Injak Perut Istri Lagi Hamil Tua, Kasdi Malah Mengaku Cinta Mati
Rabu, 10 Januari 2018 - 17:33 WIB
Injak Perut Istri Lagi Hamil Tua, Kasdi Malah Mengaku Cinta Mati
A
A
A
JAKARTA - Kasdi, suami yang tega menginjak perut istrinya yang lagi hamil tua hingga membuat sang bayi yang diberi nama M Ridho, meninggal dunia, diperlihatkan kepada media di Polda Metro Jaya, Rabu (10/1/2018).
Di hadapan awak media, Kasdi yang mengenakan baju tahanan warna oranye dan berpeci batik warna putih, hanya tertunduk lesu. Kepada wartawan, Kasdi pun mengaku menyesali perbuatannya itu, karena akhirnya membuat bayi dalam kandungan istrinya meninggal pasca dilahirkan di rumah sakit. "Menyesal, saya khilaf," ujar Kasdi. ( Baca: Ini Penyebab Meninggalnya Bayi Lina di RSIA Budi Kemuliaan)
Hanya saja Kasdi menolak membeberkan alasannya melakukan penganiayaan terhadap istrinya itu. Ia hanya menyampaikan, selama di rumah kerap membeli makan di warung, karena istrinya jarang memasak untuknya. Meski demikian, ia mengaku sangat mencintai sang istri. "Iya, cinta mati," tuturnya.
Pria yang keseharian bekerja di toko keramik di kawasan Rawasari, Johar Baru itu juga mengaku sudah meminta maaf kepada istrinya saat di rumah sakit. Dia mengklaim istrinya sudah memaanfkannya. Dia pun meminta kepada istrinya untuk menjenguknya selama ditahan di Polda Metro Jaya. (Baca: Injak Perut Istri Lagi Hamil Tua, Kasdi Terancam 20 Tahun Penjara)
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta, mengatakan, kondisi korban sejauh ini sudah mulai membaik. Saat diperiksa pelaku juga mengaku menyelesali kejadian ini. "Sekilas pelaku menyesali melakukan perbuatan ini. Mungkin karena kecemburuan bisa menutup akal sehatnya," katanya.
Nico sangat menyesalkan kejadian ini. Sebab pelaku seharusnya bisa menanyakan kegelisaannya kepada istrinya secara baik-baik. Agar kasus serupa tidak terjadi, Nico menyarankan agar semua pasutri, apabila mengalami persoalan sosial, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya, diselesaikan secara baik-baik. (Baca: Polisi Lakukan Tes DNA Bayi di Kasus Suami Injak Istri Lagi Hamil)
"Masyarakat bisa mengadukannya pada lembaga pemerintahan untuk dibantu mencarikan solusi. Misalnya mengadu ke RT/RW, Dinas Sosial, KPAI, Komnas Perempuan, Kepolisian, dan lembaga lainnya," ucapnya.
Di hadapan awak media, Kasdi yang mengenakan baju tahanan warna oranye dan berpeci batik warna putih, hanya tertunduk lesu. Kepada wartawan, Kasdi pun mengaku menyesali perbuatannya itu, karena akhirnya membuat bayi dalam kandungan istrinya meninggal pasca dilahirkan di rumah sakit. "Menyesal, saya khilaf," ujar Kasdi. ( Baca: Ini Penyebab Meninggalnya Bayi Lina di RSIA Budi Kemuliaan)
Hanya saja Kasdi menolak membeberkan alasannya melakukan penganiayaan terhadap istrinya itu. Ia hanya menyampaikan, selama di rumah kerap membeli makan di warung, karena istrinya jarang memasak untuknya. Meski demikian, ia mengaku sangat mencintai sang istri. "Iya, cinta mati," tuturnya.
Pria yang keseharian bekerja di toko keramik di kawasan Rawasari, Johar Baru itu juga mengaku sudah meminta maaf kepada istrinya saat di rumah sakit. Dia mengklaim istrinya sudah memaanfkannya. Dia pun meminta kepada istrinya untuk menjenguknya selama ditahan di Polda Metro Jaya. (Baca: Injak Perut Istri Lagi Hamil Tua, Kasdi Terancam 20 Tahun Penjara)
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta, mengatakan, kondisi korban sejauh ini sudah mulai membaik. Saat diperiksa pelaku juga mengaku menyelesali kejadian ini. "Sekilas pelaku menyesali melakukan perbuatan ini. Mungkin karena kecemburuan bisa menutup akal sehatnya," katanya.
Nico sangat menyesalkan kejadian ini. Sebab pelaku seharusnya bisa menanyakan kegelisaannya kepada istrinya secara baik-baik. Agar kasus serupa tidak terjadi, Nico menyarankan agar semua pasutri, apabila mengalami persoalan sosial, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya, diselesaikan secara baik-baik. (Baca: Polisi Lakukan Tes DNA Bayi di Kasus Suami Injak Istri Lagi Hamil)
"Masyarakat bisa mengadukannya pada lembaga pemerintahan untuk dibantu mencarikan solusi. Misalnya mengadu ke RT/RW, Dinas Sosial, KPAI, Komnas Perempuan, Kepolisian, dan lembaga lainnya," ucapnya.
(thm)