Ada Anggota DPR Cawe-cawe di Penambangan Pasir Lumajang

Selasa, 06 Oktober 2015 - 03:02 WIB
Ada Anggota DPR Cawe-cawe...
Ada Anggota DPR Cawe-cawe di Penambangan Pasir Lumajang
A A A
JAKARTA - Tim Investigasi Komisi III DPR menemukan sejumlah fakta mencenggangkan di balik kasus pembunuhan aktivis Salim alias Kancil dan penganiayaan berat aktivis Tosan di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Satu di antaranya, hasil penambangan pasir ilegal di desa tersebut dinikmati oknum anggota DPR periode 2014-2019.

Investigasi atau kunjungan kerja (kunker) khusus berlangsung selama dua hari pada pekan lalu dan dipimpin Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat Benny Kabur Harman.

Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Golkar John Kenedy Azis menyatakan, penambangan pasir liar di Desa Selok Awar-awar sudah berlangsung lama bahkan hasilnya dinikmati oknum anggota DPR periode saat ini. Temuan yang dihasilkan dari penyampaikan sejumlah masyatakat ini sudah disampaikan rombongan Komisi III dalam rapat dengar pendapat dengan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Anton Setiadji, utusan Mabes Polri, dan Bupati Lumajang As'at Malik.

"Akibat pasir ini, penambangan liarnya ada anggota DPR yang berhasil di sini. Yang kemungkinan diduga dari penambangan liar ini. Ini juga kami sampaikan dalam RDP itu," kata John sebelum rapat paripurna DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/10/2015).

Dia melanjutkan, dalam penganiayaan terhadap Tosan dan pembunuhan Salim Kancil terjadi pembiaran oleh kepolisian atas pelaporan selama 10 hingga 15 hari. Pembiaran ini merupakan pembiaran terhadap penyelidikan dan pembelaan anak bangsa.

John mempertanyakan atas dasar pertimbangan apa laporan pengancaman yang disampaikan Tosan dan Salim tidak digubris dan ditindaklanjuti oleh kepolisian. Seharusnya saat ancaman dilaporkan, polisi memberikan pendampingan, pembelaan, dan perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Ini tidak ada. Sehingga memang terjadilah pembunuhan itu. Pembunuhannya memang sangat sadis, sangat luar-luar biasa, secara kemanusiaan tidak manusiawi lagi," tuturnya.

Pembiaran kedua oleh kepolisian yakni, berkaitan dengan jarak penyiksaan dan pembunuhan dengan kantor polisi hanya 12 km. Kalau dari kantor polisi ke tempat penyiksaan dengan mengendarai sepeda motor atau naik mobil paling hanya 8-10 menit karena jelas tidak macet.

Sedangkan penyiksaan dan pembunuhan berlangsung lebih kurang 1,5 jam. Artinya tidak mungkin ini polisi tidak tahu peristiwanya. Pembiaran yang ketiga yakni, korban disiksa di Pendopo atau Balai Desa dan berdekatan dengan rumah kepala desa.

"Jadi saya mengatakan secara ekstrim, negara enggak ada di situ. Tidak ada negara di situ," tandasnya.

Untuk itu, polisi tidak boleh berhenti di Kepala Desa Hariono. Komisi III menemukan ada oknum-oknum tertentu yang diduga terlibat. John menuturkan, polisi tidak bisa menyalahkan Kapolres Lumajang AKBP Fadly Mundzir karena baru menjabat satu hari sebelum peristiwa pembunuhan Salim, 26 September. Yang harus ditindak adalah Kapolres lama AKBP Aries Syahbudin.

"Gampang kok untuk menyelidiki siapa di belakang kepala desa. Itu kan ada alat penambangan besar, beko-beko pengeruk itu tentu ada pemiliknya. Kami minta juga pemilik-pemilik beko itu ditindaklanjuti," ujarnya.

Yang hilir mudik untuk penambangan pasir ilegal itu antara kurang lebih 50 sampai 100 truk besar. Artinya, pasti ada perusahaan yang ikut andil. Guna mengungkap keterlibatan perusahaan, polisi bisa memeriksa pengepul-pengepul di sekitar desa.

Karena kemungkinan besar pemilik-pemilik truk atau beko inilah yang membiayai Hariono untuk melakukan aksinya dengan menyewa preman-preman. Apalagi biayanya tidak sedikit.

"Untuk preman-preman yang menyiksa Tosan dan membunuh Salim Kancil konon katanya itu sekitar Rp12,5 juta sampai Rp15 juta biayanya per hari. Itu kan besar. Harus diselidiki, disidik itu siapa pemilik truk, kemana pasir ini dijual," tandas John.
(kri)
Berita Terkait
Ini Tampang Pelaku Pembunuhan...
Ini Tampang Pelaku Pembunuhan Ermanto Usman
Siapa Sharif Osman Hadi?...
Siapa Sharif Osman Hadi? Pemimpin Demonstrasi Bangladesh yang Meninggal di Singapura
14 Aktivis Asing yang...
14 Aktivis Asing yang Dibunuh Israel selama 20 Tahun Terakhir
LPSK Siap Lindungi Keluarga...
LPSK Siap Lindungi Keluarga Korban Pembunuhan Aktivis Buruh di Jatibening Bekasi
Ini Tampang Pelaku Pembunuhan...
Ini Tampang Pelaku Pembunuhan Perempuan yang Jasadnya Dibungkus Plastik di Sukoharjo
Polisi Ungkap Motif...
Polisi Ungkap Motif Kasus Pembunuhan Aktivis Buruh Ermanto Usman
Berita Terkini
Prabowo Dijadwalkan...
Prabowo Dijadwalkan Hadiri Open House Sekolah Rakyat di Bogor
4 menit yang lalu
MNC Peduli Salurkan...
MNC Peduli Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Kebakaran di Kemayoran
14 jam yang lalu
Pendidikan Dinilai Kunci...
Pendidikan Dinilai Kunci Pelestarian Budaya, Yulius Aho Salurkan Beasiswa
14 jam yang lalu
Sidang Gugatan PPP,...
Sidang Gugatan PPP, Saksi Sebut SK Plt Maluku Cacat Hukum
14 jam yang lalu
PNM Komitmen Hadirkan...
PNM Komitmen Hadirkan Layanan Berlandaskan Keadilan Sosial
15 jam yang lalu
Rano Karno Apresiasi...
Rano Karno Apresiasi Perbaikan Saluran Air di Lenteng Agung Kelar 5 Hari, Jalan Arah Depok Bisa Dilalui
18 jam yang lalu
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved