Biaya Pembangunan Simpang Susun Semanggi Masih Dihitung

Kamis, 30 November 2017 - 06:10 WIB
Biaya Pembangunan Simpang...
Biaya Pembangunan Simpang Susun Semanggi Masih Dihitung
A A A
JAKARTA - Sejak diresmikan pada 17 Agustus 2017 lalu, aset Simpang Susun Semanggi (SSS) belum menjadi milik Pemprov DKI. Anggaran pembangunan yang menggunakan dana Koefensi Luas Bangunan (KLB) itu hingga kini masih dihitung.

Kepala Seksi Pembangunan Jalan Tidak sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hananto Krisna mengatakan, biaya pembangunan SSS sepenuhnya menggunakan dana KLB PT Mitra Panca Persada. Rincian pembangunannya sendiri merupakan bagian dari kontrak PT Wijaya Karya selaku kontraktor dan PT MPP selaku pengembang.

Hananto mengaku tidak mengetahui rincian pembangunan, termasuk besaran anggaran lampu LED yang terpasang melingkar di SSS tersebut. "Tim appraisal masih proses untuk perhitungan nilai asetnya. Mereka berada di bawah koordinasi Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD)," kata Hananto melalui pesan singkatnya pada Rabu, 29 November 2017.

Kepala Dinas Bina Marga, Yusmada Faisal menuturkan, total KLB perusahaan PT MPP itu sekitar Rp579 Miliar. Sedangkan hitungan pembanguna SSS dari mereka sebesar Rp369 Miliar. Artinya, ada sisa sekitar Rp210 miliar apabila tim appraisal nanti memiliki hitungan yang sama. "Nah sisa itu akan digunakan untuk penataan ulang jalan atau pedestrian di Jalan Sudirman di luar area MRT," ucapnya.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Gamal Sinurat mengatakan, rincian pembangunan dapat diketahui apabila tim appraisal sudah selesai melakukan penghitungan total biaya pebangunan. Menurutnya, jika nilainya kurang seperti dalam perjanjian kerja sama, pengembang harus membangun sarana prasarana lagi. "Ya BPAD yang mengetahui kapan serah terima dilakukan," ujarnya.

Kepala BPAD Ahmad Firdaus berharap Berita Acara Serah Terima (BAST) sudah dilakukan sebelum pergantian tahun ini. Menurutnya, setelah ada BAST, serah terima aset baru bisa dilakukan.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Gerindra Abdul Ghani mengatakan, penyerahan aset SSS milik perusahaan swasta harus dilakukan terlebih dahulu. Sehingga, besaran dana pembangunan SSS dengan peningkatan luas gedung perusahaan swasta seimbang.

"Harus diaudit terlebih dahulu. Saya dengar dana SSS sekitar Rp350 miliar? Apakah sesuai dengan bangunanya? Lalu apakah seimbang dengan nilai KLB perusahaan swasta?. Kalau tidak ya jadi temuan dan harus dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Ghani menjelaskan, banyak pembangunan di Jakarta era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menggunakan dana perusahaan swasta, baik itu KLB ataupun Corporate Sosial Responcibility (CSR). Namun, lanjut Ghani, pembangunan yang seharusnya menjadi milik Pemprov DKI tidak tercatat dan banyak yang belum diserahterimakan.

"Banyak aset baik gedung atau taman yang dibangun oleh swasta. Saya tanya ke Badan Aset, katanya belum terdata. Pantas saja lahan sendiri di Cengkareng di beli sendiri oleh Pemprov DKI," ujarnya.

Untuk mencegah hal tersebut, Ghani sebagai Ketua Fraksi mengusulkan agar Pemprov DKI membentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengelolaan Aset Hasil KLB atau CSR perusahaan swasta. Dengan adanya Perda, lanjut dia, Gubernur DKI tidak bisa begitu saja menggunakan dana perusahaan swasta untuk pembangunan, khususnya infrastruktur.

"Pembangunan infrastruktur itu berkelanjutan dan sebaiknya menggunakan anggaran daerah. Dengan anggaran daerah, perangkat daerah sebagai pelaksana merasa memiliki dan bermanfaat bagi masyarakat yang terkena dampak pembangunan," ucapnya.
(whb)
Berita Terkait
Pemprov DKI Buka Pelatihan...
Pemprov DKI Buka Pelatihan Kerja untuk Pendatang Pascalebaran
Pemprov DKI Bongkar...
Pemprov DKI Bongkar 98 Tiang Monorel Mangkrak, Anggaran Rp100 Miliar
Pemprov DKI Pastikan...
Pemprov DKI Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Ramadan
Pemprov DKI Siapkan...
Pemprov DKI Siapkan Empat Waduk untuk Antisipasi Banjir
Pemprov DKI Luncurkan...
Pemprov DKI Luncurkan Kartu Peduli Anak dan Remaja Jakarta
Pemprov DKI Cabut KJP...
Pemprov DKI Cabut KJP dan KJMU yang Tidak Tepat Sasaran
Berita Terkini
7 Pengeroyok Prajurit...
7 Pengeroyok Prajurit TNI Kodam Cenderawasih hingga Tewas Ditetapkan sebagai Tersangka
55 menit yang lalu
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
1 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
1 jam yang lalu
Apresiasi Polda Sumut...
Apresiasi Polda Sumut Ungkap Ribuan Kasus Narkoba, Sahroni: Kejar Bandarnya, Selamatkan Masyarakat!
1 jam yang lalu
Prajurit TNI Kodam XVII...
Prajurit TNI Kodam XVII Cenderawasih Tewas Dikeroyok Sembilan Orang di Kabupaten Tangerang
2 jam yang lalu
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved