MRT Jakarta Gunakan Sistem Persinyalan Super Canggih dan Aman
Kamis, 31 Mei 2018 - 21:44 WIB
MRT Jakarta Gunakan Sistem Persinyalan Super Canggih dan Aman
A
A
A
JAKARTA - Jakarta tak lama lagi akan memiliki Mass Rapid Transit (MRT) atau moda raya terpadu/angkutan cepat terpadu. Sebanyak 12 gerbong MRT sudah ada di Jakarta dan siap diuji coba perdana untuk fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI pada Juni 8 mendatang. Lantas seperti apa sistem persinyalan MRT tersebut?
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, mengatakan, dalam mengoperasikan MRT pihaknya akan menggunakan sistem persinyalan canggih, yaitu Communication-Based Train Control (CBTC).
"CBTC ini merupakan sistem kendali kereta berbasis komunikasi dengan frekuensi radio (RF) sebagai komunikasi data antar berbagai subsistem yang terintegrasi," ujarnya Kamis (31/5/2018) sebagaimana dikutip dari laman berita resmi Pemprov DKI, BeritaJakarta.
Ia menjelaskan, alat persinyalan canggih yang berasal dari Jepang tersebut memiliki dua fungsi utama, yaitu mendeteksi kereta dan memproteksi kereta jika melaju terlalu cepat.
Untuk mendeteksi kereta, menggunakan perangkat radio atau wayside radio set (WRS) yang ditempatkan di jalur kereta dan di rangkaian kereta. Radio itu tersambung dengan operation control center (OCC). Dengan demikian kereta akan beroperasi tanpa masinis dan dikendalikan OCC.
"Artinya, dengan alat ini kita bisa mengetahui di mana titik kereta berada setiap detik dan tidak akan salah. Jadi tingkat proteksinya sangat tinggi," jelasnya.
Untuk sisi keamanan, sistem CBTC akan mendeteksi jika kereta MRT melaju terlalu cepat. Dengan demikian bisa diantisipasi lebih dini. “Dengan fungsi tersebut, sistem persinyalan ini sangat canggih dan aman,” tandasnya.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, mengatakan, dalam mengoperasikan MRT pihaknya akan menggunakan sistem persinyalan canggih, yaitu Communication-Based Train Control (CBTC).
"CBTC ini merupakan sistem kendali kereta berbasis komunikasi dengan frekuensi radio (RF) sebagai komunikasi data antar berbagai subsistem yang terintegrasi," ujarnya Kamis (31/5/2018) sebagaimana dikutip dari laman berita resmi Pemprov DKI, BeritaJakarta.
Ia menjelaskan, alat persinyalan canggih yang berasal dari Jepang tersebut memiliki dua fungsi utama, yaitu mendeteksi kereta dan memproteksi kereta jika melaju terlalu cepat.
Untuk mendeteksi kereta, menggunakan perangkat radio atau wayside radio set (WRS) yang ditempatkan di jalur kereta dan di rangkaian kereta. Radio itu tersambung dengan operation control center (OCC). Dengan demikian kereta akan beroperasi tanpa masinis dan dikendalikan OCC.
"Artinya, dengan alat ini kita bisa mengetahui di mana titik kereta berada setiap detik dan tidak akan salah. Jadi tingkat proteksinya sangat tinggi," jelasnya.
Untuk sisi keamanan, sistem CBTC akan mendeteksi jika kereta MRT melaju terlalu cepat. Dengan demikian bisa diantisipasi lebih dini. “Dengan fungsi tersebut, sistem persinyalan ini sangat canggih dan aman,” tandasnya.
(thm)