Rela Tinggalkan Keraton untuk Rakyat dan Syiar Islam

Sabtu, 04 Juli 2015 - 11:33 WIB
Rela Tinggalkan Keraton untuk Rakyat dan Syiar Islam
Rela Tinggalkan Keraton untuk Rakyat dan Syiar Islam
A A A
UNGARAN - Sepi dan teduh, kesan tersebut muncul saat KORAN SINDO menginjakkan kaki di kompleks pemakaman yang berada di Dusun Krajan, RT 09/RW 02, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang kemarin.

Makam tersebut terlihat cukup bersih sehingga menghadirkan kesan nyaman bagi para peziarah yang datang. Dalam kompleks makam yang terdiri atas satu makam utama dan empat makam kecil tersebut terdapat jasad tokoh ulama Ki Ageng Cukil Wanakusuma. Kompleks makam tersebut berada di sebelah sumber air yang biasa digunakan warga sekitar untuk mandi dan mengambil air bersih.

Makam yang dipugar terakhir kali pada 2009 lalu itu berada di area lahan seluas 7 x 6 meter dan berada sedikit lebih tinggi dari bangunan-bangunan lainnya. Menurut salah seorang penjaga makam, Ahmad Soleh, 53, makam Ki Ageng Cukil sering didatangi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Ki Ageng Cukil merupakan sosok pejuang yang berasal dari daerah Tuluh Watu, Magelang. Dikisahkan Soleh, pada abad ke-18, sebelum sampai ke Desa Cukilan, Cukil muda banyak membantu masyarakat di daerahnya melawan penjajahan Belanda. Cukil juga sempat diangkat menjadi abdi dalem prajurit Keraton Yogyakarta sehingga namanya menjadi Cukil Wanakusuma.

Tak lama kemudian, Cukil meninggalkan pekerjaannya sebagai prajurit dengan alasan ingin berjuang membantu rakyat. Cukil tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.

“Ki Ageng Cukil berasal dari Magelang dan pernah menjadi prajurit di Yogyakarta. Karena kegelisahannya melihat penderitaan rakyat, Ki Ageng Cukil lantas meninggalkan Yogyakarta dan bergerilya menumpas Belanda bersama sejumlah pengikutnya. Selama bergerilya, beliau juga menyebarkan syiar agama Islam. Hingga akhirnya sampai di tempat ini (Cukilan),” papar Soleh.

Di tempat yang kini bernama Desa Cukilan inilah, Ki Ageng Cukil membuat pesanggrahan hingga akhirnya beliau wafat. Sebelum wafat, Ki Ageng Cukil mengumpulkan para pengikutnya untuk berunding mengenai kelanjutan perjuangan dan pemberian nama pesanggrahan tersebut. Atas usulan para pengikut, akhirnya diputuskan pesanggrahan yang mereka tempati tersebut diberi nama Cukilan.

Hingga kini masyarakat Desa Cukilan masih mengenang jasa Ki Ageng Cukil dengan melakukan tradisi Saparan. Saparan dilaksanakan saat haul Ki Ageng Cukil Wanakusuma yang jatuh pada bulan Safar. “Kalau hari biasa, memang satu dua pengunjung yang datang, itu pun tidak setiap hari. Baru ramai kalau pas ada tradisi saparan untuk mengenang haul Ki Ageng Cukil yang jatuh pada bulan Safar,” ungkapnya.

Soleh menjelaskan, dalam tradisi saparan tersebut dimulai dari perjalanan usung usungan rangkaian sesaji (dhondhang ) dari jarak 1 kilometer menuju ke kompleks Makam Ki Ageng Cukil. Pada barisan paling depan biasanya diawali dengan sepuluh warga yang berpakaian menyerupai prajurit Wonokusuman.

Selama perjalanan biasanya jumlah dhondhang makin bertambah banyak karena warga setempat yang sudah mempersiapkan dhondang ikut bergabung begitu iring-iringan persis di depan rumah mereka. Salah satu makanan yang tak pernah ketinggalan adalah ingkung (ayam yang dimasak untuk selamatan).

“Tradisi ini sudah berlangsung lama dan baru beberapa tahun belakangan dikemas dengan acara yang lebih menarik dengan menampilkan hiburan rakyat. Banyak pendatang dari luar daerah yang secara rutin mengikuti tradisi ini,” pungkasnya.

Angga Rosa
(ftr)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
berita/ rendering in 0.6830 seconds (0.1#10.140)