Djarot Nilai Tak Elok Jika Dana Hibah Bamus Betawi Dihentikan
Kamis, 08 September 2016 - 09:36 WIB
Djarot Nilai Tak Elok Jika Dana Hibah Bamus Betawi Dihentikan
A
A
A
JAKARTA - Rencana Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) untuk menyetop dana hibah ke Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dianggap tidak pantas. Karena selama ini dana yang dihibahkan Pemprov DKI digunakan untuk melestarikan budaya Betawi.
"Enggak pantas. Selama itu tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktik, apalagi yang mengangkat isu SARA, sepanjang tidak itu, tetap (diberikan dana hibah). Makanya perlu dievaluasi kegiatan dan bantuan dana," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2016).
Mantan Wali Kota Blitar itu hanya merasa jika ada oknum yang mengatasnamakan Bamus Betawi untuk menyalahgunakan kepentingan. Sehingga seharusnya ada kerja sama yang baik antara DKI dengan Bamus Betawi untuk menjaga budaya betawi.
"Yang melenceng bukan Bamusnya, tapi oknum, yang menyalahgunakan dan memanfaatkan itu loh yang mengatasnamakan Bamus Betawi. Kita bersama-sama membangun Budaya Betawi benar. Budaya Betawi kan toleran santun dan mencintai keindahan," tukasnya.
Mengenai politik yang disebut Ahok dengan calon dari putra daerah, putra Betawi, Djarot menilai tidak ada masalah. Dirinya hanya mengingatkan jika politik maka harus diserahkan kepada partai politik.
"Kalau politik salurkan lewat parpol. Misalnya Pak Haji Lulung kan ada di Bamus, kalau politik, salurkan ke parpol. Pak Haji Nachrowi Ramli kan dari Forkabi, salurkan ke partai. Tidak melalui Bamus," tukasnya.
"Enggak pantas. Selama itu tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktik, apalagi yang mengangkat isu SARA, sepanjang tidak itu, tetap (diberikan dana hibah). Makanya perlu dievaluasi kegiatan dan bantuan dana," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (8/8/2016).
Mantan Wali Kota Blitar itu hanya merasa jika ada oknum yang mengatasnamakan Bamus Betawi untuk menyalahgunakan kepentingan. Sehingga seharusnya ada kerja sama yang baik antara DKI dengan Bamus Betawi untuk menjaga budaya betawi.
"Yang melenceng bukan Bamusnya, tapi oknum, yang menyalahgunakan dan memanfaatkan itu loh yang mengatasnamakan Bamus Betawi. Kita bersama-sama membangun Budaya Betawi benar. Budaya Betawi kan toleran santun dan mencintai keindahan," tukasnya.
Mengenai politik yang disebut Ahok dengan calon dari putra daerah, putra Betawi, Djarot menilai tidak ada masalah. Dirinya hanya mengingatkan jika politik maka harus diserahkan kepada partai politik.
"Kalau politik salurkan lewat parpol. Misalnya Pak Haji Lulung kan ada di Bamus, kalau politik, salurkan ke parpol. Pak Haji Nachrowi Ramli kan dari Forkabi, salurkan ke partai. Tidak melalui Bamus," tukasnya.
(ysw)