Beda Keyakinan, Tapi Harus Jaga Hubungan Baik
Selasa, 21 Juli 2015 - 10:38 WIB
Beda Keyakinan, Tapi Harus Jaga Hubungan Baik
A
A
A
ISLAM di Indonesia identik sebagai agama masyarakat pribumi. Namun belakangan agama ini mulai dilirik kaum “pendatang”. Seperti warga Tionghoa yang banyak mempelajari Islam dan kemudian memeluknya.
Meski mereka beralih keyakinan, tapi para mualaf dari warga keturunan ini tetap menjaga hubungan yang baik dengan saudara, keluarga, dan rekan bisnisnya. Bahkan hubungan mereka dirasakan lebih baik lagi.
Warga Tionghoa di DIY sendiri berjumlah sekitar 15.000 orang. Sekitar 700-an dari mereka memeluk Islam dan tergabung dalam Paguyuban Islam Tionghoa Indonesia atau PITI DIY. Organisasi ini pun berupaya memperkuat keimanan anggotanya yang mualaf. Bagaimana kiprahnya, berikut petikan wawancara KORAN SINDO YOGYAdengan Ketua PITI DIY DIY Lie Sioe Fen.
Belum banyak yang mengenal PITI. Bisa Ada jelaskan?
PITI merupakan organisasi masyarakat yang bergerak di bidang keagamaan. Di seluruh Indonesia sebenarnya ada. Di DIY sendiri berdiri sejak tahun 1980-an.
Kegiatannya apa saja?
Karena kami ormas keagamaan, maka kegiatannya tidak jauh dengan keagamaan. Antara lain pengajian yang digelar rutin tiap bulan, tempatnya bergantian di rumahrumah anggota. Jadi muter, tidak di satu tempat tok.
Maksudnya bergiliran tempat pengajiannya?
Ya. Kalau pengajian ke rumah warga. Agar warga sekitar tahu ada pengajian, tahu ada warga Tionghoa yang muslim. Pengajian diikuti sekitar 50 orang. Pengajian di rumah anggota banyak manfaatnya. Itu sekalian menitipkan warga yang anggota PITI kepada warga setempat, agar dikasih bimbingan tentang pengetahuan Islam. Orang PITI rumahnya terpencar- pencar, sehingga seminggu harus digelar pertemuan mendalami Islam barengbareng.
Di DIY berapa jumlah warga Tionghoa beragama Islam?
Jelas minoritas. Survei 2013 lalu, jumlah warga Tionghoa di DIY sekitar 15.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 700-an orang beragama Islam. Yang banyak adalah Buddha, Katholik, Konghucu, Tao.
Mereka memeluk Islam sejak lahir atau mualaf?
Mayoritas adalah mualaf, termasuk saya. Pak Budi (Budi Setyagraha, suami) juga mualaf. Ada juga karena perkawinan atau pengaruh lingkungan pribumi sekitar yang mayoritas muslim. Saya dan Pak Budi lebih dulu Pak Budi yang memeluk Islam. Dari dulu Pak Budi suka melihat masjid, senang mendengar azan. Awalnya Pak Budi setelah memeluk Islam, saya belum Islam.
Apa respons Anda mendapati suami mualaf?
Biasa saja. Dalam kehidupan sehari-hari normal, masih menjalankan kepercayaan masingmasing. Setelah Pak Budi menjadi Ketua PITI DIY, saya sering ikut mendampingi kegiatannya. Setelah itu, saya mendapat hidayah, memeluk Islam.
Lalu respons warga Tionghoa setelah suami atau Anda mualaf?
Banyak yang kaget, seakan tidak percaya. Kokbisa ya masuk Islam, mungkin mereka berpikir seperti itu. Tapi itu tidak merenggangkan hubungan apa pun. Relasi, keluarga, bisnis, tetap baik bahkan lebih baik.
Bagaimana menjaga hubungan dengan mereka tetap baik?
