DKI Minta Anies-Sandi Lanjutkan Normalisasi Saluran Air Atasi Banjir

Kamis, 05 Oktober 2017 - 21:35 WIB
DKI Minta Anies-Sandi...
DKI Minta Anies-Sandi Lanjutkan Normalisasi Saluran Air Atasi Banjir
A A A
JAKARTA - Permasalahan banjir di Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang akan dilantik pada 16 oktober mendatang. Seluruh saluran air di Jakarta harus dibersihkan dan dihubungkan satu sama lainnya.

Sekertaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah mengatakan, permasalahan banjir di Jakarta masih menjadi ancaman bagi warga. Pemprov DKI harus terus mengantisipasinya, gorong-gorong yang sudah bersih harus di jaga terus oleh Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), Dinas Sumber Daya Air, dan sebagainya. Termasuk crosing-crosing saluran harus dilakukan terus.

"Tugas pemerintahan selanjutnya harus melanjutkan normalisasi saluran air untuk mengatasi banjir. Kenapa banjir kalau hujan lebat, karena salurannya enggak terkoneksi. Rumusnya saluran harus terkoneksi," kata Saefullah di Balai Kota DKI Jakarta pada Kamis (5/10/2017).

Saefullah menjelaskan, beberapa hari lalu genangan terjadi saat hujan mengguyur DKI Jakarta dan sekitarnya. Akar pohon, tumpukan sampah yang mengeras di lignkungan warga, perkantoran dan jalan masih menjadi kendala belum terhubungnya aliran air. Untuk itu, kebijakan pemimpin baru nanti harus melanjutkan dan segera dapat mengantisipasi musibah banjir.

Selain itu, Saefullah juga meminta saluran air tersebut harus terkoneksi dengan pompa, waduk dan sebagainya. Jangan sampai ada pompa yang tidak berfungsi saat hujan tiba, apalagi mulut-mulut air yang tersumbat.

"Untuk kepentingan jangka panjang. Rumusnya harus tetap dipertahankan, semua harus terkoneksi, pompa, waduk," ungkapnya.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendrawan mengatakan, rencana induk saluran air seharusnya ada di masterplane tata ruang. Sebab, peta 13 sungai dengan saluran penghubung lainnya saja ada di tata ruang.

Kendati demikian, Teguh tidak mempermasalahkan ada atau tidaknya rencana induk untuk menangani drainase. Menurutnya, penanganan yang dilakukan saat ini sudah dilakukan dari hulu hingga hilir.

"Penanganan drainase kita terkendala utilitas dan hampir lebih 50% dari 1.100 saluran penghubung tertutup bangunan. Kita akan bongkar terus," tegasnya. Mantan Camat Pulogadung itu menuturkan, pada tahun ini pihaknya fokus untuk menangani genangan dengan terus membongkar beton yang menutupi saluran, pelebaran drainase di tempat yang tidak ditumbuhi bangunan permanen dan menambah tali-tali air.

Setelah dibongkar, Teguh mengimbau kepada Bina Marga agar saluran air tidak ditutupi beton, melainkan pelat besi atau bak kontrol untuk memudahkan perawatan. "Intinya kita mau kembalikan saluran air seperti semula. Banyak lumpur, sendimen sampah mempersempit. Termasuk bangunan yang menutupi saluran. Kami akan rapatkan kembali hal ini. Karena inventarisasinya ada di tingkat kota," jelasnya.

Sementara itu, pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, sampai saat ini, Jakarta tidak mempunyai rencana induk saluran air. Padahal, sejak 10-15 tahun lalu atau sejak banjir besar pada 2002, pihaknya sudah mendorong Dinas Pekerja Umum (PU) untuk membuat rencana induk saluran air.

Dalam penyusunan rencana induk saluran air itu dibuat bersamaan dengan rencana induk jaringan utilitas. Di mana, saluran air terbagi tiga, makro diameter seluas 5 meter, meso seluas 3 meter dan mikro satu meter.

"Saluran makro itu terbagi atas kiri untuk utilitas kabel listrik, telpon dan serat optik. Kanan untuk pipa air bersih dan gas. Sehingga tidak ada lagi bongkar pasang saluran air dan trotoar serta tumpang tindih utilitas di saluran air," ungkapnya.

Nirwono menyebutkan, belum adanya rencana induk saluran air itu bukan lantaran tidak adanya dana. Melainkan tidak adanya kemauan yang serius dari Pemprov DKI. Sebab, dalam perbaikan saluran itu terdapat 12 instansi yang sudah memiliki kavling masing-masing.

Untuk itu, lanjut Nirwono, ke-12 instansi tersebut harus duduk bersama dan membuat satu pintu, tentunya di bidang teknis, baik itu Bina Marga ataupun Tata Air. "Selama ini dalam rapat ok, tetapi pelaksanaanya berbenturna kewenangan. Ini juga harus dibenahi," ujarnya.
(whb)
Berita Terkait
Pemprov DKI Luncurkan...
Pemprov DKI Luncurkan Kartu Peduli Anak dan Remaja Jakarta
Anies Lantik 12 Pejabat...
Anies Lantik 12 Pejabat Tinggi di Pemprov DKI
Anies Pamer DKI Raih...
Anies Pamer DKI Raih 2 Penghargaan Bidang Transportasi dan Lalin
#DariPendopo Anies Bercerita...
#DariPendopo Anies Bercerita Soal Ruang Ketiga, Ruang Interaksi yang Setara
Jakarta Provinsi Paling...
Jakarta Provinsi Paling Demokratis, Anies: Pemprov DKI Beri Kebebasan untuk Berekspresi
Netizen Apresiasi Anies...
Netizen Apresiasi Anies saat Dipanggil KPK, GPMI: Pemimpin yang Layak Ditiru
Berita Terkini
Bandar Narkoba yang...
Bandar Narkoba yang Bikin 3 Polisi Gugur di Katingan Ditangkap!
1 jam yang lalu
Yayasan Gugah Nurani...
Yayasan Gugah Nurani Indonesia Sabet CSR Award 2026 Pemkab Bekasi
2 jam yang lalu
Pemprov DKI Bakal Bangun...
Pemprov DKI Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Pramono: Baru Dua yang Sudah Ada Angggarannya
3 jam yang lalu
Perbaikan MBG Harus...
Perbaikan MBG Harus Dimulai dari Ketepatan Sasaran hingga Transparansi Tata Kelola
3 jam yang lalu
Polisi Sebut Kaca Gedung...
Polisi Sebut Kaca Gedung BGN Pecah Akibat Pemuaian, Bukan Penembakan
3 jam yang lalu
LRT Jakarta Fase 1B...
LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai Tersambung 100 Persen, Ditargetkan Beroperasi Agustus 2026
4 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Larang Ondel-ondel Digunakan untuk Ngamen di Jalanan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved