ABG Cabuli 4 Bocah, KPAI Nilai Kontrol Sosial Lemah
Jum'at, 15 April 2016 - 20:03 WIB
ABG Cabuli 4 Bocah, KPAI Nilai Kontrol Sosial Lemah
A
A
A
JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan terjadinya kasus dugaan pencabulan yang dilakukan pelajar laki – laki terhadap empat pelajar SD di Kedoya, Jakarta Barat. Kejadian tersebut merupakan dampak di bagian hilir akibat kesalahan di bagian hulu.
“Penciptaan lingkungan anak yang kurang baik membuat pelajar 13 tahun itu melakukan pencabulan terhadap anak enam tahun. Ini tidak bisa tidak pasti ada pemahaman karena faktor luar,” kata Ketua KPAI Asrorun Ni’am di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jumat (15/4/2016).
Ia menegaskan hal itu dapat terjadi lantaran lemahnya kontrol keluarga terhadap anak. Belum lagi pengaruh luar seperti tayangan televisi serta game online yang tersebar secara masif. (Baca: Lihat Cucunya Ditindih ABG, Nenek Ini Lapor Polisi)
“Kontrol lemah tak optimal. Games ataupun tayangan bagi anak meskipun ada ikhtiar seperti sensor tetapi kapasitas tak memadai dengan sarana yang tersebar luas. Di sisi lain orang yang ngotorin ini di media penyiaran tetap ada,” ungkap Asrorun.
Asrorun menambahkan pelaku diduga sudah melakukan perbuatan tersebut lebih dari satu kali. Karena itu, pelaku perlu diberikan penanganan khusus .
“Sepertinya kalau begitu sudah jadi adiksi oleh pelaku, karena tak sekali. Bisa jadi adiksi, dorongan, bukan hanya iseng. Tapi habit, sehingga butuh trauma healing,” tutupnya.
“Penciptaan lingkungan anak yang kurang baik membuat pelajar 13 tahun itu melakukan pencabulan terhadap anak enam tahun. Ini tidak bisa tidak pasti ada pemahaman karena faktor luar,” kata Ketua KPAI Asrorun Ni’am di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jumat (15/4/2016).
Ia menegaskan hal itu dapat terjadi lantaran lemahnya kontrol keluarga terhadap anak. Belum lagi pengaruh luar seperti tayangan televisi serta game online yang tersebar secara masif. (Baca: Lihat Cucunya Ditindih ABG, Nenek Ini Lapor Polisi)
“Kontrol lemah tak optimal. Games ataupun tayangan bagi anak meskipun ada ikhtiar seperti sensor tetapi kapasitas tak memadai dengan sarana yang tersebar luas. Di sisi lain orang yang ngotorin ini di media penyiaran tetap ada,” ungkap Asrorun.
Asrorun menambahkan pelaku diduga sudah melakukan perbuatan tersebut lebih dari satu kali. Karena itu, pelaku perlu diberikan penanganan khusus .
“Sepertinya kalau begitu sudah jadi adiksi oleh pelaku, karena tak sekali. Bisa jadi adiksi, dorongan, bukan hanya iseng. Tapi habit, sehingga butuh trauma healing,” tutupnya.
(ysw)