dari 1 kilometer dari puncak atau lebih dari 1.305 meter dari atas permukaan laut. Erupsi pertama ini terjadi pada pukul 07.14 WIB. Kemudian gunung api tersebut kembali menyemburkan abu vulkanik dengan ketinggian 300 meter dari puncak atau 600 meter dari permukaan laut sekitar pukul 14.30 WIB. Kolom abu itu berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara,” kata Devy kepada SINDONews Senin malam.

Devy mengemukakan, berdasarkan data yang terekam seismograf di pos pengamatan Gunung Anak Krakatau, ampilutido erupsi tercatat 30 milimeter dan durasi selama lebih dari 45 detik. Karena energinya masih sangat kecil, erupsi tersebut tak mengganggu pelayaran kapal penyeberangan Bakauheni-Merak dan penerbangan pesawat udara. Sebab, getaran yang ditimbulkan erupsi sangat kecil dan hanya dirasakan di sekitar gunung atau dalam radius paling dekat 1 kilometer.

“Kami juga memantau erupsi Gunung Anak Krakatau dari citra satelit. Dari pengamatan satelit, abu vulkanik yang disemburkan Gunung Anak Krakatau tidak terlihat, artinya sangat tipis sehingga tidak mengganggu penerbangan pesawat. Berbeda dengan letusan Gunung Merapi, Gunung Agung, dan Lokon yang sangat kelihatan dari satelit. Meski begitu, PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan tidak boleh mendekat gunung tersebut dalam radius 1 kilometer,” ujar Devy.

Gunung Krakatau, tutur Devy, memiliki sejarah panjang. Dulunya, Gunung Krakatau memiliki tiga tubuh gunung, yakni Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan. Ketiga tubuh gunung ini saling bertumpuk. Pada erupsi 1883, tubuh Gunung Danan dan Perbuatan hancur dan hilang. Sedangkan tubuh Gunung Rakata, tersisa setengahnya.

Setelah megaletusan itu, terdapat tiga gugusan pulau, yakni sisa Gunung Rakata, Pulau Sertung, dan Panjang. Ketiga gugusan pulau ini membentuk segitiga. Pada 1927, peneliti gunung api asal Belanda menemukan, di bekas tubuh Gunung Danan yang telah hilang dari permukaan, keluar erupsi dari dasar laut.

“Ini menandai Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan. Jika dihitung dari 1927 sampai sekarang, sekitar 91 tahun, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini mencapai 300 meter. Artinya, gunung ini tumbuh, tiap tahun rata-rata bertambah tinggi 3 meter,” tutur dia.

Karena tumbuh, ungkap Devy, Gunung Anak Krakatau ini sering meletus atau erupsi. Jadi sebetulnya, erupsi yang terjadi sejak Senin 18 Juni sampai 25 Juni 2018 itu, sudah biasa dan sering terjadi, bukan peristiwa luar biasa.

“Erupsi yang baru-baru ini terjadi, masih sama dengan tahun-tahun ke belakang. Jadi belum mengganggu pelayaran kapal penyeberangan dan penerbangan pesawat udara. Gempa vulkanik yang terjadi pun sangat kecil. Pulau terdekat hanya Pulau Panjang dan Sertung. Di kedua pulau ini tidak ada penghuni. Kalau untuk nelayan disarankan untuk tidak beraktivitas di dekat Palau Rakata dalam radius di luar satu kilometer,” ungkap Devy.
(sms)
Berita Terkait
Ini 7 Dampak Letusan...
Ini 7 Dampak Letusan Krakatau Tahun 1883 ke Dunia
5 Dampak Letusan Gunung...
5 Dampak Letusan Gunung Krakatau di Tahun 1883, Dunia Sampai Dikira Sudah Kiamat
Suara Letusan Gunung...
Suara Letusan Gunung Krakatau Begitu Keras, Mampu Pecahkan Gendang Telinga
Gunung Anak Krakatau...
Gunung Anak Krakatau 87 Kali Erupsi sejak Awal 2023
Terus Menerus Erupsi,...
Terus Menerus Erupsi, Gunung Anak Krakatau Alami 9 Letusan Bikin Warga Khawatir
Ini Peta Kawasan Rawan...
Ini Peta Kawasan Rawan Bencana Erupsi Gunung Anak Krakatau
Berita Terkini
Pembunuh Sadis Pengemudi...
Pembunuh Sadis Pengemudi Ojol di Tangerang Ditetapkan Jadi Tersangka
5 menit yang lalu
Pemkot Tangsel Bangun...
Pemkot Tangsel Bangun 3.280 PJU, Benyamin Davnie: Agar Aktivitas Masyarakat Aman
7 menit yang lalu
Densus 88 Antiteror:...
Densus 88 Antiteror: Bom Rakitan di MAN 3 Padang Berdaya Ledak Rendah
2 jam yang lalu
Pemkot Tangsel Perkuat...
Pemkot Tangsel Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak untuk Cegah Stunting
2 jam yang lalu
Nurdiansyah Ungkap Dinamika...
Nurdiansyah Ungkap Dinamika Menjelang Musda Demokrat Aceh
2 jam yang lalu
Proyek Perpanjangan...
Proyek Perpanjangan 3 Peron Rampung, Stasiun Bogor Kini Bisa Layani 12 Rangkaian Kereta
3 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved