Tahun Ini, DKI Bangun Tiga Flyover dan Dua Underpass
Jum'at, 11 Maret 2016 - 05:24 WIB
Tahun Ini, DKI Bangun Tiga Flyover dan Dua Underpass
A
A
A
JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta membangun tiga flyover di perlintasan kereta api tak sebidang dan dua underpass di Jakarta. Pembangunan jalan tersebut ditargetkan rampung 2018 mendatang.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan Tidak sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hananto Krisna mengatakan, pada tahun ini pihaknya hanya membangun tiga flyover perlintasan tak sebidang dan dua underpass. Di antaranya yaitu, flyover di perlintasan kereta api Pondok Betung, Jalan Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan; di perlintasan kereta Api Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat; dan perlintasan kereta api Cipinang Lontar, Jatinegara, Jakarta Timur.
Sedangkan untuk underpass di Jalan Kartini, dari Lebak Bulus ke Pondok Indah dan di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta selatan. Menurut Hananto, saat ini pembangunan tersebut masih lelang konsultan.
Hananto menargetkan pembangunan akan berjalan berbarengan pada pertengahan tahun ini. "Sambil menunggu lelang, kami juga sedang menginvetarisasi lahan yang harus dibebaskan. Paling lambat pertengahan tahun ini sudah dibangun" jelas Hananto Krisna saat dihubungi, Kamis 10 Maret 2016 kemarin.
Hananto menjelaskan, pembangunan flyover dan underpass tersebut menggunakan anggaran dua tahun berjalan. Berdasarkan data yang didapatkan saat penyusunan anggaran 2016, Dinas Bina Marga sedikitnya mengeluarkan uang sebesar Rp49 miliar untuk membangun sembilan flyover dan underpass.
Pembangunan ketiga flyover dan dua underpass yang akan dikerjakan pertengahan tahun itu dipilih menjadi prioritas karena tingkat kerawanan dan kemcaetan di kawasan tersebut sudah sangat kronis.
Kepala Bidang Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Priyanto menuturkan, pembangunan tiga flyover dan dua underpass oleh Dinas Bina Marga memang sudah dilontarkan. Namun, hingga saat ini belum ada rapat dengan Dinas Bina Marga perihal pembangunan tersebut.
Berdasarkan pengamatannya, lanjut Priyanto, pembangunan flyover di ketiga titik dan dua underpass tersebut tentunya sulit untuk dilakukan rekayasa lalu lintas. Sebab, selain ruas jalan terbatas, pertambahan kendaraan juga tidak bisa dihindarkan.
"Kami paling hanya mengoptimalkan saja. Jalan yang tadinya dua jalur. nanti kami buat satu jalur dengan dua arah. Konsekunesinya pasti peningkatan pengguna jalan dan banyak terjadi pelanggaran kendaraan roda dua yang lawan arah," jelasnya.
Kepala Seksi Pembangunan Jalan Tidak sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hananto Krisna mengatakan, pada tahun ini pihaknya hanya membangun tiga flyover perlintasan tak sebidang dan dua underpass. Di antaranya yaitu, flyover di perlintasan kereta api Pondok Betung, Jalan Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan; di perlintasan kereta Api Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat; dan perlintasan kereta api Cipinang Lontar, Jatinegara, Jakarta Timur.
Sedangkan untuk underpass di Jalan Kartini, dari Lebak Bulus ke Pondok Indah dan di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta selatan. Menurut Hananto, saat ini pembangunan tersebut masih lelang konsultan.
Hananto menargetkan pembangunan akan berjalan berbarengan pada pertengahan tahun ini. "Sambil menunggu lelang, kami juga sedang menginvetarisasi lahan yang harus dibebaskan. Paling lambat pertengahan tahun ini sudah dibangun" jelas Hananto Krisna saat dihubungi, Kamis 10 Maret 2016 kemarin.
Hananto menjelaskan, pembangunan flyover dan underpass tersebut menggunakan anggaran dua tahun berjalan. Berdasarkan data yang didapatkan saat penyusunan anggaran 2016, Dinas Bina Marga sedikitnya mengeluarkan uang sebesar Rp49 miliar untuk membangun sembilan flyover dan underpass.
Pembangunan ketiga flyover dan dua underpass yang akan dikerjakan pertengahan tahun itu dipilih menjadi prioritas karena tingkat kerawanan dan kemcaetan di kawasan tersebut sudah sangat kronis.
Kepala Bidang Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Priyanto menuturkan, pembangunan tiga flyover dan dua underpass oleh Dinas Bina Marga memang sudah dilontarkan. Namun, hingga saat ini belum ada rapat dengan Dinas Bina Marga perihal pembangunan tersebut.
Berdasarkan pengamatannya, lanjut Priyanto, pembangunan flyover di ketiga titik dan dua underpass tersebut tentunya sulit untuk dilakukan rekayasa lalu lintas. Sebab, selain ruas jalan terbatas, pertambahan kendaraan juga tidak bisa dihindarkan.
"Kami paling hanya mengoptimalkan saja. Jalan yang tadinya dua jalur. nanti kami buat satu jalur dengan dua arah. Konsekunesinya pasti peningkatan pengguna jalan dan banyak terjadi pelanggaran kendaraan roda dua yang lawan arah," jelasnya.
(whb)