Survei PRC: Dalam Kurun 3 Bulan Elektabilitas Ahok Menurun
Rabu, 05 Oktober 2016 - 18:12 WIB
Survei PRC: Dalam Kurun 3 Bulan Elektabilitas Ahok Menurun
A
A
A
JAKARTA - Survei PolMark Research Center (PRC) menyebut tren elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sejak tiga bulan terakhir mengalami penurunan. Pada Oktober ini elektabilitas Ahok hanya 31,9%, jumlah ini menurun 10,8% dalam rentang waktu tiga bulan.
CEO PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah mengatakan, PRC adalah lembaga survei di bawah PolMark Indonesia, untuk Pilgub DKI Jakarta 2017, PRC telah mengadakan tiga kali survei, yaitu pada Februari, Juli dan Oktober 2016. PRC PolMark Indonesia melakukan survei dengan metode wawancara turun ke lapangan pada 28 September-4 Oktober 2016 lalu.
"Survei dilakukan terhadap 1.100 responden, yaitu warga Jakarta berhak pilih pada saat survei diadakan. Responden diambil dengan metode sampel acak bertingkat, diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei ini adalah +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%," kata Eeep Saefullah dalam siaran pers yang diterima SINDOnews Rabu (5/10/2016).
Eep mengungkapkan, dari hasil survei menunjukkan pasangan Ahok-Djarot memiliki elektabilitas 31,9%, diikuti Anies Baswedan-Sandiaga Uno 23,2%. dan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni 16,7%. Masyarakat Jakarta yang belum menentukan pilihan sebesar 28,2%.
Menurut Eep, tren elektabilitas Ahok mengalami penurunan sebesar 10,8% dalam rentang waktu Juli hingga Oktober ini."Dalam survei PRC PolMark Indonesia pada Juli 2016 Ahok memiliki elektabilitas sebesar 42,7% dan kini 31,9% pada survei Oktober 2016," ungkap Eep.
Eep menjelaskan, sari 31,9% responden yang memilih Ahok-Djarot dalam survei Oktober ini, hanya 23,2% yang menyatakan pilihannya terhadap pasangan tersebut sudah mantap, tidak akan berubah. Sementara, dalam survei Juli 2016, dari 42,7% yang memilih Ahok-Djarot yang menyatakan mantap 28,7%.
"Dari survei ini pun diketahui di kalangan pemilihnya yang mantap sekalipun, elektabilitas Ahok-Djarot mengalami penurunan sebesar 5,5%," jelasnya.
Eep melanjutkan, tren serupa terjadi pada tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dalam survei Oktober 2016, tingkat kepuasan terhadap kinerja Gubernur adalah 61,8%. Angka ini merupakan penurunan sebesar 8% dari tingkat kepuasan sebesar 69,8% dalam survei Juli 2016 lalu.
Survei PRC PolMark Indonesia Oktober 2016 juga menunjukkan bahwa Ahok adalah kandidat yang paling dikenal warga. Sebanyak 97,1% warga kenal Ahok. Tetapi, hanya 58,3% yang mengaku suka pada Ahok.
Sementara itu, Anies dikenal oleh 82,8% masyarakat Jakarta dan disukai oleh 63,1% masyarakat. Lebih banyak warga Jakarta yang menyukai Anies dibandingkan Basuki. Sedangkan Agus dikenal oleh 81,5% dan disukai oleh 53,5% masyarakat Jakarta.
Menyangkut popularitas, Eep menuturkan, popularitas dan keukaan para kandidat Wakil Gubernur, Djarot dikenal oleh 79,6% dan disukai oleh 46,9% warga. Sandiaga Uno dikenal oleh 75,6% dan disukai 50,8% masyarakat. Sementara Sylviana dikenal 56,1% dan disukai oleh 32,7% warga Jakarta.
Eeep menambahkan, secara umum masyarakat DKI Jakarta menilai Ahok-Djarot berhasil dalam hal penyediaan transportasi umum yang memadai, pembersihan sungai-sungai di Jakarta, perbaikan fasilitas angkutan dan jalan raya, dan perbaikan kinerja birokrasi. "Dalam hal penanggulangan banjir, kemacetan, penertiban pemukiman liar, dan penertiban PKL, Ahok-Djarot dinilai gagal," paparnya.
Eep mengatakan, berbasis hasil tiga kali survei yang sudah dilakukan serta riset dan pemetaan politik Jakarta, ditambah dengan kecenderungan pemilih Jakarta sejak Pilgub 2012, Pilgub DKI 2017 berpotensi besar berlangsung dalam dua putaran.
"Tren data yang tersedia menunjukkan pasangan Anies-Sandi berpotensi mendulang suara terbanyak dalam putaran pertama, diikuti Ahok-Djarot. Tersedia potensi yang cukup besar, petahana dapat ditumbangkan dalam Pilgub Jakarta 2017 ini," ucapnya.
CEO PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah mengatakan, PRC adalah lembaga survei di bawah PolMark Indonesia, untuk Pilgub DKI Jakarta 2017, PRC telah mengadakan tiga kali survei, yaitu pada Februari, Juli dan Oktober 2016. PRC PolMark Indonesia melakukan survei dengan metode wawancara turun ke lapangan pada 28 September-4 Oktober 2016 lalu.
"Survei dilakukan terhadap 1.100 responden, yaitu warga Jakarta berhak pilih pada saat survei diadakan. Responden diambil dengan metode sampel acak bertingkat, diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei ini adalah +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%," kata Eeep Saefullah dalam siaran pers yang diterima SINDOnews Rabu (5/10/2016).
Eep mengungkapkan, dari hasil survei menunjukkan pasangan Ahok-Djarot memiliki elektabilitas 31,9%, diikuti Anies Baswedan-Sandiaga Uno 23,2%. dan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni 16,7%. Masyarakat Jakarta yang belum menentukan pilihan sebesar 28,2%.
Menurut Eep, tren elektabilitas Ahok mengalami penurunan sebesar 10,8% dalam rentang waktu Juli hingga Oktober ini."Dalam survei PRC PolMark Indonesia pada Juli 2016 Ahok memiliki elektabilitas sebesar 42,7% dan kini 31,9% pada survei Oktober 2016," ungkap Eep.
Eep menjelaskan, sari 31,9% responden yang memilih Ahok-Djarot dalam survei Oktober ini, hanya 23,2% yang menyatakan pilihannya terhadap pasangan tersebut sudah mantap, tidak akan berubah. Sementara, dalam survei Juli 2016, dari 42,7% yang memilih Ahok-Djarot yang menyatakan mantap 28,7%.
"Dari survei ini pun diketahui di kalangan pemilihnya yang mantap sekalipun, elektabilitas Ahok-Djarot mengalami penurunan sebesar 5,5%," jelasnya.
Eep melanjutkan, tren serupa terjadi pada tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dalam survei Oktober 2016, tingkat kepuasan terhadap kinerja Gubernur adalah 61,8%. Angka ini merupakan penurunan sebesar 8% dari tingkat kepuasan sebesar 69,8% dalam survei Juli 2016 lalu.
Survei PRC PolMark Indonesia Oktober 2016 juga menunjukkan bahwa Ahok adalah kandidat yang paling dikenal warga. Sebanyak 97,1% warga kenal Ahok. Tetapi, hanya 58,3% yang mengaku suka pada Ahok.
Sementara itu, Anies dikenal oleh 82,8% masyarakat Jakarta dan disukai oleh 63,1% masyarakat. Lebih banyak warga Jakarta yang menyukai Anies dibandingkan Basuki. Sedangkan Agus dikenal oleh 81,5% dan disukai oleh 53,5% masyarakat Jakarta.
Menyangkut popularitas, Eep menuturkan, popularitas dan keukaan para kandidat Wakil Gubernur, Djarot dikenal oleh 79,6% dan disukai oleh 46,9% warga. Sandiaga Uno dikenal oleh 75,6% dan disukai 50,8% masyarakat. Sementara Sylviana dikenal 56,1% dan disukai oleh 32,7% warga Jakarta.
Eeep menambahkan, secara umum masyarakat DKI Jakarta menilai Ahok-Djarot berhasil dalam hal penyediaan transportasi umum yang memadai, pembersihan sungai-sungai di Jakarta, perbaikan fasilitas angkutan dan jalan raya, dan perbaikan kinerja birokrasi. "Dalam hal penanggulangan banjir, kemacetan, penertiban pemukiman liar, dan penertiban PKL, Ahok-Djarot dinilai gagal," paparnya.
Eep mengatakan, berbasis hasil tiga kali survei yang sudah dilakukan serta riset dan pemetaan politik Jakarta, ditambah dengan kecenderungan pemilih Jakarta sejak Pilgub 2012, Pilgub DKI 2017 berpotensi besar berlangsung dalam dua putaran.
"Tren data yang tersedia menunjukkan pasangan Anies-Sandi berpotensi mendulang suara terbanyak dalam putaran pertama, diikuti Ahok-Djarot. Tersedia potensi yang cukup besar, petahana dapat ditumbangkan dalam Pilgub Jakarta 2017 ini," ucapnya.
(whb)