Sempat Jadi Korban Anarkis Satpol PP, Ini Kata Legislator DKI
Kamis, 08 September 2016 - 18:09 WIB
Sempat Jadi Korban Anarkis Satpol PP, Ini Kata Legislator DKI
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Komisi A bidang Pemerintahan DPRD DKI Jakarta, Syarif ternyata sempat menjadi korban kekerasan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat penertiban di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis 1 September 2016 lalu.
Syarif menuturkan, saat itu dirinya disikut, ditoyor, dan bajunya ditarik oleh anggota Satpol PP. Saat itu, dia berada di tengah penertiban karena diundang warga sekitar, untuk melakukan pendampingan.
"Disikut dua kali, ditoyor sekali, sama ditarik. Saya tidak perlu dipolisikan, kecuali ada perjanjian. Kemudian dia melakukan tindakan kekerasan," kata Syarif di Gedung DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (8/9/2016).
Bahkan saat bertemu, kata Syarif, dirinya sempat berdebat dengan Kasatpol PP DKI Jakarta Jupan Royter. Kala itu, kata dia, Jupan menegaskan Satpol PP mempunyai prinsip.
"Jupan menyatakan, 'ketika terjepit saya punya prinsip, dia (anak buahnya) atau anda (warga) yang mati'. Wah itu, filosofi perang. Satpol itu, harusnya menggunakan filosofi penertiban tanpa kekerasan," kata Syarif.
Atas dasar itu, DPRD menolak ketika Satpol PP ingin menghilangkan anggaran Rp5,6 miliar. Alasannya, anggaran itu agar anggota Satpol PP dilatih dalam melakukan penindakan.
"Satpol ada 4.000, terakhir dilatih 2013. Perlu ada Diklat. Satpol harus direformasi," kata Syarif. (Baca: Warga Sesalkan Sikap Anarkis Petugas Satpol PP di Rawajati)
Syarif menuturkan, saat itu dirinya disikut, ditoyor, dan bajunya ditarik oleh anggota Satpol PP. Saat itu, dia berada di tengah penertiban karena diundang warga sekitar, untuk melakukan pendampingan.
"Disikut dua kali, ditoyor sekali, sama ditarik. Saya tidak perlu dipolisikan, kecuali ada perjanjian. Kemudian dia melakukan tindakan kekerasan," kata Syarif di Gedung DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (8/9/2016).
Bahkan saat bertemu, kata Syarif, dirinya sempat berdebat dengan Kasatpol PP DKI Jakarta Jupan Royter. Kala itu, kata dia, Jupan menegaskan Satpol PP mempunyai prinsip.
"Jupan menyatakan, 'ketika terjepit saya punya prinsip, dia (anak buahnya) atau anda (warga) yang mati'. Wah itu, filosofi perang. Satpol itu, harusnya menggunakan filosofi penertiban tanpa kekerasan," kata Syarif.
Atas dasar itu, DPRD menolak ketika Satpol PP ingin menghilangkan anggaran Rp5,6 miliar. Alasannya, anggaran itu agar anggota Satpol PP dilatih dalam melakukan penindakan.
"Satpol ada 4.000, terakhir dilatih 2013. Perlu ada Diklat. Satpol harus direformasi," kata Syarif. (Baca: Warga Sesalkan Sikap Anarkis Petugas Satpol PP di Rawajati)
(mhd)