Pengeroyokan Polisi di Berlan Akibat Koordinasi yang Buruk
Rabu, 20 Januari 2016 - 14:08 WIB
Pengeroyokan Polisi di Berlan Akibat Koordinasi yang Buruk
A
A
A
JAKARTA - Pengeroyokan terhadap anggota Polsek Senen yang sedang menyergap bandar narkoba di kawasan Berlan, Matraman, Jakarta Timur menunjukkan buruknya koordinasi kepolisian. Khususnya bidang intelijen dan reserse.
"Tanpa info lengkap dari intelijen, tentang situasi dan kondisi di TKP, reserse main sergap. Akibatnya, saat warga melakukan perlawanan ketiga polisi itu kaget dan menjadi korban," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane saat dihubungi Sindonews, Rabu (20/1/2016).
Neta melanjutkan, kasus penggeroyokan ini juga menunjukkan betapa tidak terlatihnya polisi saat ini, padahal mereka tugas di Ibu Kota. Akibatnya, mereka menjadi sasaran amuk warga.
"Bagaimana pun kasus ini harus menjadi pelajaran yang berharga bagi Polri untuk berbenah, introspeksi dan memperbaki kinerja profesionalnya," tambah Neta. (Baca: 1 Polisi Tewas & 2 Terluka, Kapolda Jelaskan Kronologi Penggerebekan di Berlan)
Untuk itu, Neta meminta, agar Komisi III DPR memanggil Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti untuk mempertanyakan penerapan Standard Operating Procedures (SOP) kepolisian.
"Jangan sampai ketika dikritik bergaya Cakrabirawa, Polri berlindung di balik SOP-nya. Tapi ketika polisi tewas dan luka-luka dalam penggerebekan ternyata polisi menggabaikan SOP-nya," kata Neta.
PILIHAN:
Dor! 2 Polisi Terkapar Ditembak Bandar Narkoba
"Tanpa info lengkap dari intelijen, tentang situasi dan kondisi di TKP, reserse main sergap. Akibatnya, saat warga melakukan perlawanan ketiga polisi itu kaget dan menjadi korban," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane saat dihubungi Sindonews, Rabu (20/1/2016).
Neta melanjutkan, kasus penggeroyokan ini juga menunjukkan betapa tidak terlatihnya polisi saat ini, padahal mereka tugas di Ibu Kota. Akibatnya, mereka menjadi sasaran amuk warga.
"Bagaimana pun kasus ini harus menjadi pelajaran yang berharga bagi Polri untuk berbenah, introspeksi dan memperbaki kinerja profesionalnya," tambah Neta. (Baca: 1 Polisi Tewas & 2 Terluka, Kapolda Jelaskan Kronologi Penggerebekan di Berlan)
Untuk itu, Neta meminta, agar Komisi III DPR memanggil Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti untuk mempertanyakan penerapan Standard Operating Procedures (SOP) kepolisian.
"Jangan sampai ketika dikritik bergaya Cakrabirawa, Polri berlindung di balik SOP-nya. Tapi ketika polisi tewas dan luka-luka dalam penggerebekan ternyata polisi menggabaikan SOP-nya," kata Neta.
PILIHAN:
Dor! 2 Polisi Terkapar Ditembak Bandar Narkoba
(mhd)