Kisah Karomah Syekh Burhanuddin Ulakan

Minggu, 03 Juli 2016 - 05:00 WIB
A A A
Mendapat tugas dari sang guru yang dia junjung tinggi Pono bergegas ke tepi pantai tetapi setiba di tepi pantai dia tidak mendapat sebuah perahupun untuk berangkat ke pulau.

Maka atas izin Allah dengan keyakinan penuh tubuhnya menjadi ringan seringan kapas dan dia bisa berjalan diatas air seakan-akan ada kayu penyangga yang menopangnya saat dia melangkah menuju pulau.

Peristiwa ini disaksikan oleh santri baik dari daratan maupun di seberang pulau sehingga ini menjadi salah satu kekeramatan Pono.

Kejadian serupa juga terjadi disaat Pono sedang membetulkan atap rumah dimana ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis sang guru maka dengan seketika Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu tersebut.

Salah satu peristiwa mashur yang menjadi pegangan kaum sufi adalah disaat Pono diuji keimanannya akan godaan wanita.

Saat itu Pono disuruh menjaga anak gadis sang guru yang lagi mekar-mekarnya di rumah sementara Syekh Abdurrauf pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Kiranya bangkitlah nafsunya melihat anak sang guru yang sedang ranum.

Namun untuk melawan nafsunya sendiri dia mengambil keputusan yang sangat mahal dengan pergi menjauh dan memukul alat kelaminnya dengan batu.

Bagi Pono dari pada jadi budak nafsu setan dan menjadi orang terbuang di dunia dan di akhirat lebih baik menghukum alat kelamin yang menjadi sumber pemicu pelampiasan hawa nafsu.

Cukup lama Pono menderita penyakit akibat cidera alat kelaminnya dan ketika sembuh dia tetap melakukan tugas semula seperti melayani kebutuhan santri dengan bijak. Hal inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya.

Karena minat serta perhatiannya sungguh luar biasa apalagi diikuti dengan daya ingatnya yang tinggi membuat Pono termasuk murid yang terpandai di antara santri lainnya.
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1144 seconds (11.210#12.26)