Hujan Buatan Tak Efektif Atasi Kekeringan di DIY

Sabtu, 01 Agustus 2015 - 03:00 WIB
Hujan Buatan Tak Efektif...
Hujan Buatan Tak Efektif Atasi Kekeringan di DIY
A A A
YOGYAKARTA - Kekeringan berkepanjangan tengah melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk DIY. Meski salah satu cara mengatasinya ialah dengan membuat hujan buatan, hal tersebut dinilai tak akan berdampak besar atasi kekeringan di DIY.

"Hujan buatan bisa saja dilakukan. Tapi saya rasa, hujan buatan bukan solusi terbaik atasi kekeringan untuk wilayah DIY. Pengelolaan sumber daya air dengan menampung air saat musim penghujan dan menggunakannya di musim kemarau lebih efektif ketimbang hujan buatan," ujar Dosen Fakultas Geografi UGM Ahmad Cahyadi, Jumat (31/7/2015).

Kepada Sindo, Ahmad menjelaskan, kekeringan di DIY juga merupakan dampak dari Elnino, meski memang dalam tingkatan sedang. Meski terdampak sedang, curah hujan di DIY telah mengalami pengurangan bahkan di bawah normal.

Wilayah Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta, menurutnya, masih tergolong baik. Namun, tidak demikian dengan Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo.

"Akibat pengaruh orografis Merapi, Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta dapat dikatakan tidak memerlukan hujan buatan. Irigasi masih berjalan baik dari mata air-mata air yang ada. Namun tidak demikian dengan Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo yang tidak mendapat dampak orografis Merapi," jelasnya.

Meski tergolong urgen dilakukannya hujan buatan di wilayah Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo untuk mengatasi kekeringan, Ahmad tidak menyarankannya. Selain biaya yang sangat mahal, keberhasilan mengurangi kekeringan terbilang kecil.

"Saya yakin, sekali dua kali dilakukan hujan buatan belum mampu mengatasi kekeringan. Ini dikarenakan kondisi yang sangat kering membuat penguapan menjadi banyak. Tanah pun membutuhkan air yang banyak karena resapan atau infiltrasi menjadi sangat tinggi akibat kekeringan. Padahal sekali melakukan hujan buatan biayanya bisa sampai puluhan juta," ungkapnya.

Kondisi lainnya yang menurut Ahmad bisa menggagalkan upaya hujan buatan ialah minimnya uap air akibat tingginya suhu alam. Uap air yang rendah membuat potensi awan di Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo pun menjadi kurang. Hal ini membuat hujan buatan bisa berakhir sia-sia.

"Hujan buatan dilakukan dengan cara menaburkan serbuk tertentu di udara atas awan. Serbuk-serbuk inilah yang kemudian mengikat uap air. Namun karena uap air minim, tentu tidak ada yang bisa diikat, sehingga sama saja."
(zik)
Berita Terkait
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Puncak Musim Kemarau...
Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus 2025, BMKG: Berlangsung Lebih Singkat
Warga Jakarta Diimbau...
Warga Jakarta Diimbau Waspada Hadapi Musim Kemarau
Kemarau Panjang di Gunung...
Kemarau Panjang di Gunung Kidul, Teknologi Diterjunkan untuk Mengaliri Air dari Lapisan Tanah
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
4 jam yang lalu
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
8 jam yang lalu
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
9 jam yang lalu
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
9 jam yang lalu
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
9 jam yang lalu
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
9 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved