Abdullah Ahmad dan Modernisasi Islam di Minangkabau

Jum'at, 20 Mei 2016 - 05:00 WIB
Abdullah Ahmad dan Modernisasi...
Abdullah Ahmad dan Modernisasi Islam di Minangkabau
A A A
Namanya Haji Abdullah Ahmad. Sosok yang mengajarkan pelajaran agama Islam kepada Mohammad Hatta ini dikenal sebagai tokoh gerakan modernisasi Islam di Minangkabau. Berikut kisahnya.

Setelah membahas sosok Syekh Muhammad Djamil Djambek, salah satu ulama besar, Cerita Pagi kali ini akan mengupas sosok ulama besar lainnya di Minangkabau. Dia adalah Haji Abdullah Ahmad.

Dikutip dari Wikipedia, Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878. Dia merupakan anak dari Haji Ahmad, ulama Minangkabau yang juga seorang pedagang, dan seorang ibu yang berasal dari Bengkulu.

Menurut pemerhati sejarah Sumatera Barat Fikrul Hanif Sufyan, Abdullah Ahmad berasal dari keluarga yang taat terhadap agama. Sejak kecil ia telah dididik oleh ayahnya.

Pada usia 17 tahun (1895), Abdullah Ahmad menunaikan ibadah haji ke Mekkah, sekaligus berguru pada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Empat tahun kemudian (1899), dia kembali ke Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi bersama Haji Rasul.

Pada tahun 1906, Abdullah Ahmad pindah ke Padang untuk menjadi guru, menggantikan pamannya yang meninggal dunia.

Tiga tahun kemudian, tambah Fikrul Hanif yang juga pengajar di STKIP Abdi Pendidikan itu, Abdullah Ahmad bersama beberapa orang pedagang mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Syarikat Usaha di Padang. Dari organisasi ini, Syarikat Usaha merintis berdirinya Adabiyah School (1909-1914) yang menerapkan sistem pendidikan Islam modernis.

Selain tertarik pada dunia pendidikan, Abdullah Ahmad juga tertarik untuk menyebarkan pemikiran modernis, melalui publikasi dengan menjadi agen dari berbagai majalah pembaruan, seperti Al-Imam di Singapura dan Al-Ittihad dari Kairo. Selanjutnya, tanggal 1 April 1911, Abdullah Ahmad mendirikan perusahaan pers Islam pertama dan menerbitkan majalah Al-Munir.

Selama penerbitan majalah itu, Abdullah Ahmad dibantu ulama-ulama modernis seperti Haji Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Djamil Djambek, dan Syekh Muhammad Thaib Umar. (Baca juga: Syekh Muhammad Djamil Djambek, Ulama Besar Minangkabau).

Rubrik yang ditampilkan Al-Munir kental nuansa konfrontatif dengan ulama-ulama tradisional. Biasanya, dalam rubriknya dibahas tentang masalah ushalli, makan di rumah orang kematian, membaca barzanji, talqin terhadap si mayat, masalah-masalah bid'ah, dan hukum memakai dasi.

Melalui majalah Al-Munir, Abdullah Ahmad cs mengemukakan ijtihad mereka terhadap beberapa masalah yang sebelumnya diharamkan oleh ulama tradisional, seperti berfoto hukumnya boleh, memakai dasi dan topi tidak haram hukumnya.

Singkat cerita, Majalah Al-Munir merupakan salah satu media yang dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh modernis Islam dalam menyampaikan ijtihadnya.

Pada tahun 1918, Abdullah Ahmad mendirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) dan mendapat pengakuan hukum dari pemerintah Hindia Belanda tanggal 17 Juli 1920. Tujuan berdirinya organisasi ini, jelas Fikrul Hanif, adalah untuk mempersatukan ulama tradisional dan ulama modernis.

Namun, usaha ini tidak berhasil sepenuhnya, karena Kaum Tua dibawah pimpinan Syekh Sulaiman ar-Rusuli mendirikan organisasi serupa dengan nama Ittihadul Ulama Sumatra (Persatuan Ulama Sumatra).

Atas sikapnya yang taktis dan tenang dalam berhadapan dengan aturan-aturan hukum pemerintah Hindia Belanda, Abdullah Ahmad dijuluki sebagai politisi dan intelektual oleh seorang Belanda, van Ronkel.

Berkat pengetahuan keislamannya yang mendalam dan diakui ulama-ulama Timur Tengah, pada Konferensi Khilafah di Kairo, Mesir, tahun 1926, Abdullah Ahmad yang juga menjadi guru pelajaran agama Islam saat Bung Hatta bersekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dianugerahi gelar kehormatan, yakni doktor fid-din.

Ulama modernis asal Padang Panjang ini akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1933 di Padang. Namanya juga diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Padang.
(zik)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Kemendagri: Tanggap...
Kemendagri: Tanggap Darurat Aceh Berakhir, Anggaran Pemulihan Disiapkan Rp58,9 Triliun
4 jam yang lalu
Yusril Imbau Dedi Mulyadi...
Yusril Imbau Dedi Mulyadi Tak Bikin Sayembara Tangkap Begal: Khawatir Masyarakat Jadi Main Hakim Sendiri
5 jam yang lalu
BNI Menegaskan Kedatangan...
BNI Menegaskan Kedatangan Siswa Bukan atas Arahan Petugas
6 jam yang lalu
Kemhan Sebut Insiden...
Kemhan Sebut Insiden Bus Dinas yang Diduga Kabur usai Tabrak Ojol Diselesaikan secara Damai
8 jam yang lalu
Kisah Warga Bondowoso...
Kisah Warga Bondowoso Sukarela Serahkan Lutung Jawa ke Kemenhut
8 jam yang lalu
Hati-hati! Ada Perbaikan...
Hati-hati! Ada Perbaikan Jalan di Tol Jakarta-Cikampek
9 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved