KH Gholib, Pemimpin Gerilya yang Tewas Ditembak Belanda dari Belakang

Sabtu, 09 Juli 2016 - 05:00 WIB
KH Gholib, Pemimpin...
KH Gholib, Pemimpin Gerilya yang Tewas Ditembak Belanda dari Belakang
A A A
Ketika Belanda ingin melancarkan agresinya yang kedua tahun 1949, maka ratusan ulama di Lampung pun merapatkan barisan menghimpun kekuatan.

Mereka berkumpul di sebuah pesantren KH. Gholib untuk membahas hukum perang pelawan Belanda.

Di antara ulama yang berkumpul adalah, KH. Hanafiah dari Sukadana, KH. Nawawi Umar dari Telukbetung, KH. Abdul Rozak Rais dari Penengahan, Kedondong, KH. Umar Murod dari Pagardewa (kini Kabupaten Tulangbawang Barat).

Kemudian KH. Aman dari Tanjungkarang, Kiai M. Yasin dari Tanjungkarang (Ketua Masyumi Lampung saat itu), KH. A. Rauf Ali dari Telukbetung dan KH A. Razak Arsad dari Lampung Utara.

Hasil dari musyawarah menetapkan hukum perang melawan Belanda mempertahankan kemerdekaan dan ketinggian Islam adalah fardu ain.

Setelah fatwa keluar, Hanafiah dan pasukan Laskar Hizbulllah dan Sabilillah Pringsewu menuju Baturaja, Sumatera Selatan, untuk membantu Tentara Republik Indonesia (TRI) melawan Belanda, setelah Palembang diduduki.

Kiai Gholib ketika penjajahan Jepang juga banyak menentang program Jepang seperti sei kerie tahun 1942.

Tindakan Jepang sudah menindas, menyiksa dan memeras. Dia segera menyiagakan pasukan mengusir Jepang dari Tanah Bamboo Seribu (sekarang Pringsewu).

Tak heran jika kiprahnya berjibaku mengusir penjajah ini, kerap dibalas dengan masuk penjara oleh militer penjajah. Apalagi Gholib menggalang opini menolak ajakan Jepang menyembah Dewa Matahari (Tenno Heika, Kaisar Hirohito).

Sosok yang lahir tahun 1899 di Kampung Modjosantren, Krian, Jawa Timur ini dengan semangat jihad terus memimpin pertempuran untuk mengusir penjajah.

Dia membentuk pasukan jihad: Pasukan Sabillah Hisbullah yang diambil dari anak-anak didiknya lalu dididik TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat).

Sewaktu Agresi Belanda II 1949, Lampung menjadi daerah target Belanda. Melalui Pelabuhan Panjang pada 1 Januari.

Pemerintah bersama TRI (Tentara Republik Indonesia) mengungsi ke pedalaman Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, Kedondong, dan tempat-tempat lain.

Di Gadingrejo dibentuk pemerintahan darurat dengan residennya Mr. Gele Harun dan wakilnya M. Yasin. Di Pringsewu, basis TRI ditempatkan di pesantren Kiai Gholib dengan tokoh-tokohnya: Kapten Alamsyah dan Mayor Effendy.

Untuk mengganyang Belanda, melalui musyawarah para tokoh, Kiai Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.

Pada 8 Agustus 1947 hingga 20 Oktober 1948, menjadi hari penuh peperangan. Pasukan Sabillah dan Laskar Hisbullah yang dipimpin Kiai Gholib dan Kapten Alamsyah Ratuperwiranegara bertarung dengan penuh berani.

Ulama yang hapal ribuan hadis ini tidak hanya mempelajari ilmu yang berhubungan dengan ubudiyah, tetapi juga ilmu perang, kemasyarakatan, dan lainnya.

Wajar jika kemudian ia mampu menyebarkan Islam di 27 kota dan desa-desa di Jawa Timur hingga Johor dan Singapura, terakhir di Pringsewu, Lampung.

Tatkala awal sampai di Pringsewu, Sang Kyai mendirikan masjid untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang tua dan anak-anak sekitar.

Melihat perkembangan majelis taklimnya yang cukup pesat, Kiai Gholib terus mengembangkan pendidikan agama Islam dengan mendirikan pondok pesantren.

Pendidikan yang dibentuk pertama adalah sebuah madrasah dengan santri awal sebanyak 20 orang. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, perkembangan santri sangat pesat.

Kiai Gholib hidupnya sering mengungsi dan hidup berpindah-pindah. Di sebuah desa, dia sakit, lumpuh, lalu bersiap pulang.

Kabar sakitnya Kiai Gholib terdengar Belanda. Saat perundingan Belanda-TNI 27 November 1949 di Kotabumi, Belanda memerintahkan polisi federalnya memanggil Kiai Gholib untuk perundingan. Namun, Macan Loreng, pasukan khusus kaki tangan penjajah saat itu, berkeras agar Kiai Gholib ditahan.

Selama di pengungsian Kiai Gholib sekeluarga cemas memikirkan nasib warganya di Pringsewu. Ia pun pulang dan berniat salat Idul Fitri.

Beberapa hari kemudian datang utusan Belanda, ia disergap Macan Loreng, kemudian dibawa ke Gereja Katholik Pringsewu, markas tentara Belanda.

Kiai Gholib ditahan 15 hari dan dibebaskan saat persetujuan gencatan senjata tinggal tiga hari diumumkan, malam Kamis, 6 November 1949 (16 Syawal 1968 H).

Pukul satu dini hari KH Gholib meninggalkan penjara, lalu berjalan pulang. Namun, baru 10 meter dia melangkah dari rumah tahanan, Kiai Gholib ditembak dari belakang. Dia gugur seketika.

Sumber:

wikipedia
suaramasjid
diolah dari berbagai sumber
(nag)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Penelitian Unair: Galon...
Penelitian Unair: Galon Polikarbonat Tak Terkait Gangguan Hormon hingga Kanker
38 menit yang lalu
Pramono Minta Penambahan...
Pramono Minta Penambahan 1.000 Siswa Sekolah Rakyat untuk Anak Broken Home hingga Pengamen
41 menit yang lalu
Berbagi Kebahagiaan,...
Berbagi Kebahagiaan, Komunitas Pajero One Santuni Puluhan Anak Yatim
1 jam yang lalu
Dinilai Tak Sesuai Budaya...
Dinilai Tak Sesuai Budaya Sunda, MUI Sesalkan Lagu 'Lalaki Langit' karya Bupati Purwakarta
1 jam yang lalu
BEM Psikologi UI Sebut...
BEM Psikologi UI Sebut LGBT Bukan Penyimpangan, MUI: Kampus Harus Ajarkan Mental Spiritual
3 jam yang lalu
Viral Video Letusan...
Viral Video Letusan Gunung Anak Krakatau Disertai Semburan Api Merah, PVMBG: Hoaks Buatan AI
4 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved