Gubernur Anies Tegaskan Lapangan Monas Milik Rakyat
Senin, 27 November 2017 - 01:30 WIB
Gubernur Anies Tegaskan Lapangan Monas Milik Rakyat
A
A
A
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan, Lapangan Medan Merdeka atau yang biasa disebut lapangan Monumen Nasional (Monas) merupakan milik rakyat. Hal itu menurutnya dilihat berdasarkan sejarah sejak zaman penjajahan.
"Lapangan ini memang dari dulu lapangannya rakyat, tempat berkumpulnya rakyat bukan lapangan isolasi, ini adalah milik rakyat," kata Anies dalam sambutan di acara Tausiyah Kebangsaan, Monas, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017) malam tadi.
Anies menjelaskan, lapangan Medan Merdeka sebelum ada Monumen Nasional memang sering digunakan oleh masyarakat pada waktu itu untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Monas sendiri mulai dibangun pada tahun 1962 dan baru berdiri pada tahun 1975.
AniesIa menambahkan, pada zaman Belanda, lapangan itu sendiri disebut sebagai Lapangan Banteng, dan pada zaman penjajahan Jepang, disebut sebagai lapangan Ikada (Ikatan Atletik Jakarta), pada waktu itu sering digunakan warga sebagai tempat olahraga.
Meski Belanda dan Jepang memberi nama sendiri, tetapi di mata rakyat, lapangan itu disebut sebagai lapangam Gambir, karena di daerah itu terdapat banyak pohon Gambir. Kenangan yang tersisa ialah Stasiun Gambir yang dekat dengan lapangan tersebut.
"Jangan lupa, dulu, pembacaan Proklamasi juga direncanakan dibacakan di sini. Tapi, karena satu lain hal, jadinya di Jalan Pegangsaan," kata Anies. Selain itu, lanjut Anies, begitu Republik ini berdiri, rapat akbar pertama diselenggarakan di lapangan tersebut
"Lapangan ini memang dari dulu lapangannya rakyat, tempat berkumpulnya rakyat bukan lapangan isolasi, ini adalah milik rakyat," kata Anies dalam sambutan di acara Tausiyah Kebangsaan, Monas, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017) malam tadi.
Anies menjelaskan, lapangan Medan Merdeka sebelum ada Monumen Nasional memang sering digunakan oleh masyarakat pada waktu itu untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Monas sendiri mulai dibangun pada tahun 1962 dan baru berdiri pada tahun 1975.
AniesIa menambahkan, pada zaman Belanda, lapangan itu sendiri disebut sebagai Lapangan Banteng, dan pada zaman penjajahan Jepang, disebut sebagai lapangan Ikada (Ikatan Atletik Jakarta), pada waktu itu sering digunakan warga sebagai tempat olahraga.
Meski Belanda dan Jepang memberi nama sendiri, tetapi di mata rakyat, lapangan itu disebut sebagai lapangam Gambir, karena di daerah itu terdapat banyak pohon Gambir. Kenangan yang tersisa ialah Stasiun Gambir yang dekat dengan lapangan tersebut.
"Jangan lupa, dulu, pembacaan Proklamasi juga direncanakan dibacakan di sini. Tapi, karena satu lain hal, jadinya di Jalan Pegangsaan," kata Anies. Selain itu, lanjut Anies, begitu Republik ini berdiri, rapat akbar pertama diselenggarakan di lapangan tersebut
(whb)