Kami, anggota PITI DIY harus bisa menempatkan perannya yang baik. Misalnya, kami masih sering diundang untuk kegiatan atau upacara kebudayaan. Kami tetap datang, tapi tidak menjalankan kebudayaan itu karena sudah berbeda keyakinan. Di sisi lain, kami juga harus bisa berbuat baik, menjadi contoh yang baik.
Ridwan anshori
Meski mereka beralih keyakinan, tapi para mualaf dari warga keturunan ini tetap menjaga hubungan yang baik dengan saudara, keluarga, dan rekan bisnisnya. Bahkan hubungan mereka dirasakan lebih baik lagi.
Warga Tionghoa di DIY sendiri berjumlah sekitar 15.000 orang. Sekitar 700-an dari mereka memeluk Islam dan tergabung dalam Paguyuban Islam Tionghoa Indonesia atau PITI DIY. Organisasi ini pun berupaya memperkuat keimanan anggotanya yang mualaf. Bagaimana kiprahnya, berikut petikan wawancara KORAN SINDO YOGYAdengan Ketua PITI DIY DIY Lie Sioe Fen.
Belum banyak yang mengenal PITI. Bisa Ada jelaskan?
PITI merupakan organisasi masyarakat yang bergerak di bidang keagamaan. Di seluruh Indonesia sebenarnya ada. Di DIY sendiri berdiri sejak tahun 1980-an.
Kegiatannya apa saja?
Karena kami ormas keagamaan, maka kegiatannya tidak jauh dengan keagamaan. Antara lain pengajian yang digelar rutin tiap bulan, tempatnya bergantian di rumahrumah anggota. Jadi muter, tidak di satu tempat tok.
Maksudnya bergiliran tempat pengajiannya?
Ya. Kalau pengajian ke rumah warga. Agar warga sekitar tahu ada pengajian, tahu ada warga Tionghoa yang muslim. Pengajian diikuti sekitar 50 orang. Pengajian di rumah anggota banyak manfaatnya. Itu sekalian menitipkan warga yang anggota PITI kepada warga setempat, agar dikasih bimbingan tentang pengetahuan Islam. Orang PITI rumahnya terpencar- pencar, sehingga seminggu harus digelar pertemuan mendalami Islam barengbareng.
Di DIY berapa jumlah warga Tionghoa beragama Islam?
Jelas minoritas. Survei 2013 lalu, jumlah warga Tionghoa di DIY sekitar 15.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 700-an orang beragama Islam. Yang banyak adalah Buddha, Katholik, Konghucu, Tao.
Mereka memeluk Islam sejak lahir atau mualaf?
Mayoritas adalah mualaf, termasuk saya. Pak Budi (Budi Setyagraha, suami) juga mualaf. Ada juga karena perkawinan atau pengaruh lingkungan pribumi sekitar yang mayoritas muslim. Saya dan Pak Budi lebih dulu Pak Budi yang memeluk Islam. Dari dulu Pak Budi suka melihat masjid, senang mendengar azan. Awalnya Pak Budi setelah memeluk Islam, saya belum Islam.
Apa respons Anda mendapati suami mualaf?
Biasa saja. Dalam kehidupan sehari-hari normal, masih menjalankan kepercayaan masingmasing. Setelah Pak Budi menjadi Ketua PITI DIY, saya sering ikut mendampingi kegiatannya. Setelah itu, saya mendapat hidayah, memeluk Islam.
Lalu respons warga Tionghoa setelah suami atau Anda mualaf?
Banyak yang kaget, seakan tidak percaya. Kokbisa ya masuk Islam, mungkin mereka berpikir seperti itu. Tapi itu tidak merenggangkan hubungan apa pun. Relasi, keluarga, bisnis, tetap baik bahkan lebih baik.
Bagaimana menjaga hubungan dengan mereka tetap baik?
Kami, anggota PITI DIY harus bisa menempatkan perannya yang baik. Misalnya, kami masih sering diundang untuk kegiatan atau upacara kebudayaan. Kami tetap datang, tapi tidak menjalankan kebudayaan itu karena sudah berbeda keyakinan. Di sisi lain, kami juga harus bisa berbuat baik, menjadi contoh yang baik.
Ridwan anshori
(ars)