Ahok Tak Imbangi Perlawanan Korupsi dengan Komunikasi
Senin, 17 Agustus 2015 - 17:08 WIB
Ahok Tak Imbangi Perlawanan Korupsi dengan Komunikasi
A
A
A
JAKARTA - Perlawanan korupsi yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai memperlambat penyerapan anggaran. Dampaknya berimbas kepada sejumlah pembangunan di Jakarta.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, Jakarta tidak akan berubah apabila sikap Ahok sebagai Gubernur tetap seperti saat ini. Menurut Joga, Jakarta dengan segala permasalahannya mampu bersaing dengan negara berkembang di belahan dunia lainnya dalam waktu lima tahun.
"Terpenting, Jakarta memiliki pemimpin yang tidak mudah menaruh curiga, berprasangka buruk dan mampu berkomunikasi dengan baik untuk mewujudkan penataan kota Jakarta," kata Joga Senin (17/8/2015).
Berdasarkan pengamatannya, Menurut Joga, perlawanan korupsi yang dilakukan Ahok saat ini justru memperlambat penyerapan anggaran yang justru berdampak pada setiap kegatan pembangunan. Terlebih, evaluasi jabatan yang dilakukan hanya berkisar waktu sekitar tiga bulan.
Padahal, kinerja sesorang tidak dapat dilakukan secepat itu. "Semangat kepemimpinan dapat mengubah birokrasi tanpa membuat anak buah takut dan tidak buruk sangka. Sejak ditinggalkan Jokowi, semangat Jakarta Baru menurun. Hal yang kecil untuk melarang kendaraan melintas di trotoar saja tidak bisa. Apalagi membenahi transportasi massal," tegasnya.
Nirwono menjelaskan, pada kepemimpinan Jokowi menjadi Gubernur satu setengah tahun di Jakarta, masyarakat antusias membantu pemerintah dalam hal pembangunan, salah satunya Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang.
Namun, sayangnya setelah Ahok menjadi Gubernur, Ahok memilih untuk melawan korupsi tanpa dibarengi dengan komunikasi baik kepada masyarakat, DPRD ataupun pejabat dilingkungannya, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saefull Hidayat.
"Semua yang dipaparkan Ahok dalam Hari Kemerdekaan hanyalah seremonial. Semua tidak berjalan maksimal. Mulai besok terapkan nilai kemerdekaan terhadap penataan kota Jakarta dari hal yang sederhana, larang motor naik trotoar," paparnya.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, Jakarta tidak akan berubah apabila sikap Ahok sebagai Gubernur tetap seperti saat ini. Menurut Joga, Jakarta dengan segala permasalahannya mampu bersaing dengan negara berkembang di belahan dunia lainnya dalam waktu lima tahun.
"Terpenting, Jakarta memiliki pemimpin yang tidak mudah menaruh curiga, berprasangka buruk dan mampu berkomunikasi dengan baik untuk mewujudkan penataan kota Jakarta," kata Joga Senin (17/8/2015).
Berdasarkan pengamatannya, Menurut Joga, perlawanan korupsi yang dilakukan Ahok saat ini justru memperlambat penyerapan anggaran yang justru berdampak pada setiap kegatan pembangunan. Terlebih, evaluasi jabatan yang dilakukan hanya berkisar waktu sekitar tiga bulan.
Padahal, kinerja sesorang tidak dapat dilakukan secepat itu. "Semangat kepemimpinan dapat mengubah birokrasi tanpa membuat anak buah takut dan tidak buruk sangka. Sejak ditinggalkan Jokowi, semangat Jakarta Baru menurun. Hal yang kecil untuk melarang kendaraan melintas di trotoar saja tidak bisa. Apalagi membenahi transportasi massal," tegasnya.
Nirwono menjelaskan, pada kepemimpinan Jokowi menjadi Gubernur satu setengah tahun di Jakarta, masyarakat antusias membantu pemerintah dalam hal pembangunan, salah satunya Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang.
Namun, sayangnya setelah Ahok menjadi Gubernur, Ahok memilih untuk melawan korupsi tanpa dibarengi dengan komunikasi baik kepada masyarakat, DPRD ataupun pejabat dilingkungannya, termasuk Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saefull Hidayat.
"Semua yang dipaparkan Ahok dalam Hari Kemerdekaan hanyalah seremonial. Semua tidak berjalan maksimal. Mulai besok terapkan nilai kemerdekaan terhadap penataan kota Jakarta dari hal yang sederhana, larang motor naik trotoar," paparnya.
(whb)