Kemenhub Akan Kaji Penutupan Perlintasan KA Janti

Jum'at, 17 November 2017 - 20:26 WIB
Kemenhub Akan Kaji Penutupan...
Kemenhub Akan Kaji Penutupan Perlintasan KA Janti
A A A
YOGYAKARTA - Upaya protes penutupan jalan sebidang perlintasan kereta api Janti Yogyakarta belum berakhir. Pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melakukan kajian karena masih ada beberapa titik kelemahan dalam penutupan yang dilakukan akhir Oktober lalu.

Direktur Keselamatan Perkeretaapian Ditjen Perkeretaapian Kemenhub, Edi Nur Salam mengatakan, saat ini masih dilakukan pembicaraan dengan perwakilan warga. Pihaknya mengakui masih ada banyak kritik dari masyarakat berkaitan dengan penutupan tersebut. Diantaranya adalah sosialisasi yang tak merata, minim persiapan, belum adanya rambu lalu lintas, hingga dinilai tak ada jalan alternatif.

"Kami akan lakukan pengkajian untuk meminimalisasi dampak. Jangan sampai ini menjadi pil pahit warga, kita cari solusi sehingga warga bisa mendapatkan manfaat," ungkapnya kepada wartawan usai pertemuan di Dinas Perhubungan DIY, Jumat (17/11/2017).

Diakuinya, penutupan perlintasan sebidang akan menemukan tantangan yang cukup berat. Selain di bawah jembatan layang Janti yang diprotes warga, rencana penutupan perlintasan lain juga demikian.

"Misalnya di bawah jembatan layang Lempuyangan yang jadi salah satu akses utama warga sekitar. Ini juga berat," katanya.

Untuk itu pemerintah akan membuat tahapan penutupan dengan baik. Diantaranya untuk menghilangkan jalan di perlintasan sebidang.

"Target kita jalan nasional di perlintasan sebidang dalam setahun ke depan tak boleh dilewati. Tahun berikutnya akan disusul untuk jalan provinsi dan kabupaten/kota," ucap Edi.

Ketika disinggung solusi, Edi mengaku masih belum bisa menjelaskan. Hanya saja semua masih akan dikaji lebih lanjut.

Sementara, Kepala Dusun Catur Tunggal, Desa Catur Tunggal Heri Sugiyarto mengaku terus menerima keluhan dari warga. Untuk itu warga tetap menolak kebijakan sepihak dari pihak PT KAI tersebut."Penurunan omset warga mencapai 80% ," timpalnya.

Diapun mengaku sesuai aturan perkerataapian, perlintasan sebidang harus ditutup. Namun dia berharp ada solusi dan tidak asal menutup akses warga yang sudah sejak lama menggunakan jalur dan menikmati kegiatan ekonomi di sekitar perlintasan kereta api.

"Kami berharap ada win- win solution, paling tidak ada akses alternatid warga sehingga bisa melintas sehingga masih bisa menjalankan roda ekonomi. Di utara rel ada sekitar 90 pedagang yang nyaris gulung tikar akibat kebijakan itu," pungkasnya.
(sms)
Berita Terkait
Cilegon Gempar, Jalan...
Cilegon Gempar, Jalan Kaki di Rel Warga Merak Tewas Tertabrak Kereta Api
Anggota Parlemen India...
Anggota Parlemen India Jalan-jalan di Kereta Hanya Pakai Baju Dalam
Tak Mau Punah, Kereta...
Tak Mau Punah, Kereta Api Bakal Adu Cepat dengan Jalan Tol
Tragis! Jalan Kaki Sambil...
Tragis! Jalan Kaki Sambil Pakai Headset, Pria di Simalungun Tewas Disambar Kereta
Hindari Blokade AS,...
Hindari Blokade AS, Iran Alihkan Perdagangan ke Jalur Kereta Api China
Mau Sewa Kereta Api...
Mau Sewa Kereta Api buat Jalan-jalan Seperti SMAN 3 Bandung? Ini yang Harus Dilakukan
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
6 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
51 menit yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
1 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
1 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
1 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
Harga Emas Diramal akan...
Harga Emas Diramal akan Tembus Rp2,1 Juta per Gram
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved