Bernostalgia di Kota Penuh Sejarah

Minggu, 18 Maret 2018 - 12:05 WIB
Bernostalgia di Kota...
Bernostalgia di Kota Penuh Sejarah
A A A
YOGYAKARTA dan Sleman meski dari survei Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) tahun 2017 tidak masuk dalam jajaran tujuh kota paling nyaman untuk tempat tinggal.

Namun, secara faktual di kota ini, terutama Sleman, terus tumbuh, permukiman baru, baik yang berupa perumahan maupun kaveling siap bangun dan dipastikan selalu sold out atau selalu dibeli konsumen. Harga rumah di Yogyakarta dan Sleman ini rata-rata Rp500 juta. Dengan ukuran paling kecil 45/150.

Hanya saja, yang membeli rumah di daerah ini kebanyakan pendatang atau bukan penduduk sekitar. Mereka membeli rumah pun beragam, ada yang memang mencari untuk tempat tinggal dan menetap, tapi ada juga sebagai investasi dan bagi warga luar Sleman dan Yogyakarta, terutama luar Jawa, biasanya membelikan anaknya yang sedang menempuh studi di sini.

Khusus yang memang untuk tempat tinggal, memilih kota ini, di antaranya, karena pindah kerja dan memang sengaja ingin menetap di sini, terutama para pensiunan yang asalnya dari luar Yogyakarta. Baik yang dulunya pernah tinggal di Yogyakarta karena pernah studi atau bekerja maupun yang pernah berkunjung.

Selain ingin mengenal nostalgia romantisme, juga karena Yogyakarta dan Sleman, terutama Sleman, merupakan kota urban dengan fasilitas yang memadai. Baik yang menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, pendidikan, ataupun destinasi wisata, semuanya ada di tempat tersebut. Termasuk budaya dan adat istiadat yang tetap terpelihara dengan baik.

Jadi, tidak mengherankan jika para pensiunan mengidolakan kota ini untuk hunian. “Dari pengamatan saya, hal-hal itulah yang menjadi alasan para pensiunan mengimpikan tinggal di Yogya karena nyaman dan fasilitasnya juga lengkap,” kata Ketua Magister Arsitektur dan Desain Kawasan Binaan (Rancang Kota) UGM Ikaputra.

Selain kota budaya, Yogyakarta juga memiliki banyak predikat, di antaranya kota pendidikan. Hal tersebut, membuat pensiunan tergelitik tetap ingin mendapatkan ilmu secara langsung dalam dinamika kehidupan, yaitu sebuah pengetahuan. Terlebih untuk Sleman memiliki posisi yang ideal.

Di mana sebagai kabupaten yang diasumsikan sebagai daerah perdesaan, tidak terjadi di Sleman. Sebab di Sleman, ada keduanya, yaitu ada yang bernuansa perdesaan dan ada yang bernuansa perkotaan atau yang sering disebut sebagai daerah urban. Sebagai daerah urban inilah yang menarik untuk dijadikan tempat tinggal.

Sebab, tetap ada nuansa desa yang nyaman, sejuk, dan tenang, tetapi fasilitas untuk gaya hidup modern juga tersedia. Baik yang menyangkut layanan transportasi maupun perbelanjaan. Bahkan untuk perbelanjaan, selain masih ada pasar tradisional, juga ada pasar modern. Di mana untuk perkotaan hal tersebut sudah tidak dapat ditemui.

Ditambah dengan keunikan kebudayaan, bercampurnya kehidupan seniman dan pelajar serta banyaknya destinasi wisata alam yang menjadikan kota ini memiliki kehidupan yang dinamis. “Inilah yang menjadikan Sleman sekarang banyak diserbu para pendatang. Sebab, dekat dengan alam dan tersedianya fasilitas urban,” ungkap Ikaputra.

Hal lainnya yang membuat Yogyakarta diminta untuk tempat tinggal para pensiunan, yaitu karena Yogyakarta merupakan kota yang masih nyaman dibandingkan dengan kota besar lainnya. Meskipun untuk hal tersebut lebih karena faktor intangible , misalnya karena sejarah (pensiunan pernah studi di Yogyakarta), jadi bukan yang sifatnya fisik dan fasilitas.

Faktor intangible lainnya, yaitu kerukunan warga yang dibuktikan dengan adanya keragaman yang tidak terlalu dipermasalahkan. Ada juga persepsi Yogya aman dan murah. Faktor-faktor intangible tadi seakan menciptakan persepsi kedamaian dan ketenteraman,” kata arsitektur yang juga Wakil Rektor I UII Yogyakarta Ilya Fadjar Mahariika.

Namun karena sifatnya persepsi terhadap hal-hal yang intangible, kemungkinan besar bisa hilang dengan fakta-fakta kemacetan di mana-mana, fenomena klithih yang akan mengganggu persepsi keamanan ataupun perkembangan yang terlalu cepat menjadi metropolitan yang sama saja dengan yang lain dengan bangunan tinggi (hotel dan apartemen) yang marak dengan supercepat.

“Kecepatan perubahan ini akan sulit dipahami dan potensial mengubah persepsi dengan cepat pula,” paparnya. Hal yang sama juga diungkapkan Ikaputra untuk transportasi dan jalur pedestrian memang harus menjadi perhatian.

Sebab, meski sekarang masih bisa ditolerir, untuk kemacetan sekarang sudah mulai terjadi di Yogyakarta. Karena itu, harus diciptakan transportasi publik dan menambah jalur pedestrian yang nyaman sebagai ruang publik, sebagaimana yang ada di Malioboro. (Priyo Setyawan)
(nfl)
Berita Terkait
Meluruskan Mitos Seputar...
Meluruskan Mitos Seputar Osteoporosis
Tes Masif Terus Intensifikasi,...
Tes Masif Terus Intensifikasi, Masyarakat Diminta Menerapkan Protokol Kesehatan
Kapolres Lahat Panen...
Kapolres Lahat Panen Raya di Desa Pagar Ruyung
Peduli Lansia, Ketua...
Peduli Lansia, Ketua K3S Denpasar Serahkan Bantuan Kursi Roda.
KPU Kota Denpasar Bersinergi...
KPU Kota Denpasar Bersinergi dengan Kominfos dan Humas Pemkot Denpasar
Tiga Bulan Dibentuk,...
Tiga Bulan Dibentuk, Kinerja Tim Implementasi MoU Helshinki Dipertanyakan
Berita Terkini
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
39 menit yang lalu
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
1 jam yang lalu
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
1 jam yang lalu
PLN Cikarang Tegaskan...
PLN Cikarang Tegaskan Jarak Aman 3 Meter, Kegiatan Berisiko Tinggi Wajib Koordinasi
2 jam yang lalu
5 Jam Diperiksa Polda...
5 Jam Diperiksa Polda Metro, Saiful Mujani Dicecar 37 Pertanyaan
2 jam yang lalu
Tiket Jakarta Fair 2026...
Tiket Jakarta Fair 2026 Mulai Dibuka Hari ini, Targetkan 6 Juta Pengunjung
2 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved