Aneh, Anggota Dewan Bandung Desak Ridwan Kamil Minta Maaf
Jum'at, 26 Februari 2016 - 09:45 WIB
Aneh, Anggota Dewan Bandung Desak Ridwan Kamil Minta Maaf
A
A
A
BANDUNG - Perseteruan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan Pemkot Surabaya terkait ditolaknya kunjungan kerja wakil wali kota bandung ke Kota Pahlawan mendapat tanggapan kalangan DPRD Kota Kembang.
Namun anehnya, wakil rakyat tersebut malah menyalahkan Pemkot Bandung dan mendesak Ridwan Kamil untuk meminta maaf pada Pemkot Surabaya.
Pasalnya, Dewan menilai insiden penolakan kunjungan studi banding oleh Pemkot Surabaya melalui media sosial (medsos) tanpa konfirmasi lebih lanjut.
"Wali Kota Bandung harus minta maaf secara terbuka, gentle saja ini salah," ujar anggota DPRD Kota Bandung, Erwan Setiawan, Jumat (26/2/2016).
Menurutnya, permintaan maaf harus dilakukan agar persoalan yang mencuat segera selesai dan tidak melebar ke mana-mana. Apalagi apa yang ditulis Emil di twitter kini jadi isu nasional.
"Untuk menjernihkan masalah ini karena sudah terjadi, gentle saja minta maaf," tegas kader Partai Demokrat itu.
Ia pun kembali menyindir Emil karena curhat di media sosial ketimbang meluruskan persoalan lebih dulu. Harusnya begitu ada penolakan ia berkomunikasi dengan pihak Pemkot Surabaya. Tapi ia justru mengumbarnya di media sosial.
Apalagi menurutnya yang salah dalam hal ini adalah rombongan pihak Pemkot Bandung yang datang ke sana tanpa komunikasi intensif dengan pihak Pemkot Surabaya.
Sehingga terjadi miskomunikasi dan rombongan kembali ke Bandung tanpa hasil. "Sudah tahu kita yang salah, malah dia yang (mengungkapkan) ini ke medsos duluan," cetus Erwan.
Disinggung soal penolakan yang tidak hanya sekali terjadi, hal itu menurutnya seharusnya diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Konfirmasi harusnya dilakukan agar pangkal persoalan menjadi jelas.
"Wali Kota bilang (penolakan kunjungan) ini bukan yang pertama. Harusnya buat surat secara tertulis kepada Gubernur Jatim, Mendagri, atau Pemkot Surabaya kenapa selalu ditolak di Surabaya," katanya.
"Kan mereka juga bisa menjelaskan. Jadi tidak harus sedikit-sedikit di medsos, curhat-curhat. Sekarang bukan zamannya curhat, sekarang zamannya kerja agar masyarakat bisa lebih sejahtera," pungkasnya.
Namun anehnya, wakil rakyat tersebut malah menyalahkan Pemkot Bandung dan mendesak Ridwan Kamil untuk meminta maaf pada Pemkot Surabaya.
Pasalnya, Dewan menilai insiden penolakan kunjungan studi banding oleh Pemkot Surabaya melalui media sosial (medsos) tanpa konfirmasi lebih lanjut.
"Wali Kota Bandung harus minta maaf secara terbuka, gentle saja ini salah," ujar anggota DPRD Kota Bandung, Erwan Setiawan, Jumat (26/2/2016).
Menurutnya, permintaan maaf harus dilakukan agar persoalan yang mencuat segera selesai dan tidak melebar ke mana-mana. Apalagi apa yang ditulis Emil di twitter kini jadi isu nasional.
"Untuk menjernihkan masalah ini karena sudah terjadi, gentle saja minta maaf," tegas kader Partai Demokrat itu.
Ia pun kembali menyindir Emil karena curhat di media sosial ketimbang meluruskan persoalan lebih dulu. Harusnya begitu ada penolakan ia berkomunikasi dengan pihak Pemkot Surabaya. Tapi ia justru mengumbarnya di media sosial.
Apalagi menurutnya yang salah dalam hal ini adalah rombongan pihak Pemkot Bandung yang datang ke sana tanpa komunikasi intensif dengan pihak Pemkot Surabaya.
Sehingga terjadi miskomunikasi dan rombongan kembali ke Bandung tanpa hasil. "Sudah tahu kita yang salah, malah dia yang (mengungkapkan) ini ke medsos duluan," cetus Erwan.
Disinggung soal penolakan yang tidak hanya sekali terjadi, hal itu menurutnya seharusnya diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Konfirmasi harusnya dilakukan agar pangkal persoalan menjadi jelas.
"Wali Kota bilang (penolakan kunjungan) ini bukan yang pertama. Harusnya buat surat secara tertulis kepada Gubernur Jatim, Mendagri, atau Pemkot Surabaya kenapa selalu ditolak di Surabaya," katanya.
"Kan mereka juga bisa menjelaskan. Jadi tidak harus sedikit-sedikit di medsos, curhat-curhat. Sekarang bukan zamannya curhat, sekarang zamannya kerja agar masyarakat bisa lebih sejahtera," pungkasnya.
(nag)