Proyek Reklamasi Bikin Keberadaan Ratusan Nelayan Terancam

Selasa, 19 April 2016 - 19:02 WIB
Proyek Reklamasi Bikin...
Proyek Reklamasi Bikin Keberadaan Ratusan Nelayan Terancam
A A A
JAKARTA - Nelayan yang tergabung dalam Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) cabang Muara Baru, Jakarta Utara mengaku terancam dengan proyek reklamasi di teluk Jakarta. Tak hanya karena hasil tangkapan sedikit, saat akan mencari ikan mereka kerap diintimidasi security pulau reklamasi.

Ditemui di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Iwan, Sekretaris DPW KNT Jakarta, mengaku keberadaan nelayan mulai terancam.

"Ancaman tidak hanya berasal dari hasil tangkapan yang berkurang tapi karena ada intimidasi dari security pulau reklamasi," terangnya, Selasa (19/4/2016).

Dahulu dalam kurun waktu 2-3 jam, ia mampu mendapatkan minimal 2 kwintal ikan, kali ini meski telah enam jam melaut, satu kwintal sangat sulit didapat. "Ada ratusan nelayan yang terancam kehilangan mata pencahariannya," tambah Iwan.

Salah satu nelayan, Kalil (49) proyek reklamasi 17 pulau membuat sumber ikan menjadi hilang, termasuk soal tambak kerang yang telah terpasang selama beberapa tahun.

"Dulu waktu enggak ada pulau, berlayar beberapa meter saja sudah dapat ikan. Sekarang, kita musti muter-muter ngelewati pulau," keluhnya.

Belum lagi, saat mencari ikan juga, kata Kalil, pihaknya harus mendapatkan intervensi dari pihak security pulau. Para pihak security, bahkan tak segan melakukan tindakan kekerasan bila kedapatan ada perahu nelayan yang dekat dengan pulau.

"Padahal sumber ikan itu ada di pulau G, tambak kerang pulau C, K, dan Q. Itu semua harus hilang, setelah pulau-pulau itu dibangun," jelasnya.

Nelayan lainnya, Saudi, 43, mengatakan dahulu sebelum pulau itu terbentuk, dalam semalam berlayar, dirinya mampu mendapatkan sekitar Rp300 ribu hanya kurun waktu 1-2 jam. Sementara saat ini, dalam enam jam kerja, pihaknya hanya mendapatkan penghasilan Rp120 ribu. "Itu bersyukur kita masih dapat. Kadang-kadang malah enggak bisa nutup biaya operasional solar," jelas Saudi.
(ysw)
Berita Terkait
Debat Sengit Aktivis...
Debat Sengit Aktivis Jakarta, Reklamasi Ancol Harus Hasilkan Pantai Publik
Kerumunan di Pantai...
Kerumunan di Pantai Indah Kapuk Berujung Penetapan Seorang Tersangka
Ini Motif Penyelenggara...
Ini Motif Penyelenggara Bikin Perayaan yang Memicu Kerumunan di PIK
DKI Sebut Pagar Laut...
DKI Sebut Pagar Laut Sepanjang 500 Meter di Seberang Pulau C Reklamasi Sudah Dihentikan
3 Nama Pulau Reklamasi...
3 Nama Pulau Reklamasi yang Berada di Teluk Jakarta
Kerumunan di Pantai...
Kerumunan di Pantai Reklamasi PIK, Warganet: Maaf Corona Gak Berani Masuk Pantai Indah Kapuk
Berita Terkini
Besok Puncak HUT ke-499...
Besok Puncak HUT ke-499 Jakarta di Bundaran HI, Ini Info Rekayasa Lalu Lintas dan Titik Parkirnya
34 menit yang lalu
KPK Ungkap Biro Jasa...
KPK Ungkap Biro Jasa Harus Setor Rp100 Ribu hingga Rp2,5 Juta untuk Pengurusan Izin Tinggal WNA di Bali
2 jam yang lalu
Viral Kabar Ganjil Genap...
Viral Kabar Ganjil Genap di 28 Gerbang Tol Jakarta, Polda Metro Jaya Angkat Bicara
3 jam yang lalu
Blok M Jadi Lokasi Awal...
Blok M Jadi Lokasi Awal Penerapan Kawasan Rendah Emisi Jakarta
12 jam yang lalu
Anggota DPD RI Desak...
Anggota DPD RI Desak Pemkab Bima Atasi Krisis Air Bersih di Desa Bajo
12 jam yang lalu
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
13 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved