Pesta Gay Digerebek, Pengamat: Ada Kepentingan Global untuk Merusak Moral Bangsa
Senin, 22 Mei 2017 - 17:23 WIB
Pesta Gay Digerebek, Pengamat: Ada Kepentingan Global untuk Merusak Moral Bangsa
A
A
A
JAKARTA - Pengamat sosial mencurigai, kasus ratusan gay yang melakukan pesta sex di Kelapa Gading, Jakarta Utara itu didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya demi kepentingan ekonomi dan budaya.
Pengamat sosial Musni Umar mengatakan, dia prihatin dengan kasus gay yang melakukan pesta sex di Kelapa Gading, Jakut semalam. Sebabnya, LGBT itu sejatinya bertentangan dengan Pancasila yang mana dalam sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Secara pribadi-pribadi, memang sulit untuk menyetop atau melarangnya. Namun, bila LGBT itu sudah dalam bentuk komunitas, lalu menyebarluaskan paham LGBT itu, tentu kita harus menolaknya secara tegas," ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Senin (22/5/2017).
Dia menerangkan, LGBT itu sejatinya paham yang berkembang di dunia barat hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Di Indonesia, umumnya masyarakat menolak tentang LGBT itu karena memang bertentangan dengan Pancasila.
Secara tersirat, beber Musni, intisari Pancasila itu tak membolehkan adanya free sex, termasuk hubungan sesama jenis, hubungan dengan lawan jenis di luar pernikahan, dan penyebaran paham yang merusak moralitas bangsa, yakni paham LGBT.
Adapun keberadaan LGBT, tambah dia, sebagaimana yang ada di Kelapa Gading, Jakut, dicurigai memiliki sebuah kepentingan karena pesta sex para gay itu dilakukan secara bergerombol atau komunitas, seperti kepentingan ekonomi dan budaya.
"Keberadaan komunitas LGBT itu, dimanfaatkan pula untuk kepentingan ekonomi, dia menyusun dan meminta dana dari pihak-pihak penyebar paham itu, agar keberadaannya di Indonesia terus ada," jelasnya.
"Lalu, kepentingan secara global, merusak budaya dan moralitas bangsa Indonesia ini dengan mengembangkan free sex melalui label LGBT," katanya.
Pengamat sosial Musni Umar mengatakan, dia prihatin dengan kasus gay yang melakukan pesta sex di Kelapa Gading, Jakut semalam. Sebabnya, LGBT itu sejatinya bertentangan dengan Pancasila yang mana dalam sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Secara pribadi-pribadi, memang sulit untuk menyetop atau melarangnya. Namun, bila LGBT itu sudah dalam bentuk komunitas, lalu menyebarluaskan paham LGBT itu, tentu kita harus menolaknya secara tegas," ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Senin (22/5/2017).
Dia menerangkan, LGBT itu sejatinya paham yang berkembang di dunia barat hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Di Indonesia, umumnya masyarakat menolak tentang LGBT itu karena memang bertentangan dengan Pancasila.
Secara tersirat, beber Musni, intisari Pancasila itu tak membolehkan adanya free sex, termasuk hubungan sesama jenis, hubungan dengan lawan jenis di luar pernikahan, dan penyebaran paham yang merusak moralitas bangsa, yakni paham LGBT.
Adapun keberadaan LGBT, tambah dia, sebagaimana yang ada di Kelapa Gading, Jakut, dicurigai memiliki sebuah kepentingan karena pesta sex para gay itu dilakukan secara bergerombol atau komunitas, seperti kepentingan ekonomi dan budaya.
"Keberadaan komunitas LGBT itu, dimanfaatkan pula untuk kepentingan ekonomi, dia menyusun dan meminta dana dari pihak-pihak penyebar paham itu, agar keberadaannya di Indonesia terus ada," jelasnya.
"Lalu, kepentingan secara global, merusak budaya dan moralitas bangsa Indonesia ini dengan mengembangkan free sex melalui label LGBT," katanya.
(ysw)