Imbas Pergerakan Tanah, Warga Desa Pancasura Tak Miliki Rumah Permanen

Senin, 06 Februari 2017 - 16:31 WIB
Imbas Pergerakan Tanah,...
Imbas Pergerakan Tanah, Warga Desa Pancasura Tak Miliki Rumah Permanen
A A A
GARUT - Pergerakan tanah di Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. telah terjadi sejak era tahun 1980-an. Akibatnya, konstruksi bangunan permanen mengalami keretakan di bagian dinding maupun lantai. Sebagian besar penduduk di Desa Pancasura tidak memiliki rumah permanen.

"Dari sekira 2.100 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 6.500 penduduk, yang memiliki rumah permanen sangat sedikit. Sebagian besar penduduk desa menempati rumah panggung," kata Kepala Desa Pancasura Saefulloh A Ridho, Senin (6/2/2017).

Menurut Saeful, sebagian besar warga enggan mendirikan bangunan permanen untuk tempat tinggal dengan alasan khawatir mengalami kerusakan. Ia menyebut, konstruksi bangunan permanen akan mengalami kerusakan dalam waktu satu hingga dua tahun setelah dibangun.

"Biasanya satu atau dua tahun rumah permanen yang dibangun akan mengalami keretakan pada bagian dinding dan lantainya. Itulah penyebab kenapa banyak warga memilih mendirikan rumah panggung yang terbuat dari kayu ketimbang rumah permanen dari konstruksi beton," ungkapnya.

Meski memilih mendirikan rumah panggung, bukan berarti warga terbebas dari dampak pergerakan tanah. "Sebab rumah panggung juga ikut terdampak, namun tidak separah dengan rumah permanen. Misalnya ikut bergeser karena tanah di bawah rumah bergerak. Posisi rumah jadi berubah," ujarnya.

Tidak jarang, pergerakan tanah itu juga membuat penopang rumah panggung mengalami ambles. "Solusi bagi rumah panggung yang ambles dan berubah posisi ini adalah dengan cara didongkrak menggunakan dongkrak mobil. Lalu penopang rumah diganjal oleh batu agar posisinya kembali datar seperti semula," paparnya.

Ia menyebut, permukiman warga yang terdampak pergerakan tanah ada di Kampung Ciangkra, Kampung Sawah Tengah, Kampung Sukamukti, Kampung Sawah Peuteuy, Kampung Sawah Limus, Kampung Cidedeu, dan Kampung Cigambi. Saeful sendiri mengaku tak mengetahui berapa jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah di desa yang ia pimpin.

"Sebab selama ini (pergerakan tanah) telah dianggap warga sebagai hal yang biasa. Itulah mengapa aparat pemerintah terkecil di perkampungan tidak melakukan penghitungan. Namun dari pemantauan yang saya lakukan ke lapangan, jumlah rumah yang terdampak ini sangat banyak. Jangankan rumah warga, kantor Desa Pancasura juga mengalami retakan-retakan."
(zik)
Berita Terkait
Bencana Tanah Bergerak...
Bencana Tanah Bergerak di Bogor
Tanah Bergerak di Cianjur...
Tanah Bergerak di Cianjur Meluas, Akses Jalan dan Perkebunan Rusak
Begini Kondisi Desa...
Begini Kondisi Desa Bojong Koneng Pasca 10 Hari Bencana Tanah Bergerak
2.453 Warga Mengungsi...
2.453 Warga Mengungsi Akibat Pergerakan Tanah di Padasari Tegal
Diguyur Hujan Belasan...
Diguyur Hujan Belasan Jam, Belasan Rumah Rusak Akibat Pergerakan Tanah
Puluhan Bangunan Hancur...
Puluhan Bangunan Hancur akibat Pergeseran Tanah, Pemkab Bandung Barat Tetapkan Status Darurat Bencana
Berita Terkini
Pramono Akan Resmikan...
Pramono Akan Resmikan CFD Rasuna Said saat HUT Jakarta, Mayoritas Warga Minta Dilanjutkan
17 menit yang lalu
Nunggak Bayar Sewa Indekos,...
Nunggak Bayar Sewa Indekos, Motor Teman Diembat
1 jam yang lalu
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
9 jam yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
9 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
10 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
10 jam yang lalu
Infografis
50.000 Tentara Israel...
50.000 Tentara Israel Tak Mampu Rebut Satu Desa Pun di Lebanon
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved