Pilgub DKI, Tokoh Muda NU Sayangkan Bergulirnya Isu SARA
Selasa, 13 September 2016 - 22:18 WIB
Pilgub DKI, Tokoh Muda NU Sayangkan Bergulirnya Isu SARA
A
A
A
JAKARTA - Maraknya isu SARA jelang pilkada Jakarta cukup membuat risau sebagian kalangan. Pasalnya, secara faktual sudah sangat jelas bahwa penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama.
Setiap warga Negara Indonesia (WNI) memliki hak dan kewajiban yang sama, termasuk dalam politik. Semua memiliki hak dipilih dan memilih dalam proses pemilu atau pilkada.
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, Taufik Damas menilai, isu SARA dalam setiap ajang pemilihan pemimpin di negeri ini sudah sangat tidak relevan. “Ini abad 21, Isu SARA itu produk masyarakat abad lampau. Kini saatnya berpikir untuk memperkuat kehidupan yang beradab dan berbudaya,” kata Taufik yang juga Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta melalui rilisnya, Selasa (13/9/2016).
Menurut alumnus Universitas Al Azhar Cairo Mesir ini, momen Pilkada ini seharusnya dilihat sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
“Ya, masyarakat harus diajak untuk berpikir obyektif dan kritis. Dengan demikian, akan lahir pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Pemimpin yang bertanggungjawab pada masyarakat, bukan pemimpin yang culas dan penuh kebohongan,” tegas Taufik
Dalam kaidah fiqh, keabsahan seorang pemimpin itu tergantung kemampuan untuk memberikan dan menjamin kemashlahatan atau kesejahteraan warga. "Ini negara Pancasila. Ada kesetaraan dalam hukum publik," ujar ulama muda ini.
Setiap warga Negara Indonesia (WNI) memliki hak dan kewajiban yang sama, termasuk dalam politik. Semua memiliki hak dipilih dan memilih dalam proses pemilu atau pilkada.
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, Taufik Damas menilai, isu SARA dalam setiap ajang pemilihan pemimpin di negeri ini sudah sangat tidak relevan. “Ini abad 21, Isu SARA itu produk masyarakat abad lampau. Kini saatnya berpikir untuk memperkuat kehidupan yang beradab dan berbudaya,” kata Taufik yang juga Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta melalui rilisnya, Selasa (13/9/2016).
Menurut alumnus Universitas Al Azhar Cairo Mesir ini, momen Pilkada ini seharusnya dilihat sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
“Ya, masyarakat harus diajak untuk berpikir obyektif dan kritis. Dengan demikian, akan lahir pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Pemimpin yang bertanggungjawab pada masyarakat, bukan pemimpin yang culas dan penuh kebohongan,” tegas Taufik
Dalam kaidah fiqh, keabsahan seorang pemimpin itu tergantung kemampuan untuk memberikan dan menjamin kemashlahatan atau kesejahteraan warga. "Ini negara Pancasila. Ada kesetaraan dalam hukum publik," ujar ulama muda ini.
(ysw)