Cerita Pagi

Sentot Ali Basya, Panglima Perang Diponegoro yang Dijuluki Napoleon Jawa

loading...
Sentot Ali Basya, Panglima Perang Diponegoro yang Dijuluki Napoleon Jawa
Sentot Ali Basya, Panglima Perang Diponegoro yang Dijuluki Napoleon Jawa
Di usianya yang masih belasan tahun, Sentot Ali Basya atau Sentot Ali Basya Abdullah Mustafa Prawirodirjo sudah ikut andil dalam jihad.

Ia merupakan salah satu buyut dari Sultan Hamengku Buwono I. Kakeknya ini, seorang Sultan di Kerajaan Mataram Islam sekarang dikenal dengan Yogyakarta.

Sementara itu gelar "Basya" atau "Pasha" adalah diilhami oleh gelar para panglima di Turki Utsmani. Dimana Turki di zaman itu menjadi kebanggaan Umat Islam seluruh dunia.

Sentot Ali Basya diangkat menjadi panglima perang di barisan pasukan Pangeran Diponegoro ketika berumur 17 tahun. Prestasi di umur muda ini pernah juga diperoleh seorang sahabat bernama Usamah bin Zaid yang ditunjuk untuk memimpin perang melawan Romawi.



Namun, meski pun ia masih muda ternyata mampu pula mengukir dengan tinta emas keberhasilan dalam berjihad melawan Belanda. Sampai-sampai ia digelari "Napoleon Jawa". Padahal kalau melihat zaman sekarang, anak yang berumur 17 tahu baru duduk di bangku SMA.

Sentot Ali Basya seorang panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (De Java Oorlog). Pangeran Diponegoro memimpin perang berlangsung selama lima tahun.

Perang ini dimulai tanggal 20 Juli 1825 hingga 28 Maret 1830 M. Perang ini merupakan perang Sabilillah yang bertujuan mengusir penjajah untuk menegakkan kemerdekaan dan keadilan.



Dia merupakan salah satu komandan pertempuran dari pasukan-pasukan Diponegoro. Medan pertempuran di sekitar Yogyakarta, Kedu, Bagelen, dan Surakarta.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top