Pemprov Sumut Didesak Bereskan Praktik Pungli di KIM

Rabu, 04 Oktober 2017 - 20:02 WIB
Pemprov Sumut Didesak...
Pemprov Sumut Didesak Bereskan Praktik Pungli di KIM
A A A
MEDAN - Aksi unjuk rasa yang dilakukan sopir dan Organda terkait dugaan pungutan liar (pungli) berkedok pass masuk ke Kawasan Industri Medan (KIM) II Belawan belum mendapat perhatian serius Pemerintah Provinsi Sumut.

Pihak terkait belum bisa juga melakukan tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang terlibat. Menanggapi masalah ini, Pemprov Sumut hanya berjanji akan segera mengevaluasi.

"Saya sudah perintahkan Biro Perekonomian untuk mengevaluasinya. Kebetulan saya sekarang lagi di Jakarta. Nanti akan saya sampaikan perkembangannya ya," ujar Plt Sekda Provinsi Sumut, Ibnu Sri Hutomo, melalui telepon selulernya, Rabu (4/10/2017).

Sementara itu, Kabiro Perekonomian Provinsi Sumut, Ernita Bangun tidak mau memberikan komentarnya. Ernita mengaku kalau dirinya masih berada di luar Kota Medan. Saat disinggung soal keresahan para sopir dan pengusaha angkutan akibat dugaan pungli telah berujung kepada demonstrasi di DPRD Sumut baru-baru ini Ernita pun mengaku tidak mengetahuinya.

"Kapan demonstrasinya. Aduh nantilah ya. Saya masih di Jakarta kurang jelas apa yang ditanyakan. Coba tanya aja langsung ke pihak KIM apa benar ada pungli itu," ujar Ernita.

Sebelumnya, puluhan unit truk trailer diparkir di sekitar gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Senin (2/10/2017). Hal itu dilakuan sebagai bentuk protes terhadap pungutan Rp15.000 setiap kali masuk ke Kawasan Industri Medan (KIM) II Belawan di Saentis, Percut Sei Tuan, Deli Serdang.

Para Sopir bersama pengusaha yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sumatera Utara menyatakan, mereka telah menjadi korban pungli berkedok pass masuk yang diberlakukan sejak Juli 2017 lalu.

Menurut Ketua Organda Sumut, Haposan Siallagan kutipan itu diberlakukan tanpa pembahasan dengan para sopir dan pengusaha angkutan. Sebelumnya, biaya masuk ke KIM II pernah diberlakukan pada 2015, namun dihentikan setelah para sopir dan pengusaha angkutan melakukan mogok.

Saat itu PT KIM berjanji tidak akan memberlakukan kutipan seperti itu lagi sebelum ada kesepakatan dengan Organda. Tapi nyatanya mulai Juli 2017, pihak KIM II menarik kutipan sebesar Rp15.000. Kutipan uang tersebut dinilai tidak memiliki landasan hukum yang jelas.
(rhs)
Berita Terkait
Ombudsman Sumut Minta...
Ombudsman Sumut Minta Hentikan Adanya Pungli di Sekolah Lingkungan Kemenag
Begini Cara Melaporkan...
Begini Cara Melaporkan Kasus Pungli dan Korupsi di Lingkungan Pemprov DKI
Satgas Saber Pungli...
Satgas Saber Pungli Ajak Masyarakat Aktif Laporkan Pungutan Liar
Deretan Korban Pungutan...
Deretan Korban Pungutan Liar Rumah Tahanan KPK
Satgas Saber Pungli...
Satgas Saber Pungli Ancam Tindak Tegas Pelaku Pungutan Liar Sektor Pelayaran
Mahfud MD: Satgas Saber...
Mahfud MD: Satgas Saber Pungli Masih Diperlukan untuk Berantas Korupsi
Berita Terkini
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
19 menit yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
28 menit yang lalu
Apresiasi Polda Sumut...
Apresiasi Polda Sumut Ungkap Ribuan Kasus Narkoba, Sahroni: Kejar Bandarnya, Selamatkan Masyarakat!
58 menit yang lalu
Prajurit TNI Kodam XVII...
Prajurit TNI Kodam XVII Cenderawasih Tewas Dikeroyok Sembilan Orang di Kabupaten Tangerang
1 jam yang lalu
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
1 jam yang lalu
Korban Terakhir Ledakan...
Korban Terakhir Ledakan Gas di Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved