Jejak Kembang Lumpang dari Kampung Cengkareng

Rabu, 18 Januari 2017 - 07:11 WIB
Jejak Kembang Lumpang...
Jejak Kembang Lumpang dari Kampung Cengkareng
A A A
MUNGKIN sekarang ini banyak warga Jakarta yang sangat asing dengan sebutan kembang lumpang. Padahal sebelum jaman kemerdekaan, tak sedikit kaum perempuan yang menjadi kembang lumpang untuk membantu perekonomian keluarganya.

Kembang lumpang sendiri merupakan sebutan bagi kaum perempuan yang berprofesi sebagai penumbuk padi. Biasanya ini dilakukan oleh wanita kampung miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mereka terpaksa menggunakan kekuatan tangan untuk mengubah padi menjadi beras karena tidak memiliki sawah untuk ditanami padi. Apalagi pada jaman itu, lapangan pekerjaan memang sedikit dan sekalinya ada itu hanyalah pekerjaan kasar atau buruh.

Mengenai sebutan kembang lumpang, nama kembang sendiri diambil karena pekerjanya adalah perempuan. Sedangkan lumpang adalah alat untuk menumbuk yang biasa berpasangan dengan alu. Jadilah kuli penumbuk padi ini disebut kembang lumpang.

Menurut penuturan Nyai Nipah mantan kembang lumpang dari Kampung Cengkareng (sekarang kelurahan Cengkareng), masa keemasan kembang lumpang terjadi ketika daerah Cengkareng masih banyak terdapat sawah.

Belum adanya teknologi, membuat wanita berusia 75 tahun ini dan puluhan kembang lumpang lainnya menjadi pemutar roda perekonomian kampung pascapanen padi. Maklum saja, juragan tanah dan tengkulak padi memerlukan beras untuk dijual atau dikonsumsi.

Upah yang didapat kembang lumpang atau kuli penumbuk padi memang tidak banyak. Dari setiap sepuluh liter beras yang dihasilkan, mereka mendapat upah dua liter. Namun bagi wanita kampung miskin, semua itu sudah cukup karena mereka bisa makan nasi.

Satu hari kembang lumpang mampu menumbuk 90 liter gabah kering untuk menghasilkan 40 liter beras. Dengan kemampuan tersebut, kembang lumpang mampu membawa pulang delapan liter beras setiap hari. Disamping beras, ada juga hasil lain berupa menir (beras kecil-kecil) dan dedak.

Untuk menir, biasanya para kembang lumpang langsung menghaluskannya untuk dijadikan penganan teman minum kopi. Menir yang dihaluskan menjadi tepung, dibungkus daun pisang dan dibakar menjadi kue. Sedangkan dedak yang dihasilkan dijadikan makanan ternak.

Namun sekitar tahun 1970-an, periuk nasi para kembang lumpang ini terusik dengan kehadiran seorang petani kaya dari Kampung Bulak (kini Kampung Bulakteko, Kelurahan Kalideres). Petani kaya ini membeli sebuah mesin giling gabah dengan tenaga mesin.

Mesin penggiling padi yang bisa bekerja siang-malam ternyata juga menarik minat tuan tanah China di Kampung Lele (sekarang Kampung Rawa Lele, kelurahan Kalideres) untuk memilikinya. Lambat laun, kedatangan mesin itu mengubah cara petani mengolah padi menjadi beras.

Sejak kedatangan mesih penggiling padi itu, di kampung Cengkareng mulai berkurang suara alu beradu dengan lumpang. Gantinya, deru mesih giling yang cukup berisik itu, seakan tak pernah berhenti siang-malam.

Sedikit demi sedikit, kembang lumpang mulai dilupakan. Petani kaya dan tengkulak gabah mulai beralih ke mesin giling tersebut. Sejak itu, karir Nyai Nipah dan puluhan kembang lumpang lainnya di tanah Cengkareng berakhir.

(Sumber: diolah dari anakmandorbuang.blogspot.com)
(ysw)
Berita Terkait
Mengenal Riwayat Jakarta...
Mengenal Riwayat Jakarta Selatan, Kota Paling Kaya di Wilayah Jakarta
Riwayat Banjir Besar...
Riwayat Banjir Besar di DKI Jakarta Sejak 1918 Hingga 2020
11 Banjir Besar di Ibu...
11 Banjir Besar di Ibu Kota DKI Jakarta Sejak 1918 Hingga 2020
Riwayat 5 Pahlawan Asal...
Riwayat 5 Pahlawan Asal Jakarta yang Diabadikan Jadi Nama Jalan
Metamorfosis Jakarta,...
Metamorfosis Jakarta, Berawal dari Pesisir dan Upaya Meninggalkan Corak Kolonial (2-tamat)
Apakah Jayakarta dan...
Apakah Jayakarta dan Jakarta Sama? Ini Sejarahnya
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
1 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
1 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
1 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
2 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
4 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
5 jam yang lalu
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved