Miris, 6 Tahun Kakek Lumpuh Hidup Sendiri di Bekas Kandang Ayam
Senin, 27 Februari 2017 - 01:39 WIB
Miris, 6 Tahun Kakek Lumpuh Hidup Sendiri di Bekas Kandang Ayam
A
A
A
BLITAR - Miris, di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ada seorang kakek, Miswan (75), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, harus menjalani hidup sebatang kara selama enam tahun di sebuah gubuk reyot bekas kandang ayam.
Kondisinya sungguh memprihatinkan, badanya lumpuh tanpa bisa digerakan. Lelaki tua berbadan kurus ceking itu nyaris hanya tidur terlentang selama enam tahun. "Sudah enam tahun kakak saya menjalani hidup seperti ini (di bekas kandang ayam), "tutur Katminah adik kandung Miswan kepada wartawan.
Setiap orang yang datang menjenguk terharu dan prihatin dengan kondisi Miswan. Kedua matanya sayu, cekung, dan kedua pipinya hanya terlihat tulang yang dibalut kulit kriput. Badanya ceking, nyaris tanpa daging yang melekat di tulangnya.
Dalam keseharianya, Miswan nyaris tak bisa melakukan aktivitas apapun kecuali tertidur di ranjang reot di gubuk berukuran 3x3 meter persegi bekas kandang ayam. "Untuk makan dia sepenuhnya menanti uluran tangan dari orang lain," kata Katminah.
kakak kandungnya, lanjut Katminah, sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun, termasuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi. Misalnya seperti makan dan minum, mandi, buang air besar dan kecil, serta aktivitas lainnya. Selama enam tahun ini, Katminah lah yang selalu membantu melakukan aktivitas pribadi tersebut.
Katminah menceritakan, sejak malapetaka kelumpuhan menderanya, istri dan anaknya justru pergi meninggalkan kakaknya seorang diri. Bahkan, dirinya sudah berkali-kali mendatangi dan membujuk istri dan anaknya untuk mengurus Miswan, tapi keluarganya justru cuek dan tidak memperdulikan.
"Saya sudah berusaha berkali kali menghubungi anak dan istrinya. Tapi tidak ada yang mau mengunjungi. Kalau keluarga (istri dan anak) sudah tidak bersedia merawat, saya sebagai adik kan tidak mungkin meninggalkan kakak saya,"terangnya.
Sebelumnya, Miswan terpeleset jatuh dari pohon nangka. Keluarga sempat membawanya ke mantri kesehatan. Keluarga juga mengantarkannya ke dukun pijat. Namun, hidup dengan kelumpuhan sepertinya sudah menjadi takdirnya. Merasa tidak enak dengan bau tubuhnya yang tidak sedap, Miswan meminta Katminah menempatkanya di gubuk bekas kandang ayam.
Karena bekas kandang aroma busuk bersumber dari kotoran ayam masih menyengat kuat. Warga setempat bergotong royong turut membantu memperbaiki gubuk. Apalagi saat hujan, banyak atap yang bocor. Warga juga bergiliran memberi bantuan makanan. Hal itu mengingat Katminah bukan kategori orang berada.
Kondisinya sungguh memprihatinkan, badanya lumpuh tanpa bisa digerakan. Lelaki tua berbadan kurus ceking itu nyaris hanya tidur terlentang selama enam tahun. "Sudah enam tahun kakak saya menjalani hidup seperti ini (di bekas kandang ayam), "tutur Katminah adik kandung Miswan kepada wartawan.
Setiap orang yang datang menjenguk terharu dan prihatin dengan kondisi Miswan. Kedua matanya sayu, cekung, dan kedua pipinya hanya terlihat tulang yang dibalut kulit kriput. Badanya ceking, nyaris tanpa daging yang melekat di tulangnya.
Dalam keseharianya, Miswan nyaris tak bisa melakukan aktivitas apapun kecuali tertidur di ranjang reot di gubuk berukuran 3x3 meter persegi bekas kandang ayam. "Untuk makan dia sepenuhnya menanti uluran tangan dari orang lain," kata Katminah.
kakak kandungnya, lanjut Katminah, sudah tidak bisa melakukan aktivitas apapun, termasuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi. Misalnya seperti makan dan minum, mandi, buang air besar dan kecil, serta aktivitas lainnya. Selama enam tahun ini, Katminah lah yang selalu membantu melakukan aktivitas pribadi tersebut.
Katminah menceritakan, sejak malapetaka kelumpuhan menderanya, istri dan anaknya justru pergi meninggalkan kakaknya seorang diri. Bahkan, dirinya sudah berkali-kali mendatangi dan membujuk istri dan anaknya untuk mengurus Miswan, tapi keluarganya justru cuek dan tidak memperdulikan.
"Saya sudah berusaha berkali kali menghubungi anak dan istrinya. Tapi tidak ada yang mau mengunjungi. Kalau keluarga (istri dan anak) sudah tidak bersedia merawat, saya sebagai adik kan tidak mungkin meninggalkan kakak saya,"terangnya.
Sebelumnya, Miswan terpeleset jatuh dari pohon nangka. Keluarga sempat membawanya ke mantri kesehatan. Keluarga juga mengantarkannya ke dukun pijat. Namun, hidup dengan kelumpuhan sepertinya sudah menjadi takdirnya. Merasa tidak enak dengan bau tubuhnya yang tidak sedap, Miswan meminta Katminah menempatkanya di gubuk bekas kandang ayam.
Karena bekas kandang aroma busuk bersumber dari kotoran ayam masih menyengat kuat. Warga setempat bergotong royong turut membantu memperbaiki gubuk. Apalagi saat hujan, banyak atap yang bocor. Warga juga bergiliran memberi bantuan makanan. Hal itu mengingat Katminah bukan kategori orang berada.
(pur)