Cerita Sesepuh Kalijodo, dari Wisata Air ke Prostitusi

Sabtu, 13 Februari 2016 - 20:05 WIB
Cerita Sesepuh Kalijodo,...
Cerita Sesepuh Kalijodo, dari Wisata Air ke Prostitusi
A A A
JAKARTA - Sebelum berkembang sebagai lokasi prostitusi, pada tahun 1950-an kawasan Kalijodo dulunya adalah lokasi wisata air. Untuk naik perahu wisata air di Kalijodo dikutip bayaran Rp20 perak.

Warga sekitar Kalijodo, Ceceng (67) menceritakan kalau dulunya Kalijodo merupakan kawasan wisata air. Kala itu, Banjir Kanal Barat yang saat ini berada di depan Kalijodo merupakan tempat wisata bagi pribumi dan etnis Tionghoa.

Mereka berwisata untuk menikmati perahu kayu sepanjang enam meter saat hari mulai sore dan malam hari. "Untuk masuknya bayar Rp20 perak, di tengah perahu ada gadis China yang bernyanyi gambang kromong dan bangunan kamar-kamar di atasnya," tuturnya kala menceritakan kawasan Kalijodo sekitar tahun 1950-an.

Kala itu, di kawasan itu terdapat seorang saudagar Cina kaya bernama Tjong Wie Pien yang memiliki puluhan kamar. Kamar itupun kerap digunakan sejumlah pria hidung belang untuk memuaskan nafsu syahwatnya melalui PSK yang mangkal di kawasan jalan Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat.

Kebanyakan PSK di Tubagus Angke, kata Ceceng, merupakan seorang janda-janda muda yang berasal dari warga sekitar. Namun seiring berkembangnya jaman, warga dari luar Jakarta berdatangan dan bermukim di kawasan itu.

Mereka yang datang kebanyakan merupakan gadis lugu yang kemudian di perjualbelikan untuk pemuas nafsu. "Itu terjadi sekitar tahun 80-an," jelasnya.

Sekitar tahun 90-an, barulah prostitusi di kawasan Kalijodo semakin berkembang pesat, hal ini mendorong rumah-rumah judi mulai berkembang. Sehingga arus PSK pun semakin tak terkendali. (Ahok Prediksi Penertiban Kalijodo Akan Berujung Bentrok)

Budayawan, Remi Silado Tambayong tak menampik dengan pernyataan Ceceng. Ia menambahkan banyak etnis Cina di kawasan itu bermula saat konflik antara Cina dan Monggolia muncul di tahun 1740. Kala itu, warga cina bermunculan di Indonesia termasuk di kawasan Kalijodo.

"Kala itu banyak warga cina (pria) menikah dengan warga pribumi. Sehingga banyak etnis keturunan yang bernyanyi di perahu itu," jelasnya. (Cerita FPI Ketika Bentrok Berdarah di Kalijodo)

Kondisi itupun pernah ia tuangkan dalam novel dengan judul Cabaokan yang kemudian di film beberapa tahun lalu. "Namun mereka (etnis tionghoa) kemudian pergi seiring masuknya kaum pribumi di kawasan itu," tutupnya.
(ysw)
Berita Terkait
Heru Ingin Hidupkan...
Heru Ingin Hidupkan Kembali RPTRA Kalijodo Peninggalan Ahok
Kembali Dibuka, Warga...
Kembali Dibuka, Warga Antusias Berolahraga di RTH Kalijodo
Sempat Terbengkalai,...
Sempat Terbengkalai, Pemprov DKI Janji Revitalisasi RPTRA Kalijodo
Jasa Marga Gelar 1.000...
Jasa Marga Gelar 1.000 Paket Sembako Murah di Kalijodo
Razman Arif Nasution,...
Razman Arif Nasution, Pengacara Demokrat Moeldoko yang Pernah Bela Warga Kalijodo
Lurah Jelambar Baru...
Lurah Jelambar Baru Duga Sebagian Warga Kolong Tol Angke Korban Gusuran Kalijodo
Berita Terkini
BNPB Petakan Karhutla...
BNPB Petakan Karhutla di Sejumlah Wilayah, Sumatera dan Kalimantan Mendominasi
27 menit yang lalu
Gempa M5,2 Guncang Pulau...
Gempa M5,2 Guncang Pulau Karatung Sulut
39 menit yang lalu
Sekjen PPP Taj Yasin...
Sekjen PPP Taj Yasin dan Agus Suparmanto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
1 jam yang lalu
MNC Peduli dan Park...
MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Gelar Aksi Food Rescue untuk Warga Duri Kepa
1 jam yang lalu
KAI Jadi Benchmark Layanan...
KAI Jadi Benchmark Layanan Publik Indonesia, Dinilai Mampu Bersaing secara Global
3 jam yang lalu
Begal dan Curanmor,...
Begal dan Curanmor, Kasus Besar yang Diungkap Polda Riau dalam Semalam
4 jam yang lalu
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved